Restoran Hantu

Restoran Hantu
Rumah Baru Penuh Misteri


__ADS_3

"Darah dagingnya sendiri? Maksudnya?" tanya Yumna tak mengerti.


"DIA JAHAATT!!!" teriak Diana menggema di seluruh ruangan membuat Rey dan Yumna menutup telinga sambil memejamkan mata.


Tangisan anak-anak kecil mengiringi suara yang memekakan telinga. Kaca-kaca jendela di ruangan itu sampai pecah berkeping-keping tanpa sebab yang jelas.


"Rey, Yumna? Keluarlah!" teriak Novi dan tantenya dari luar rumah saat melihat melihat pecahan kaca yang tiba-tiba.


Mereka bertiga terlalu takut, dan memilih untuk bersembunyi di balik pohon pohon mangga yang terdapat di depan rumahnya.


"Mas Rey! Apa saya harus masuk ya, buat mencari mereka di dalam?" ucap pak sopir ikut khawatir.


"Bapak berani?" tanya Novi tak yakin.


"Yaaa..... Kalau ditemeni sih berani, itupun sambil tutup mata kayaknya!" jawab pak sopir sambil menggaruk kepalanya.


Mereka bertiga berdiskusi sejenak untuk mengambil keputusan selanjutnya. Memikirkan keselamatan Rey dan Yumna yang masih terjebak di dalam sana.


Sementara di dalam rumah justru tak mengkhawatirkan, seperti apa yang mereka perkirakan. Yumna dan Rey memutuskan keluar rumah, karena sudah tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di dalam. Berkali-kali panggilan untuk Diana sudah tak lagi ada jawaban.


" Lhoh, Rey! Kemana orang-orang yang punya rumah ini? Kok kita ditinggal sendiri?" tanya Yumna bingung saat berada di depan teras rumah lagi.


"Sssttt.... Tuh mereka lagi ngobrol di belakang pohon!" tunjuk Rey.


Rey menggandeng tangan Yumna, dan berjalan pelan memutar agar tak diketahui oleh mereka bertiga.


"Mau ngapain?"


"Sssttt.... Diam saja!"


Sepertinya pikiran iseng Rey mulai menjalar di kepalanya. Sambil meringis, dia terus berjalan dan berjalan mendekati mereka yang sepertinya sedang serius memikirkan cara penyelamatan.


"BOOOOMMM......," teriak Rey di sebelah Novi, dan berhasil mengagetkan mereka semua.


"REY!!!!!" teriak Novi dan Yumna bersama.


"Haduh, tante sampai kaget. Kirain itu bukan kalian."


"Maksudnya, dikira hantu gitu?" tanya Novi mulai cekikikan mengejek keduanya.


"Hee..... Soalnya tante kira mereka kenapa-kenapa di dalam sana," jawab tante Novi dengan polosnya.

__ADS_1


"Mas, tadi di dalam ada apa? Kenapa kacanya pecah semua?"


Pak sopir mulai penasaran, dan menunjukkan ekspresi serius pada wajahnya.


"Kita boleh sambil lanjut makan lagi nggak?" tanya Yumna meringis sedikit malu tapi juga mau.


"Ya ampun, nih anak cantik-cantik doyan makan juga ternyata!" jawab Rey membuat tawa semuanya.


Mereka kembali ke teras, meski masih ada rasa takut dari ketiganya. Novi memberanikan diri menutup pintu rumah, agar tak melihat apapun yang ada di dalamnya.


"Aku tadi belum nyoba donatnya kan? Rey, bisa tolong ambilkan?" tanya Yumna mulai berselera makan lagi.


"Iya, sayang. Waduh keceplosan, maaf!"


"Eheemm.... Memang kalau orang kasmaran itu serasa milik berdua saja ya. Ha.... Haa.... Haaa......," sahut pak sopir membuat tawa semuanya, dan berhasil membuat mereka lebih tenang daripada sebelumnya.


"Tante, Yumna boleh tanya tentang pemilik rumah ini sebelumnya?" tanya Yumna masih mencomot bolu di hadapannya lagi.


"Boleh, tapi tante tak seberapa dekat dengan mereka. Kalau lebih jelasnya, tanya ke paman Novi saja nanti. Beliau lebih sering ngobrol sama suaminya."


"Oh, jadi gitu! Yang tante tahu saja kalau begitu," ucap Yumna lagi.


"Lalu tante tahu tidak, mereka pindah kemana? Apa istrinya juga diajak pindah?" ganti Rey yang bertanya selanjutnya.


"Kalau itu, tante kurang tahu jelasnya seperti apa. Soalnya tante tak tahu langsung perginya kapan."


"Lha memang perginya sendiri-sendiri gitu?" tanya Rey lagi.


"Kata suaminya saat ke rumah tante untuk membicarakan pembelian rumah ini, istrinya sudah pulang ke negaranya bersama kedua anaknya. Dan dia ingin segera menyusul setelah rumahnya terjual berapapun harganya."


"Ooo.... Pantesan harganya murah. Karena dia mau pindah ke luar negri ternyata!" sahut Novi.


"Aku rasa bukan karena itu. Tapi karena sosok istrinya yang masih bergentayangan ingin membalas dendam di rumah ini," sahut Yumna sambil mengunyah kue lagi.


Meski tak seberapa jelas, tapi mereka semua mendengarnya setengah tak percaya.


"Kamu beneran? Yakin kalau itu benar-benar istrinya pak Maman?" tanya Novi terbelalak.


"Rey, coba kamu sebutkan ciri-ciri wanita itu. Biar dicocokkan sama istri pak Maman oleh tante kak Novi."


"Kulitnya putih, badannya kurus, rambutnya panjang sebahu, berwarna coklat, kepalanya terputus dan bisa menggelinding seenaknya, dari lehernya banyak darah yang mengucur dari bekas potongannya, trus......." jawab Rey terputus karena ditahan Yumna.

__ADS_1


"Sstoopp!"


"Kenapa? Tadi katanya suruh sebutin ciri-ciri hantu di dalam?" tanya Rey dengan polosnya ikut mengambil sebuah kue dihadapannya.


"Kalau disebutin bagian perwujudannya yang sekarang mana tante tahu?" seru Yumna menggeleng-gelengkan kepala.


"Kalau dari ciri kulit, badan, dan rambutnya sepertinya memang seperti ciri-ciri istri pak Maman. Tapi apa iya dia seperti itu sekarang? Semoga saja dia memang sudah kembali ke negaranya lagi."


Tante Novi terlihat cemas setelah mendengar pertanyaan Yumna. Meski dalam ucapannya terlihat tenang baik-baik saja.


" Apa tante pernah melihat ada hal aneh sebelum kepergian mereka? " tanya Yumna sedikit aneh melihat kecemasan itu.


" Tante tak yakin itu ada hubungannya atau tidak. Tapi sekitar seminggu sebelum hilangnya istri pak Maman, mereka berdua sering terdengar bertengkar meski dalam bahasa yang tak kami mengerti. Ibu-ibu di sini juga jadi ngomongin, karena kepindahan mereka yang tiba-tiba, tanpa ada pamit dari Diana pada para tetangga. "


'DUKK.... BRUKKK.....'


Mulai terdengar suara gaduh dari dalam rumah,yang sempat membuat gentar ketiga orang yang tak bisa melihat sosok Diana.


" Iya, benar namanya Diana. Apa anaknya bernama Brenda dan Naura?" tanya Yumna lagi tanpa mengindahkan suara itu.


" Astaga, darimana kami tahu? Ya ampun, apa benar mereka seperti itu?"


Tante Novi sempat berusaha tak percaya sebelumnya. Tapi setelah Yumna menyebutkan nama yang benar, membuat dia mulai gemetar.


Masih dalam obrolan serius mereka, paman dan ayah Novi sudah datang dari kantor desa setempat.


" Pak, bapak tahu pak Maman kemana?" tanya tante Novi langsung beranjak mendekati suaminya.


"Maksudnya apa sih, Bu? Kan kata pak Maman istrinya kempali ke negaranya! Trus kenapa tiba-tiba tanya gitu lagi?"


"Ayah, Novi takut kalau kita tinggal di rumah ini! Sebelum hantu itu disuruh pergi," timpal Novi memeluk erat tubuh ayahnya yang baru turun dadi sepeda motor pamannya.


"Ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa jadi ngomongin pak Maman sama hantu? Memang apa yang terjadi di rumah ini?"


"Ada hantu istrinya pak Maman, Yah!" sahut Novi.


"Huuss, gak boleh ngomong gitu. Mungkin kucing atau hewan apa yang lagi lewat. Istri pak Maman sudah kembali ke kampungnya!" sahut paman Novi masih tak percaya.


"Ini rumahku, hik...hik......"


Terdengar lagi suara tangisan seorang wanita dari dalam rumah misteri, yang sempat di dengar oleh semuanya tanpa terkecuali.

__ADS_1


__ADS_2