Restoran Hantu

Restoran Hantu
Pertemuan Kinan dan Suaminya


__ADS_3

Mereka hanya melihat para pegawai restoran hantu menyiapkan semuanya, sambil menunggu Kinan datang.


"Boni, nanti kalau arwah nenek datang segera bangunin ya. Nanti aku mau tidur di kamar restoran ini saja!"


"Serius?" tanya Yumna sedikit tak percaya.


"Ya, aku lagi capek. Jadi mau di sini saja, sudah bawa baju ganti seragam juga di mobil tadi. Lagian deket juga dari rumahmu kan."


"Trus yang anter aku pulang?"


"Ya jalan kaki lah, kan deket," Rey mulai menggoda Yumna lagi.


"Iya deh, trus kapan boleh pulang Bos?"


"Nanti, setelah aku puas melihat kamu!"


Jawaban konyol Rey membuat muka Yumna jadi merah tak terkendali. Yumna merasa sangat malu saat terus dipandangi.


"Kok jadi mirip udang yang kau masak, Jodi?" celetuk Boni yang ternyata mengamati godaan Rey pada Yumna.


"Apanya yang mirip?"


"Tuh, wajah Yumna."


"Ahh...... Pak bos mulai bucin deh kayaknya!" sahut Shema yang ikut mengamati.


"Ssssttt..... Jangan bilang gitu nanti marah lo orangnya!" tegur Boni pada Shema.


"Kok jadi nemenin orang yang lagi kasmaran ya? Katanya kalau ada dua orang deket-deketan, nanti ketiganya setan lo!" sahut suami Kinan ikut menggoda karena Rey tak berhenti memandang Yumna.


"Nah, dah merasa sendiri kan?" canda Yumna untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Haaiiii..... I'm coming !" sahut Mifta yang baru datang.


"Loh, Kinan mana?" tanya Rey melihat ke arah suara yang menyapa dari depan pintu.


"Tuh, nangis terus dari tadi. Jadi lambat ke sininya!"


"Mas????" kata Kinan yang baru masuk dari depan pintu.


"Dek Kinan?"


"Mas, aku mencarimu! Huwaaa......," tangis Kinan pecah saat menghampiri suaminya.


"Mas juga nyari adek kemana-mana."


Kinan dan suaminya saling berpelukan. Dan tak terasa, Yumna yang memandang jadi ikut perasaan. Dia menggandeng lengan Rey erat-erat. Rey pun membalasnya dengan merangkul bahu Yumna.


"Ah.... So sweet !" seru Shema yang ikut memeluk Boni.


"Yah, nasib gak punya pasangan ini. Peluk kursi aja deh!" sahut Meyta tak mau kalah.


"Lhah, aku peluk spatula dong!" jawab Jodi ikut melongok lagi.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, Yumna baru sadar ada di pelukan Rey. Dan rasa deg-degan semakin tak bisa ditahannya.


"Kok kayak ada suara detak jantung keras banget ya?" tanya Rey.


"Ehmmm..... Lepasin. Aku pulang ya, sudah selesai kan kerja hari ini?" ucap Yumna melepas pelukan karena rasa malu yang tak tertahan. Dia juga segera membereskan barang-barangnya.


Yumna terlalu gugup saat menyadarinya. Dia juga masih merasa belum pantas ada di samping Rey. Meski egonya juga merasa nyaman saat ada di dekatnya.


" Yumna, tunggu! Aku cuma bercanda, "sahut Rey tak enak karena merasa sudah menggoda Yumna.


Yumna tak menghiraukan, dan terus berjalan ke depan.


" Yah, malah ngambek. Tapi kayaknya pak bos sekarang kelihatan semakin dekat sama Yumna ya? Tuh, bingung kan pas Yumna marah! " seru Shema.


" Sssttt, diam. Urusi urusanmu sendiri!" kata Rey segera menyusul Yumna ke depan.


" Ngapain ngikutin?" ketus Yumna masih terus berjalan ke depan.


"Kan mau anter kamu pulang?"


"Katanya tadi gak mau anterin?"


"Bercanda, gitu aja ngambek. Ayo!"


"Gak usah, aku bisa kok jalan kaki saja."


Rey tak banyak bicara, langsung menggandeng tangan Yumna untuk mengajaknya ke mobil. Tapi baru beberapa langkah, suara telepon gengam Rey berbunyi.


Rey masih menggandeng tangan Yumna, sambil mengangkat sambungan telepon dari Reina.


Tak lama waktu yang dihabiskan Rey untuk menerima panggilan itu. Rey mulai memanggil Yumna untuk menunggunya. Tapi karena tak didengarkan, Rey segera menghampiri Yumna lagi untuk digendong masuk ke dalam mobil.


"Apa-apaan sih? Tadi Reina telepon kan? Katanya kamu mau menemuinya, aku pulang sendiri saja! Turunin, atau mau aku teriak?"


Rey tak menanggapi pertanyaan Yumna, dan tetap memasukkannya ke dalam mobil miliknya.


"REY!!!!!" teriak Yumna mulai kesal.


"Kita menemui Reina bersama!" kata Rey mulai melajukan kendaraan miliknya.


"Ngapain mau kencan aja pakai ajak aku segala," sahut Yumna mulai menumpahkan isi hatinya.


"Kencan? Jadi kamu cemburu?"


"Sudahlah, lupakan! Kita mau apa ke sana?"


"Polisi mau minta keterangan dari kita lagi. Jadi sebenarnya ayah tiri Reina lah yang melakukannya juga."


"Serius? Kayaknya tadi Reyna cuma ajak kamu ketemuan?"


"Reina sudah menceritakan itu sejak kita pulang sekolah tadi. Tapi kamu terus uring-uringan gak jelas, jadi gak sempet cerita."


"Hehhh.... Maaf ya," kata Yumna singkat.

__ADS_1


"Jadi sudah gak cemburu nih?"


"Cemburu? Memang aku siapanya kamu?"


"Ehmmmm..... Menurutmu?"


"Lhah, ditanya malah balik tanya. Eh, trus kok bisa ayah tiri Reina bisa bunuh kakek itu juga?" tanya Yumna mengalihkan pembicaraan yang sempat membuat hatinya mulai gemetar.


"Waktu ayahnya membawa Leila ke ruang bawah tanah, kakek itu tahu trus dia penasaran buat mengikuti ayah Reina. Tapi ternyata ketahuan, dan dihabisinya juga sebelum menyebar kemana-mana."


"Ya ampun, sadis banget tuh orang. Sampai potong kepala juga lo."


'Ciiiiiittt.......'


Suara rem mobil Rey berdecit saat dia melihat ada anak kecil yang menangis sendiri di tepi jalan.


"Kenapa, Rey?"


"Tuh!" tunjuk Rey.


"Kenapa dia? Sebentar, aku turun ya."


Yumna sendiri turun dari mobil, yang kebetulan sedang melewati pemakaman umum. Anak kecil itu terus menangis, dan tak bisa menjawab apapun pertanyaan Yumna.


Yumna pun mengajaknya masuk ke mobil Rey, untuk dibawanya pergi dari tempat itu.


" Anak ini kenapa?" tanya Rey.


"Dia tak bilang apapun saat ku tanya. Cuma nangis sama geleng dan mengangguk saja."


"Ya sudah, kita tanya pelan-pelan. Sepertinya dia juga ketakutan," kata Rey melajukan kemudinya lagi.


Yumna terus mencoba berkomunikasi dengan anak itu. Tapi tak mendapatkan hasil apapun, karena dia hanya menangis saat ditanya hal mengenai orang tuanya. Terlebih tentang banyak luka lebam di sekujur tubuhnya.


Sesampainya di kantor polisi, Yumna dan Rey turun dari mobilnya. Tapi anak itu tak mau mengikuti mereka.


"Rey, dia itu manusi apa hantu sih?" tanya Yumna polos saat mereka meninggalkan anak itu sendiri di dalam mobil.


"Kalau menurutku, dia bukan manusia. Apa kamu tak melihat sorot matanya yang kosong tanpa jiwa?"


"Oh ya? Aku kira dari tadi, dia itu manusia. Kan kita mau ke kantor polisi, jadi rencanaku ingin melaporkannya juga."


"Hehhh.... Kita urus nanti saja. Sekarang beri saksi tentang kematian kakek yang jadi korban ayah tiri Reina juga."


Satu jam berlalu, banyak pertanyaan yang polisi lontarkan. Tapi Yumna juga menjawab sesuai kenyataan yang dia tahu saja. Meskipun awalnya polisi sulit untuk percaya, kalau dia diberitahu oleh makhluk tak kasat mata.


" Kak Reina, kita balik dulu ya," kata Yumna menggandeng Rey agar segera pergi mengikutinya.


"Apaan nih, cemburu lagi?"


"Kamu gak ingat, kalau kita ninggalin tuh anak di mobil sendirian?" tanya Yumna yang baru menyadarkan Reyhan.


Mereka segera menuju mobil yang dari tadi dikunci Rey. Tapi ternyata, setelah dibuka tak ada siapapun di dalamnya.

__ADS_1


"Bener kayaknya, Rey. Dia bukan manusia!" kata Yumna masih tercengang.


__ADS_2