Restoran Hantu

Restoran Hantu
Penemuan Mayat Kakek


__ADS_3

"Ya ampun. Kok bisa ada gundukan di situ? Padahal dari dulu tanahnya selalu rata," ucap Reina terkejut.


"Sepertinya juga itu timbunan tanah baru. Masih basah, dan warnanya sedikit lebih gelap daripada tanah di sekitarnya," sahut Rey mendekati lahan yang ditunjuk Yumna.


"Sebentar, aku cari tetangga yang lain dulu!"


Reyna berlari meninggalkan Yumna dan Rey di dekat jembatan lama yang sebenarnya masih terlihat kokoh dan lebar. Hanya banyak cat mengelupas yang perlu diperbaiki lagi.


"Rey, itu kakek?"


Yumna menunjuk sosok berbaju hitam, berambut putih di atas jembatan. Sosok itu tersenyum menunjuk ke arah gundukan di depan mereka, kemudian mengangguk dan menghilang.


"Iya, sepertinya ada sesuatu yang tak beres di sini."


"Kita tunggu Reyna memanggil penduduk lainnya, supaya kita lebih tahu isinya," sahut Yumna.


Sayup-sayup mulai terdengar suara penduduk yang datang. Ada beberapa lelaki yang sudah siap dengan cangkulnya. Ada pula yang hanya membawa smartphone miliknya, untuk mengabadikannya.


" Kak Reina, tolong bilang ke yang bawa telepon genggam supaya tidak merekamnya. Kecuali satu orang yang nanti bisa kita tunjukkan pada polisi."


Yumna mencoba memperingatkan, agar tak terjadi hal yang kurang baik untuk kejadian selanjutnya.


"Memang kenapa?" sahut seorang pria.


"Mohon maaf ya, Mas. Kalau ternyata memang di sana ada mayat seseorang, apakah pantas untuk direkam?" jelas Yumna perlahan.


"Sok suci, bilang aja iri gak bisa merekam kejadian viral. Ikutan bikin video aja kenapa, dari pada sok kayak gitu Mbak...Mbak!"


"Sekali lagi mohon maaf ya, Mas. Kalau misalkan yang ada di dalam sana adalah jasadnya Mas, apa Mas rela orang lain merekamnya?" jelas Yumna masih dengan intonasi rendahnya.


"KURANG AJAR! Berani kamu ya, pakai ngatain aku segala. Memang kamu siapa? Kenal juga enggak, tapi sok suci banget!"


"Hei, tolong dijaga ya sikapnya. Yumna sudah memperingatkan baik-baik kenapa malah ngegas sih?" ucap Rey mulai terlihat emosi saat membela Yumna.


"Astaghfirullah, innalillahi wa innailaihi roji'un."


Ucapan salah satu warga yang membongkar gundukan, membuat semua yang menyaksikan menjadi penasaran.


"Apaan isinya? Wah, jadi telat kan ngerekamnya gara-gara gadis sok suci ini!" tunjuk pria yang sedari tadi mengajak berdebat Yumna.


Para penggali berusaha mengangkat tubuh seorang pria, yang berbaju sama dengan sosok kakek di dalam mimpi Yumna. Salah satu warga segera menghubungi pihak berwajib untuk penyelidikan selanjutnya.


" Reina, darimana kamu tahu kalau ada mayat di sana?" tanya pria itu mencoba merekamnya setelah gagal di tujuan awalnya.

__ADS_1


"Apaan sih? Pakai ngrekam segala! Tadi tuh Yumna yang katanya dimimpiin sebelumnya," jawab Reina menunjuk Yumna.


"Iya aku dimimpiin, trus nanti kalau dia datang dimimpi lagi bakal aku kasih tahu buat cari kamu!" ancam Yumna sukses membuat pria itu menutup ponselnya, dan meninggalkan mereka.


"Hahahaa.... Badan kekar gitu, diceritain mimpi aja takut ya?" sahut Rey terpingkal.


Tak lama, para polisi sudah datang dan memeriksa semuanya. Kondisi tubuh mayat yang terpisah dari kepalanya, sukses membuat para warga sedikit merinding ketakutan. Dan kebanyakan dari mereka, memilih untuk pergi sebelum selesai di evakuasi.


Yumna menceritakan semua kejadian yang tak bisa dimasukkan dalam logika. Karena dia tak tahu harus membuat cerita apa.


"Baiklah, silahkan tinggalkan nomor telepon untuk kesaksian selanjutnya," ucap salah satu polisi yang menangani.


Rey mengurus semuanya, sebelum mereka pamitan untuk kembali.


" Kak Reina, kita pulang dulu ya. Kalau sudah ada kejelasan, kabari kita!" seru Yumna menjabat tangannya.


"Terimakasih, pasti nanti ku kabari. Maaf tak bisa mengantar kalian sampai ke rumah. Sepertinya aku masih harus memberi kesaksian pada para polisi."


Rey hanya mengangguk, dan mengajak Yumna menuju ke halaman rumah Reina tempat mobil yang terparkir di sana.


"Lumayan seru ya kisahnya. Kira-kira, apa itu ada hubungannya dengan kematian Leila?"


"Entahlah, memang aku melihat kejadiannya?" jawab Rey membuat Yumna mulai geram lagi.


"Tunggu!"


Sudah tak dihiraukannya teriakan Rey, meskipun pada akhirnya Yumna tak bisa masuk ke mobil dahulu karena Rey yang memegang kendalinya.


"Dibilangi tunggu, tetep aja gak nurut. Akhirnya nunggu juga kan, gak bisa masuk mobil," seru Rey mengejek sambil membukakan pintu mobilnya.


"Hihh, kesel aku sama kamu lama-lama!"


Yumna memukul geregetan pundak Rey, sebelum masuk ke dalam.


"Ayo, berangkat!"


"Ini yang bos siapa, kok berani nyuruh segala?"


"Eh, iya. Maaf khilaf, Bos!" cengir Yumna membuyarkan pertengkaran mereka.


Sepanjang perjalanan, mereka terus saling bercanda. Sampai mereka melewati tempat, dimana seseorang sedang berdiri di pinggir jalan dengan sedihnya memandang sebuah foto yang digenggam.


" Rey, berhenti sebentar. Kasian itu orang, ayo kita turun! Aku takut kalau dia kalut, trus nyebrang asal ke jalan gimana?"

__ADS_1


"Apa sih yang nggak buat kamu," kata Rey sambil menepikan mobilnya.


"Cieh, bisa bilang gitu juga ternyata!" ledek Yumna meski sebenarnya ada rasa senang di dada.


"Sudah, kamu turun dulu saja. Aku tunggu di mobil ya."


"Iya deh, tunggu sebentar ya!"


"Beres," seru Rey sambil menyandarkan lehernya.


Yumna mendekati pria yang sedang duduk di tepi jalan. Dia perlahan mendekat, agar pria itu tak ragu untuk ditolongnya.


"Permisi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Yumna memulai.


Pria itu mulai mendongakkan kepalanya, dan terlihat seluruh wajahnya dipenuhi darah.


"Oh, maaf. Apa bapak sudah tak memiliki raga?" tanya Yumna lagi dan dijawab anggukan olehnya.


Tak sengaja, Yumna melihat foto di genggaman pria di depannya.


"Mbak Kinan?" seru Yumna sambil terus mencermati fotonya.


"Apa kamu kenal istri saya?"


"Astaga, jadi mbak Kinan istri anda? Apa di sini tempat kejadian kecelakaan kalian?"


"Iya, di sini kami kecelakaan. Tapi aku mencari dia dari rumah sampai setiap rumah sakit tak pernah menemukannya. Jadi kuputuskan untuk kembali di tempat ini, barangkali Kinan kembali."


"Sampai bawa foto segala?"


"Foto ini ku ambil dari rumah, dan setiap hari ku letakkan di tempat ini. Mungkin nanti kalau ada yang lewat dan membahasnya, jadi aku bisa lebih mudah mencari. Apa kamu tahu dimana Kinan?"


"Iya, mbak Kinan ada di Restoran Hantu milik temanku."


"Restoran Hantu?"


"Sudahlah, nanti saja ceritanya. Mbak Kinan juga sedang menunggu anda. Bersiaplah untuk nanti bertemu dengannya. Ayo!"


"Hih, cantik-cantik kok ngomong sendiri sih Mbak?" tanya seorang pengendara sepeda yang ternyata sudah mengamati Yumna dari kejauhan.


Yumna segera sadar atas perilakunya yang pasti dipandang aneh oleh orang lain. Diapun segera menghampiri Rey, dan masuk ke dalam mobilnya.


" Sudah? Kok dia malah ikut kita?" tanya Rey melihat sosok itu bersiap mengikuti mobilnya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2