
Rey dengan sigap menangkap lengan Ravon sebelum belati itu merobek perutnya. Dia nekat melawan tanpa senjata yang seimbang, hingga lengan kirinya ikut terkena sedikit sabetannya.
Goresan lukanya mulai mengeluarkan darah merah segar yang menetes di pisau lipat Ravon. Tapi usaha Rey tak sia-sia, karena akhirnya dia berhasil juga menjatuhkan benda tajam itu.
"Anak ingusan berani juga kau rupanya!" sahut Ravon geram mencoba melepaskan genggaman tangan Rey kuat pada lengannya.
"ANGKAT TANGAN!" suara polisi mulai berdatangan.
"Kurang ajar, kenapa mereka bisa ada di sini!"
Ravon mengibaskan tangan Rey yang mulai lengah saat memandang kedatangan para polisi. Kemudian berlari tak tentu arah sampai tak sengaja menabrak Mifta hingga tersungkur ke lantai dan kepalanya terbentur meja ruang tamu. Dia terus mencoba melarikan diri, menjuhi polisi untuk mencari jalan keluar menuju pintu belakang rumah ini.
'DOOOORRRR......'
Satu tembakan tepat mengenai kaki kirinya. Ravon terjatuh, dan tak bisa lagi melanjutkan pelariannya.
"Kak Dimas, dia orangnya!" tunjuk Mifta pada Ravon, saat sosok lelaki gagah berbaju seragam di depan kami menolong Mifta yang masih memegang kepala memarnya.
Para polisi itu langsung meringkus paksa Ravon tanpa perlawanan apapun, karena tubuhnya sudah tak berdaya lagi meski hanya untuk berdiri.
" Memang kejahatan pasti akan terungkap juga, entah kapan waktu yang tepat!" sahut Robert mencibir kakaknya.
"Orangtuaku, tolong antar aku pulang sekarang!" sahut Novi semakin mengingat cemas dengan lututnya yang gemetar.
"Kalian bisa ikut ke kantor untuk menjadi saksi," sahut seorang polisi yang dipanggil Dimas oleh Mifta tadi.
"Boleh kita ke rumah kak Novi dulu, Pak! Tadi kami melihat dia baru dari sana, kami takut terjadi apa-apa pada keluarganya," ucap Yumna meminta ijin mewakili Novi.
"Baiklah. Dodi dan John akan menemani kelian ke sana!"
"Siap, Ndan!" seru anggota polisi yang namanya merasa disebut tadi.
Akhirnya dua orang polisi itu mengikuti mobil Rey dan Yumna menuju rumah Novi.
Sepanjang perjalanan mereka, Novi semakin tampak gelisah. Terutama mengingat senyum sinis Ravon, saat melihat keresahannya untuk segera bertemu orang tuanya di rumah. Seperti ada rasa puas setelah berhasil melakukan aksi yang sesuai keinginannya.
"Kak, sabar ya! Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja," ucap Yumna terus mencoba menenangkan Novi.
"Trimakasih, semoga saja seperti itu."
__ADS_1
"Ya, semoga saja. Lhoh Rey, lenganmu semakin banyak mengeluarkan darah."
Dengan sigap, Yumna mengambil sapu tangan miliknya dari dalam tas.
"Sini! Setelah ku ikat, angkat ke atas melebihi kepalamu biar cepat berhenti keluar darahnya."
"Hhmmmm......," sahut Rey tersenyum melirik perhatian Yumna padanya sambil terus mengemudikan pelan mobilnya.
"Kenapa melirik aku sambil senyum-senyum kayak gitu?" tanya Yumna tersipu malu, masih dengan menahan lengan Rey yang terangkat ke atas.
"Gak apa-apa. Memang bisa berhenti darahnya?!"
Yumna tak menjawab, hanya membuktikan dengan menunjukkan hasilnya. Itu semakin membuat Rey bangga, karena ternyata dibalik sifat mandirinya ada juga rasa peduli.
"Itu rumahku, langsung dimasukan ke halaman saja!" sahut Novi menunjuk rumah di sebelah kanan mereka.
Rey segera menuruti, dengan menepikan kendaraannya tepat di bawah pohon sukun. Diikut dengan kedua polisi tadi.
"Heehh.... Selalu ada yang menghuni!" sahut Yumna menghela nafas sambil melihat ke atas.
"Kenapa Yumna?" tanya Novi sedikit bingung.
"Ihiii.... Hiiiii....., cieehh....ada yang baru jadi hantu ni yeee.....," seru suara dari atas pohon sukun seperti mengejek Robert yang masih mengikuti mereka semua.
"Kurang ajar, biar ku suruh Novi potong pohon ini nanti!" sahut Robert geram.
Rey dan Yumna hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat melihat perdebatan mereka.
"Buuu.... Ayahhh....., kalian dimana?" tanya Novi saat masuk ke rumahnya dengan pintu depan yang masih terbuka lebar.
"Kita berpencar saja, biar bisa cepet ketemunya. Gimana?" usul Rey.
"Boleh, aku naik ke lantai dua ya. Tolong kalian cari di seluruh ruangan lantai satu. Maaf merepotkan!" kata Novi tanpa menunggu jawaban, segera naik ke atas tangga yang menghubungkan ke lantai dua.
Yumna dan Rey berpencar, mencari di depan dan belakang rumah. Sedangkan Robert langsung mengikuti Novi ke atas setelah jengah meladeni perdebatan dengan makhluk berdaster putih di depan.
'IBUUUU..... AYAAAAHHH.....'
Teriak suara Novi dari lantai atas.
__ADS_1
"Rey, kamu dengar? Ayo naik!" seru Yumna ikut menuju ke lantai dua.
Di sana, ayah dan ibu Novi tergeletak tak berdaya di dalam bak kamar mandi yang diisi air sampai menggenang sebatas perut mereka. Tangan dan kakinya terikat pula oleh seutas tali. Novi terus menangis sambil berusaha melepas ikatan mereka.
"Denyut nadinya masih ada, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja!" usul polisi bernama John yang sigap membawanya ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Orangtua Novi kedinginan terendam di dalam kamar mandi. Kemungkinan hipotermia yang menyebabkan keduanya lemah tak sadarkan diri.
Nasib baik masih ada bersama Novi. Sedikit saja terlambat membawa mereka ke rumah sakit, bisa berakibat fatal pada keduanya. Meski begitu, Novi belum bisa ke sekolah dan ke kantor polisi untuk memberi saksi.
Rey sudah mencarikan kamar VIP yang bisa diisi dua orang pasien, untuk memudahkan Novi mengawasinya bersama. Yumna juga langsung meminta suster untuk mengobati goresan luka di tangan Rey akibat terkena pisau tadi. Sedangkan Robert berjanji akan terus bersama Novi sampai kedua orang tuanya sembuh seperti sedia kala.
"Novi, Nak!" seru ayah Novi lemah, mulai sadar dari siumannya meski ibunya belum menunjukkan hal serupa.
"Ayaahh....., Novi butuh kalian!" tangis Novi mulai pecah.
Beberapa kisah haru mereka lewati, sampai Yumna baru sadar kalau waktu sudah terlampau malam.
"Kak, aku sama Rey pulang dulu ya. Besok kita ke sini lagi. Kakak hubungi kita saja kalau ada perlu apa-apa. Ini kak Robert selalu ada di samping kakak, jadi jangan pernah merasa sendiri ya!" bisik Yumna sebelum meninggalkan Novi di rumah sakit sendiri, sambil menunggu ada polisi yang akan menemaninya lagi.
" Jadi, Robert masih ada di sini? Ternyata dia masih peduli padaku! "
" Nov, maafkan aku yang tak bisa di sampingmu selamanya, " jawab Robert memeluk Novi yang membuat dirinya merasa dingin tiba-tiba.
"Besok kami masih ingin mencari tahu tentang keluarga Robert juga. Sepertinya sudah mulai ada titik terang keberadaan nenekku di sana," sahut Rey.
"Aku doakan, kamu bisa segera menemukan apa yang kamu cari. Dan terimakasih atas semua bantuannya. Nanti kalau ayah sudah bisa bangun dan mengurusnya, akan ku ganti semua biaya rumah sakit ini," ucap Novi tak enak hati.
"Tak usah kau pikirkan itu. Kita pulang dulu ya!"
"Trimakasih," ucap ayah Novi masih lemas berbaring di atas ranjang.
"Tak kusangka, di balik wajah dingin Rey ternyata tersimpan kebaikan juga."
Batin Yumna tersenyum sendiri.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Rey yang ternyata mengamati.
"Eh, enggak! Ayo pulang, kayaknya ini sudah terlalu malam. Kami permisi ya," pamit Yumna menggandeng tangan Rey sambil menunduk menahan malu.
__ADS_1