
"Mana aku tahu? Aku kan baru setengah hari ada di sekolah ini. Jadi belum hafal penduduk tak kasat mata di sini," seru Rey mengangkat bahu sambil memesan makan siangnya dan juga Yumna.
"Kalau candy ghost alias si Poci, tuh yang sering kumpul di pohon pisang belakang kantin itu sih memang sudah biasa. Noh, hole lady alias si mbak yang punggungnya ada lubangnya dan banyak keluarin belatung, juga sering nangkring di atas pohon mangga. Tapi kalau dia, aku baru lihat."
"Kita duduk di sini saja, coba konsentrasi buat ajak dia ngobrol dari hati. Bisa kan?"
"Okey, aku coba dulu."
Yumna mencoba fokus memikirkan hantu berlumuran darah itu, sambil memejamkan matanya. Sedangkan Rey hanya mengawasinya sambil menikmati waktu istirahatnya.
"Kamu siapa? Kenapa ikutin Bu Reni?" kata Yumna dalam hati.
"Kamu bisa melihatku? Aku Leila, tolong....tolong sampaikan pada ibuku kalau aku sangat menyayanginya."
"Ibumu? Maksudnya bu Reni?"
"Iya, ibuku belum menemukan keberadaanku. Aku disekap oleh ayah tiriku di ruang bawah tanah rumah kami. Tapi, ayahku sedang ke luar kota setelah menyiksaku karena aku selalu menentangnya. Sampai dia lupa kalau aku tak dikasih makan olehnya, dengan pintu ruang bawah tanah yang tertutup rapat."
Leila menunduk sedih, dia berharap ibunya segera menyadari perilaku kejam ayah tirinya yang hanya memanfaatkan harta keluarganya. Slide demi slide kejadian terlintas di pikiran Yumna.
Nampak ayah tirinya sedang menyeret Leila ke ruang bawah tanah, sekaligus ruang kerja ayahnya, saat ibunya pergi belanja. Tak ada seorangpun yang tahu, bahwa disamping ruang kerja itu ada ruang rahasia yang hanya bisa dibuka oleh pemiliknya.
Kemudian Leila dipaksa menulis surat, yang menyatakan bahwa dia sengaja pergi dari rumah untuk mendapatkan ketenangan hidupnya. Dia yang selalu melawan setelah pernikahan baru ibunya, membuat semua orang mempercayai isi dari surat itu.
Ayah tirinya mengurung, menyiksanya, sampai ditinggalkan ke luar kota untuk mengurus warisan peninggalan ayah kandungnya. Leila masih berlumuran darah, ditambah kelaparan, sampai dia kehabisan tenaganya untuk terus melanjutkan hidupnya.
"Kejam!!!" teriak Yumna mulai membuka mata, sambil tak sengaja menggebrak meja.
"Apaan sih? Biasa saja dong, untung gak ada yang jantungan!" sahut Rey memandang di sekeliling rungan kantin, dengan semua mata menuju ke arah mereka.
"Maaf, ya. Mohon maaf, silahkan dilanjutkan!"
Yumna beranjak berdiri, dan menggandeng tangan Rey untuk segera meninggalkan tempat duduk mereka.
"Masih laper, kita makan dulu ya!"
"Oke, kita bungkus saja biar bisa cepat pergi dari sini. Ayo!" ajak Yumna.
__ADS_1
Yumna meminta pelayan kantin untuk membungkus pesanannya, kemudian meminta ijin bu Reni agar menunggu dia sepulang sekolah nanti.
"Tapi, Nak. Maaf, bukannya ibu tak mau. Tapi ada urusan yang harus ibu segera lakukan," kata bu Reni menolak.
"Mohon maaf sekali lagi, Bu. Saya cuma ingin menyampaikan pesan Leila," jawab Yumna yang membuat wajah bu Reni mulai terlihat sedih.
"Leila? Kamu kenal? Dimana dia sekarang?"
"Nanti saja sepulang sekolah akan saya jelaskan, supaya lebih banyak waktu longgar. Saya permisi dulu, Bu!" pamit Yumna setelah menerima pesanan makanan dari pegawai bu Reni.
"Memangnya apa hasil komunikasimu dengan wanita berlumuran darah itu?" tanya Rey saat mereka sedang menikmati istirahat siang di bangku taman sekolah.
Yumna menceritakan semuanya. Dia juga bercerita tentang kebingungannya untuk mengatakannya langsung pada bu Reni sepulang sekolah nanti.
"Baiklah, nanti aku temenin. Sekarang makan, keburu tambah kurus nanti!" kata Rey mencoba bercanda.
"Aku gak nafsu makan sama sekali. Rasanya ikutan sedih merasakan penderitaan Leila. Nih biar dimakan Handi aja."
"Tuh badan sudah kayak orang-orangan sawah, masih aja susah buat makan. Lagian, ngapain mikirin adeknya Meyta. Mangap aja kalau gitu! Haaaa.....," Rey menyuapi Yumna dengan paksa, tapi tak disangka ada mata tak suka yang melihat kedekatan mereka.
"Aaww!" teriak Martha saat merasa ada sesuatu yang memukul kepalanya.
Yumna segera menoleh dan menyadari keberadaan Meyta di sana.
"Mbak Meyta, pliss jangan iseng kalau mau ada di sini!" kata Yumna dalam hati agar tak seorangpun merasa curiga.
"Dari tadi dia terus awasin kamu sama Rey, aku gak suka!"
"Lagian ngapain ada di sini sih, bukannya bantuin mbak Shema beresin dan jagain restoran!"
"Beres, aku cuma pengen lihat adekku sebentar. Tapi malah lihat dia juga, dari tadi ngomel sendiri setelah lihat kamu sama Rey mesra pake suap-suapan di taman sekolah," goda Meyta.
"Sudah, pergi sana!" seru Rey dalam hati sebelum Meyta keceplosan lebih jauh lagi.
"Siap, Bos. Jagain Handi ya," kata Meyta mengerlingkan sebelah matanya.
"Enak aja, masa bos disuruh jaga anak orang. Lagin juga dia udah gedhe, ngapain harus dijaga!" gerutu Rey sendiri setelah kepergian Meyta.
__ADS_1
"Sabar, Rey. Sabar!" ucap Yumna sambil tak sadar mengelus punggung Rey yang semakin membuat Martha panas hatinya.
Sepulang sekolah, Yumna menunggu sembari membantu bu Reni yang sedang membereskan sisa dagangannya. Dia pun meminta ijin untuk mengikuti bu Reni pulang ke rumahnya setelah selesai semuanya.
Sesampainya di rumah, bu Reni mempersilahkan Yumna untuk menceritakan apa maksudnya.
"Apa suami ibu masih di luar kota?" tanya Yumna sebelumnya.
"Iya, saya cuma di rumah sama kakaknya Leila. Memang kenapa ya?"
"Boleh kakaknya Leila ikut di sini?" ajak Yumna agar bisa menenangkan ibunya nanti.
Tak lama keluarlah Reina, setelah panggilan untuknya dari ibu Leila.
"Ya, Bu?" tanya wanita yang mungkin baru saja pulang dari kerjanya karena masih menggunakan seragam khas sebuah perusahaan ternama.
"Duduk sini, Nak!"
Tak banyak bicara, Reina segera duduk di samping ibunya. Sepertinya dia merupakan anak yang selalu patuh tanpa perlawanan, pada semua perintah ibunya.
Yumna mulai menceritakan semuanya. Dia bilang kalau dia bermimpi tentang Leila, agar bu Reni maupun keluarga yang lainnya tak menyebarkan tentang keahliannya saat mendengarkan penuturannya.
"Mungkin itu cuma mimpi kamu. Tak mungkin kalau Leila masih ada di rumah ini, dengan kondisi seperti itu," jawab bu Reni tak mempercayai.
Yumna terus meyakinkannya, agar mengecek dulu kebenarannya selagi suaminya tak ada di rumah.
"Kita coba dulu saja, Bu. Semoga mimpinya tidak benar. Tapi, kenapa dia bisa tahu semua cerita Leila kalau dia tak pernah kenal sebelumnya?" sahut Reina mulai ikut bicara.
"Baiklah, kita coba dobrak saja. Kalau memang ada ruang rahasia di sana!"
Mereka berempat turun ke ruang bawah tanah, mencoba percaya sementara akan cerita Yumna. Ruangan itu dipenuh dengan perkakas, dan lemari alat yang berjajar beraturan.
"Nih, lihat! Mana ruang rahasianya?" tanya bu Reni mulai melihat sinis terhadap Yumna.
"Tapi, Bu. Kok ada bau busuk kayak bangkai ya?" sahut Reina.
"Mungkin ada tikus mati di sini! Ayo, kita naik saja sebelum ayahmu pulang. Nanti dia bisa marah kalau tahu kita ada di sini! Yumna, kamu juga sebaiknya pergi dari rumah saya sebelum saya mengusir paksa!"
__ADS_1