Restoran Hantu

Restoran Hantu
Kematian Aneh Robert


__ADS_3

"Masa sih? Soalnya aku belum terlalu mengenal dia, jadi tak ingat," kata Rey terus mengamati.


"Jangan dilihat, Rey. Kita selidiki semampu kita, biar dia gak merengek minta ditolong seperti yang lainnya," seru Yumna menaruh tangan kanannya tepat di muka Reyhan.


"Waduh, kamu habis pegang sambel? Pedes ini!" Rey mengusap kasar wajahnya yang terasa panas.


"Eh, maaf. Iya ini, mie baksonya baru datang langsung ku tuang sambelnya. Trus lihat kamu terus mengamati dia, gak sadar aku usap ke kamu," cengir Yumna merqsa bersalah.


"Kenapa gak bilang kalau sudah datang?"


"Maaf, soalnya kamu lihatnya terlalu serius. Sini, aku lap pakai tisu basah."


Yumna mengambil tisu dari tas sekolahnya, dan mengelap wajah tampan Rey yang semakin mempesona di hadapannya. Tisu pun mulai di arahkan dari kening hingga daerah sekitar dagu. Dan tak terasa, Rey pun ikut mengamati ketulusan Yumna yang hanya berjarak beberapa senti di depan wajahnya.


"Eee...eehm...., maaf Mas, Mbak. Ini pesanan jeruk nipis tambahannya," ucap salah satu penjual lainnya yang datang mengagetkan mereka.


"Oh, iya. Terima kasih!" kata Rey dan Yumna bersama yang sempat kikuk, kemudian tertawa atas kebodohan mereka.


"Ayo, kita makan dulu saja. Besok kita selidiki lagi kalau sekolah sudah masuk saja!" kata Yumna melahap lebih dulu setelah berdoa.


"Lhah, laper apa doyan sih?"


"Enak, Rey. Boleh nambah ya? Sekalian bungkus buat nenek, tapi tanpa bakso pedas. Boleh nggak?" tanya Yumna dengan muka bercucur keringat karena terlalu banyak menuang sambal dimangkoknya, sambil menatap Rey dengan raut memelas.


"Boleh bangetlah, kalau mau aku borong termasuk gerobaknya."


"Cieeehh.... Co cwiiit! Makasih Rey," kata Yumna sambil menunjukkan jari tanda cinta menirukan film romantis di smartphone miliknya.


"Apaan sih maksudnya? Mau minta duit?"


"Waduh, nih anak kudet juga ternyata. Keseringan ngurusin para hantu soalnya ya? Terserah, yang penting nenek Kip bisa incip mie ayam bakso yang enak ini."


"Hubungannya sama cwit-cwit apa? Ayam maksudnya?" tanya Rey masih penasaran.

__ADS_1


"Rey, trimakasih ya karena kamu sudah turutin mauku buat bungkusin nenek juga. Dah, itu maksudku tadi," jawab Yumna menjelaskan dengan ekspresi kepedasan.


"Siapa bilang aku nurutin kamu. Aku dari awal sudah niat mau bungkusin buat nenek, sekalian bu Nuri sama suaminya yang baik hati itu."


Jawaban Rey membuat wajah putih Yumna bersemu merah karena menahan malu, bercampur panas karena zat capsaicin yang mulai menjalar.


"Kamu kenapa? Malu?" tanya Rey dengan polosnya.


"Sudah, ayo makan saja. Nih aku sudah mau habis!"


Seporsi mie ayam sudah hampir masuk semua ke perut Yumna. Sedangkan Rey belum sempat menikmatinya.


"Laper?"


"Ssssttt..... Makan jangan bersuara. Tuh jadi lama kan makannya!" sahut Yumna sudah tak ingin melanjutkan percakapan.


****


Seminggu berlalu, sampai tibalah hari masuk sekolah tiba. Para murid sudah mulai bergosip tentang informasi baru yang belum diketahui oleh semuanya.


"Memang ada apa?" tanya Yumna yang masih belum mendengar informasi apapun dari teman lainnya.


"Kemarin ada beberapa anak yang diintrogasi polisi selama seminggu. Kasian lo, kita liburan senang-senang malah mereka bolak balik ke kantor polisi buat beri keterangan."


"Lalu?"


"Ya tolong tanyakan ke kak Robert, dia itu sebenarnya dibunuh atau bunuh diri sih? Kalau dibunuh, siapa pembunuhnya gitu!"


"Kak Robert lagi gak di sekitar sini. Coba nanti aku cari lagi. Memang ada informasi apa yang kamu tahu?"


"Katanya, hasil sementara dinyatakan bunuh diri. Soalnya sempat ditemukan surat dalam bahasa asing yang intinya dia minta maaf pada semua orang. Tapi cuma sebaris aja kata-katanya, dan menurut polisi ada sedikit kejanggalan dari tulisannya yang sepertinya sengaja dibuat mirip dengan tulisannya. "


" Ya, mungkin saja nulisnya dalam keadaan tertekan. Jadi model tulisannya sedikit berbeda dari biasanya, " jawab Rey yang berusaha berpikir positif untuk tak menuduh dulu.

__ADS_1


" Tapi, anehnya lagi ada banyak batu yang sengaja diletakkan di tas yang digendongnya. Dan itu mengakibatkan dia tenggelam karena sulit buat mengapungkan badan. Aneh kan! Belum lagi dari hasil pemeriksaan forensik, katanya kak Robert meninggal setelah tenggelam. Bukan sebelumnya," kata Mifta lagi.


"Kamu lengkap banget infonya? Tau dari mana?" tanyaku semakin heran.


"Ssstt.... Jadi ada salah satu polisi yang menangani, itu adalah kakak sepupuku sendiri. Dia lagi pusing mikirin kasus ini yang belum terlihat titik terangnya. Makanya, aku diminta cari info juga barangkali ada petunjuk baru dari teman-teman yang dekat dengan kak Robert."


" Bilang aja gak tahu. Mungkin memang dia sengaja mengakhiri hidupnya sendiri. Buktinya dia meninggal setelah tenggelam kan? Bukan sebelumnya? Mungkin dia sengaja memasukkan batu itu, supaya memudahkan dia juga agar tak cepat naik ke permukaan sungai, " jawaban asal Rey tanpa mau pikir panjang.


" Belum pasti, Rey. Lagian, aneh banget dia sengaja menceburkan diri ke sungai. Diakan baru menang lomba cerdas cermat antar daerah," sahut Yumna mencoba berpikir keras.


" Iya, aku yakin dia itu sengaja ditenggelamkan. Kata kakak sepupuku, ada bekas tergores di sepatu dan sedikit di lengannya juga. Ada bekas memar di dahinya juga yang sebenarnya bukan merupakan penyebab kematian."


" Mungkin dia lagi bertengkar dengan pacar atau temannya. Trus karena gak tahan sama ejekannya, dia coba mengakhiri hidupnya dengan cara lain tapi tak berhasil. Malah cuma ninggalin bekas goresan saja di sepatu dan lengannya. Trus nyemplung deh ke sungai yang kebetulan airnya lagi naik karena hujan beberapa hari ini," jawab Rey lagi.


" Masuk akal juga sih. Tapi aku yakin tidak seperti itu, karena kita sempat melihat...eemmph!"


Ucapan Yumna terputus saat Rey membungkam mulutnya dengan cepat.


" Melihat apa, Yumna? Ayo cerita! "ucap Mifta mulai tak sabar.


" Sebaiknya kita cari dulu arwahnya buat ditanya kejelasannya. Nanti kita akan menyampaikan ke sepupu kamu kalau sudah menemukan buktinya, " jawab Yumna mengikuti kemauan Rey untuk tak mengungkapnya terlebih dahulu.


" Yaaahhh, gak apa-apa deh. Yang penting kita bisa cepat temukan pelaku sebenarnya. Biar gak ada korban selanjutnya, " ucapan Mifta diiringi bel sekolah tanda masuk tiba.


Sore hari sepulang sekolah, Yumna mengajak Rey untuk ke kedai mie ayam yang pernah dilihatnya Robert di sana.


" Kamu mau traktir atau ditraktir? " tanya Rey menggoda Yumna.


" Maunya sih ditraktir. Tapi kalau terpaksa, gak apa-apalah sekali-kali aku yang bayar!"


"Bolehlah, sekali-kali dibayari sama kamu!"


"Beres, Bos! Asal gak minta nambah aja, he......"

__ADS_1


Mereka meluncur menuju tempat tujuan. Sambil celingukan, mencari penjual yang kemarin sempat diiikuti oleh sosok mirip dengan korban tenggelam di sungai belakang sekolahan.


__ADS_2