Restoran Hantu

Restoran Hantu
Kedekatan Rey dan Yumna


__ADS_3

Tengah malam, Yumna berusaha menepati janjinya pada Om Barjo untuk mengadakan pesta di restoran hantu milik Rey. Masih dengan mengendap dari sepengetahuan neneknya sendiri, setelah pulang sebentar agar neneknya tak khawatir menunggunya yang belum pulang semenjak sekolah dari siang.


Meski sebelumnya sempat ditanya apa yang dia lakukan hingga pulang larut malam bersama Rey, Yumna hanya berjanji untuk bercerita keesokan harinya saja.


Pagi ini dia sedikit terlambat untuk bangun dengan sendirinya karena terlalu lelah. Pintu kamarnya masih tertutup rapat meski matahari sudah mulai tinggi.


Sedangkan nenek Kip juga tak tega membangunkan tidur lelapnya. Padahal mereka memiliki janji pada Novi untuk membantu kepindahannya hari ini.


"Pagi, Nek! Yumna ada?" tanya Rey sudah tiba di depan pintu rumah Yumna pagi sekali.


"Tumben hari libur sudah ke sini? Sepertinya dia terlalu lelah. Memangnya kalian kemarin malam dari mana?"


" Lhoh, Yumna belum cerita? "


" Ya belum, makanya nenek tanya ke kamu! " sungut nenek gemas mendengar jawaban Rey.


"Maaf, Nek. Sini duduk dulu, biar lebih mudah ceritanya."


Rey menggeret sebuah kursi, kemudian mulai menceritakan pengalaman anehnya kemarin malam. Nek Kip sempat terkejut, karena untung saja mereka bisa selamat sampai pulang ke rumahnya.


Karena terkadang makhluk seperti itu bisa membawa mereka ke alamnya tanpa mau mengembalikan lagi yang sudah di dapatkannya.


"Nenek tahu tentang makhluk seperti itu?" tanya Rey sedikit heran.


"Ya tau. Dulu di sekitar sini juga ada yang memelihara makhluk seperti itu. Dia dan keluarganya tak pernah terlihat tua sedikitpun dengan banyak harta yang melimpah seperti tak ada habisnya."


"Trus, apa yang terjadi dengan mereka sekarang?"


"Panjang kalau diceritakan! Itu juga kejadian puluhan tahun yang lalu saat nenek masih kecil," sahut nek Kip tersenyum melihat rasa penasaran Rey yang mulai meninggi.


"Ayo, Nek. Tolong diceritakan!" rengek Rey.


"Brisik banget, pagi-pagi dah ke sini. Bukannya sekarang hari libur?" sahut Yumna yang baru bangun dan belum mencuci muka juga, keluar untuk menemui Rey di teras rumahnya.


"Ya ampun, anak gadis baru melek. Jam berapa ini???" tanya Rey mengejek.


"Mumpung libur jadi aku enakkin aja tidur. Memangnya kamu ngapain sih kemari?" tanya Yumna sambil mengucek matanya.


"Kamu lupa? Hari ini kita ada janji sama Novi untuk bantu pindah rumah?"


"Ya ampun! Kenapa gak bangunin aku dari tadi? Ya sudah, aku mandi sebentar!"


Yumna segera berlarintanpa memperdulikan ucapan Rey lagi. Tak membutuhkan waktu lama untuknya mempersiapkan diri sebelum menemui Rey dan neneknya di teras depan rumahnya.


"Ayo!" ucap Yumna mulai semangat.


"Mau kemana lagi? Masak hari minggu juga nenek harus sendiri lagi?" tanya nek Kip memandang Yumna yang sudah memakai baju rapi lengkap dengan sepatu kets dan tas cangklong kecil yang senada dengan bajunya.

__ADS_1


"Mau bantu teman pindah rumah nek. Waduh, Yumna sudah terlanjut janji soalnya. Maaf ya, Nek!" jawab Yumna dengan berat hati.


"Iya, kalian jalan-jalan saja. Nanti nenek biar main ke rumah saya," ucap bu Nuri yang baru datang dengan menjadi penyelamat bagi Yumna.


"Yumna gak makan dulu?" tanya nenek Kip.


"Nih, saya bawakan soto juga. Ayo sarapan dulu," ajak Bu Nuri.


"Trimakasih, tapi ini sudah terlalu siang. Nanti kita makan di jalan aja ya Rey?"


"Siap! Kalau begitu kita permisi dulu," sahut Rey pamit.


"Iya, hati-hati. Pulangnya juga jangan sampai malam ya!"


"Iya, Nek. Trimakasih bu Nuri," jawab Yumna disambut senyum hangat kedua orangtua di depannya.


"Tapi kamu yang bayar ya, Rey!" bisik Yumna setelah mereka masuk ke dalam mobil mewah di depan rumah.


"Hehhh.... Kebiasaan, ajak-ajak tapi ujungnya minta traktir juga," sahut Rey tersenyum mengejek.


"Okey, kalau kamu gak malu nanti aku yang bayar!"


Yumna berpura-pura menantang Rey, tapi ternyata disetujui olehnya juga.


"Bener mau traktir aku? Tapi aku gak bisa makan di pinggir jalan ya," goda Rey semakin membuat Yumna khawatir akan isi dompetnya.


"Ehmmm.... Gak usah sarapan juga gak apa-apalah, daripada bikin dompetku sepi."


"Eh, kamu bawa foto yang kemarin tidak?" tanya Rey mengingatkan.


"Iya, aku taruh di dalam tas. Memang kenapa?"


"Nggak apa-apa. Aku penasaran aja, memang siapa pimilik rumah sakit itu sebelumnya. Barang kali aku mengenalnya," jawab Rey masih fokus menyetir ke arah jalan raya.


"Sok kenal sama semua orang aja!"


"Ya kan biasanya papaku juga sering bisnis dengan rumah sakit, buat ngurusin pembangunannya. Barangkali aja pernah ketemu orangnya."


"Nanti aja ya, kalau kita sampai ke rumah mbak Novi biar jelas lihatnya."


Rey tak menjawab, malah menepikan mobilnya ke arah drive thru sebuah restoran makanan cepat saji ternama.


"Rey, ngapain antri di sini? Kan tadi aku bilang gak jadi ajak kamu makan!" sahut Yumna mulai cemas, karena satu porsi di tempat ini sama dengan jatah jajan seminggu untuknya.


Tanpa menjawab, Rey sudah membeli beberapa paket makanan untuk dibawanya dan segera membayar semuanya.


" Lhoh, kamu beli buat siapa banyak banget? Trus, itu juga kamu bayar berarti kamu yang traktir aku?"

__ADS_1


"Enak aja, jangan GR deh!"


"Trus? Buat siapa? Cewek atau cowok?"


"Ihh.... Cemburu ya? Ya pasti ceweklah, gitu aja pakai tanya."


"Kalau bukan aku, siapa ceweknya?"


"Sebentar lagi juga sampai. Tuh, gang rumahnya sudah kelihatan."


"Ohh... Mbak Novi? Ya sudah ayolah, tapi ada bagianku tidak he...he......," sahut Yumna meringis.


"Ini, satu buat calon ibu dari anak-anakku," kata Rey menghentikan mobilnya dan memberikan sepaket makanan pada Yumna.


Yumna tak membalas ledekan Rey seperti biasa, karena dia sedikit terpesona mendengar ucapan Rey baru saja.


"Hei, ayo turun!" ucap Rey mengagetkan Yumna.


"Eh, iya ayo. Makasih ya Rey!"


"Gak usah norak, ditraktir makanan gitu aja sudah bilang makasih segala. Kayak sama siapa aja!"


"Makasih karena sudah menganggapku bagian dari masa depanmu," ucap Yumna membuat Rey diam memandang ke arahnya.


Mata saling memandang, tak terasa getaran di dada mereka berderu begitu kencang. Membuat jarak antara mereka semakin dekat, dan trus mendekat dengan perlahan.


'Tok... Tok... Tok....'


Suara ketukan jendela kaca mobil membuyarkan semua pikiran.


"Eh, mbak Novi. Ayo kita turun!" jawab Yumna malu karena hampir saja kelepasan saling menempelkan bibir mereka.


"Kirain gak jadi datang. Ini sudah siap semuanya, tinggal berangkat aja!" ucap Novi saat kaca mobil mulai terbuka.


"Oh, kamu sudah sarapan belum?" tanya Yumna.


"Belum, nanti aja sekalian mampir di jalan."


"Ini Rey sudah bawa. Sebaiknya kita makan dulu ya," ajak Yumna memberikan semua paket sarapan selain punya dia dan Rey saja.


"Banyak banget?"


"Nanti sisanya bagi ke pengemudi angkot di depan sana!" jawab Rey singkat.


"Aaaahh, baik banget sih kamu ternyata Rey? Sayangnya sudah nempel sama Yumna," jawab Novi.


Sembari makan siang bersama, Yumna mengeluarkan foto dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Ini, Rey fotonya. Kalau dilihat-lihat sih, sebenarnya aku gak asing juga sama wajah kedua anak kecil itu. Tapi siapa ya?" tanya Yumna menunjuk tepat di gambar yang menunjukkan foto keluarga.


"Robert? Itu foto keluarga Robert!" sahut Novi yang ikut mengamati.


__ADS_2