
"ROBERT?" tanya Rey dan Yumna bersama.
"Iya, memang kalian menemukannya dari mana?"
"Apa kakak yakin?" tanya Yumna menatap serius ke arah Novi.
"Iya, aku yakin kalau itu foto masa kecil Robert. Aku pernah melihat foto yang sama saat di rumahnya."
"Apa itu berarti keluarga Robert pemilik rumah sakit itu?" tanya Rey masih menyelesaikan sarapannya bersama.
"Kalian tahu dari mana? Dulu memang ayahnya menjadi pemilik rumah sakit. Tapi mengalami kebakaran yang sebenarnya tak seberapa, tapi berhasil membuat banyak orang terbunuh di sana karena terjebak di dalamnya."
"Bukannya rumah sakit itu sudah pindah ke tempat yang kemarin merawat ayahnu?" tanya Rey lagi.
"Iya, memang namanya masih sama. Banyak juga alat-alat yang dibawa dari sana. Tapi itu sudah diambil alih orang lain saat ayah Robert sempat mengalami kebangkrutan."
"Lalu, apa usaha ayah Robert selanjutnya?"
"Aku juga kurang tahu lebih jelasnya. Tapi sepertinya mereka sudah mulai merintis usaha lagi dengan membuka sebuah apotek di dekat rumah mereka."
"Jadi, sebenarnya harapan mereka terlalu besar pada Robert yang nantinya bisa membangkitkan lagi usaha orangtuanya. Tapi semuanya sudah berakhir sia-sia," lanjut Novi.
"Sudah selesai belum makannya? Nanti keburu siang sampai di desa," sahut ayah Novi pada semuanya.
"Iya, Yah. Sudah selesaikan?" tanya Novi sama.
Mereka membereskan semuanya, dan berangkat sesuai rencana. Di perjalanan, Yumna terlalu mengantuk sampai tak sadar sudah masuk ke alam mimpi.
Yumna sedang melihat seorang wanita muda dengan dua anaknya. Mereka berdiri di depan sebuah rumah bergaya pedesaan pada umumnya. Wajah putih, berambut sedikit coklat yang mencerminkan bukan asli dari daerah sini.
Dengan halaman yang luas, ditumbuhi beberapa tanaman bunga yang terawat begitu segarnya.
Rasa nyaman membuatnya yang semula melihat dari jauh, mendekat dan semakin penasaran dengan ragamnya bunga.
Wanita itu tersenyum senang akan kehadirannya. Dia melambaikan tangan, agar Yumna semakin mendekat ke arahnya.
Semakin dekat, semakin jelas warna pucat di tubuh mereka. Kedua anaknya pun mulai menangis dengan airmata warna merah darah sedikit kehitaman.
Sambil berbisik pelan, wanita itu hanya berucap satu kata, "tolong!"
"Aaaaargh....," teriak Yumna yang ternyata baru bangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa?" tanya Rey masih menyetir dengan disempatkan mengusap keringat yang membasahi pelipis Yumna.
"Aku....!"
"Mimpi buruk?" tanya Rey dijawab anggukan Yumna segera.
__ADS_1
"Sudahlah, itu cuma mimpi. Sebentar lagi sepertinya sampai. Kita sudah masuk ke desa yang akan di tuju soalnya."
"Memang berapa lama aku tertidur?"
"Lumayanlah, sudah bisa membentuk sebuah pulau yang lebar. Tuh!"
"Enak aja, aku baru aja tidur deh kayaknya."
"Iya, baru tiga jam. Tuh, mobil Novi sudah berhenti di depan sebuah rumah. Berarti kita sudah sampai kan?"
"Hah? Serius? Padahal aku baru mimpi sebentar," ucap Yumna sedikit tak percaya.
"Hadehh.... Sudahlah. Cepat turun, kita bantu Novi biar cepat selesai."
Yumna pun mengikuti perintah Rey agar mereka bisa cepat pulang ke rumah lagi. Tapi saat melihat rumah baru Novi yang ada di desa, Yumna mengingat mimpinya tadi.
Semua persis sama kecuali tiga sosok yang tak ada di depannya.
" Kenapa, Yumna? " tanya Novi bingung melihat Yumna yang hanya berdiri mematung.
"Rumah ini nenek kamu pemiliknya?"
"Sebenarnya rumah nenek ada di sebelah situ, tapi kami sengaja membeli rumah ini mumpung lagi dijual murah karena pemiliknya mau pindah rumah ke luar kota."
"Oh, lalu rumah nenekmu?"
"Memang ke luar kota mana?" tanya Yumna merasa ada sesuatu yang tidak beres di sana.
"Tidak ada yang tahu. Kami juga tak seberapa kenal, cuma sekali ketemu di rumah sakit diantar paman kemarin. Trus langsung deal pas lihat foto dan sertifikat rumahnya."
Sambil membantu menurunkan semua barang, Yumna terus bertanya tentang keadaan rumah tersebut sebelumnya.
"Memangnya sebelumnya dia sendirian tinggal di sini?" tanya Yumna lagi.
"Kamu kenapa sih? Kok tanyanya detail banget sama rumah ini?" tanya Novi balik karena sudah mulai ikut paranoid.
"Siapa itu?" tunjuk Rey tapi tak sempat dilihat Yumna.
"Siapa Rey?"
"Tadi seperti ada wanita yang mengintip dari balik jendela kamar itu. Cuma saat aku mulai lebih mengamati, dia malah mundur ke belakang trus nggak kelihatan lagi.
" Beneran, Rey? Wajahnya seperti apa, kelihatan jelas nggak? "
" Kalau dari wajahnya, sepertinya dia keturunan bule. Apa iya ada bule nyasar di desa ini?" sahut Rey menggaruk kepalanya sendiri.
"Siippp, bener. Dia sama anaknya tidak?"
__ADS_1
"Bener sama apa? Maksudmu apa sih?"
"Bener sama yang menemuiku di mimpi sebelum ke sini tadi. Dia gandeng dua anaknya, trus bilang minta tolong. Lirih banget," jawab Yumna menjelaskan.
"Tolong? Kira-kira kenapa ya? Tapi aku juga tak tahu sih, yang jual rumah ini tuh punya anak istri atau belum. Baru ketemu sekalu soalnya. Itupun tidak sama keluarganya"
Yumna segera berlari masuk ke dalam rumah, setelah meminta ijin pada Novi. Dia mencari keberadaan wanita yang dimaksud Rey tadi.
'Ini rumahku! "
Suara bisikan sempat terdengar di telinga Yumna. Dia mulai berkeliling mencari tapi tetap tak menemukan suatu apapun di situ.
Sekelebat bayangan mulai muncul dari ruangan yang masih gelap. Karena kain penutup jendelanya juga masih menempel rapat.
" Siapa di sana?" tanya Yumna mendekat.
"Ayah..., no!"
Terdengar lagi rintihan kecil seorang anak yang sedang tersiksa. Yumna perlahan berjalan mendekati pintu yang setengah terbuka di depannya.
Ketika dekat dengan ruangan itu, Yumna melihat seorang anak kecil berdiri membelakanginya. Ingin sekali dia segera tahu apa masalahnya. Supaya Novi juga bisa menempati rumah ini tanpa gangguan, saat mereka sudah bisa menuju alamnya dengan tenang.
"Dek? Adek siapa?" tanga Yumna lagi semakin medekati.
'Kriiieeett......'
Suara pintu dibuka lebih lebar, agar bisa lebih jelas melihatnya.
"BAAAA......! "
Anak kecil dengan mata yang terus mengeluarkan darah merah mulai menoleh ke arahnya. Dia memperlihatkan senyumnya tanpa gigi yang lengkap.
Sosok itu berwujud seperti anak usia enam tahunan. Rambut dan bajunya juga sudah dipenuhi lumpur pekat yang menempel erat dan basah.
"Adik siapa?" tanya Yumna lagi mencoba mengenalnya.
Sosok kecil itu malah berbalik arah, berjalan menjauh kemudian menghilang menembus tembok ruangan.
"Dek.... Adek kecil? Mau coklat enggak?" tanya Yumna mencoba merayu.
"Kalau aku mau!" jawab seorang laki-laki yang sudah berdiri di belakang Yumna.
"Rey? Kamu lihat anak kecil tadi nggak?"
"Iya, aku lihat tadi. Tapi sekarang tidak. Ayo, kita lanjut bantu Novi saja buat menata rumahnya. Biar makhluk itu juga tak akan betah lama-lama di rumah kosong ini. Kalau sudah berganti dengan penduduk baru, mungkin mereka akan mencari tempat lain lagi," sahut Rey asal.
'Ini rumahku!"
__ADS_1
Lagi, terdengar lirih suara seorang wanita.