
Sepanjang perjalanan mereka lalui dalam diam. Tapi Rey sedikit ragu untuk membawa Novi pulang.
"Nov, yakin mau pulang? Kok aku merasa kalau kamu tak akan aman saat di rumahmu nanti ya?" kata Rey memecah suara gerimis di luar.
"Mau bagaimana lagi. Memang aku bisa kemana selain pulang? Sebaiknya memang di rumah tempatku sekarang."
"Kak Novi yakin?" sahut Yumna jadi ikut ragu setelah mendengar ucapan Rey.
"Kalian tenang saja. Ada ayah dan ibu yang selalu di rumah untukku," kata Novi meyakinkan.
"Ada aku juga yang akan menjagamu dari kakakku," sahut Robert melongokkan kepala menembus belakang mobil Rey.
Setelah mendengar pernyataan Rey yang tak membuat Novi gentar, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sampai tiba di sebuah gang masuk sebelum rumah Novi, perasaan Rey semakin tak enak hati.
" Hhuufftt......, " Rey menghembuskan nafasnya dengan kasar, untuk melegakan sesak di dada.
"Kenapa?" tanya Yumna mengelus dada Rey yang sepertinya nampak kurang baik saat ini.
"Eh, gawat. Stopp!!" ucap Novi tiba-tiba.
"Semua cewek itu sama saja ya. Selalu bikin kaget! Untung gak ada kendaraan di belakang," seru Rey menghentikan mobilnya dengan cepat.
"Kenapa, Kak?" tanya Yumna ikut heran.
"Ii... Ii... Iittuuu, sepeda motornya kak Ravon di rumahku!" tunjuk Novi dengan tangan gemetar mengarah ke halaman sebuah rumah.
"Nah, bener perasaanku sudah gak enak aja dari tadi. Kita putar balik lewat lurus bisa kan?" sahut Rey meneruskan mobilnya.
"Bisa, nanti tembus ke gang sebelah. Tapi gimana orangtuaku?" tanya Novi khawatir pada keadaan rumahnya, terutama nasib orangtuanya.
"Kita cari tahu nanti, sekarang ke rumah Mifta saja buat cari sepupunya yang sedang menangani kasus Robert!" ajak Rey melajukan kembali ke arah jalan besar.
Dalam perjalanan, Novi terus menangis memikirkan nasib keluarganya. Dia hanya bisa berdoa, agar semuanya baik-baik saja saat dia kembali pulang.
Rasa khawatirnya sangatlah besar saat dia mengingat semua ancaman Ravon terhadap dirinya. Terlebih setelah mengetahui bahwa Ravon seorang pecandu yang nekat berbuat apa saja.
"Kak, sabar ya. Kita cari solusinya bersama. Sekarang kita amankan kak Novi dulu, sambil meminta bantuan polisi untuk melihat keluarga kakak nanti."
"Trimakasih," ucap singkat Novi masih terus terisak.
Akhirnya sampailah mereka di depan rumah Mifta. Dan Novi masih tak bisa menghentikan air matanya.
__ADS_1
"Ayo, Kak. Kita ke rumah Mifta dulu," ajak Yumna sambil membantu Novi yang sudah mulai lemah tak berdaya.
Tak lama setelah mendengar suara deru mobil di depan, Mifta membuka pintunya tanpa ada panggilan sebelumnya.
"Lhoh, Yumna? Rey? Tumben ke sini malam? Itu kak Novi sahabat kak Robert kan? Ada yang penting? Oh, atau mungkin ada hubungannya dengan kak Robert?" tanya Mifta tanpa jeda.
"Ya ampun, panjang banget tanyanya. Kalah deh tuh sepupumu kalau lagi introgasi tersangka," sahut Yumna bercanda.
"Iya, suruh masuk dulu kenapa!" jawab Rey menyela.
"Maaf.... Maaf.... Ayo silahkan masuk dulu! Aku ambilkan minum ya!"
"Gak usah repot-repot, biar cepet kelar masalahnya. Kita pengen ketemu sepupumu yang sedang menyelidiki kasus kak Robert!" jawab Yumna langsung pada pokok masalahnya.
"Oh, sebentar saya telepon dulu orangnya lagi dimana."
Mifta menuju kamarnya untuk mengambil smartphone miliknya. Tak lama, dia kembali setelah menghubungi sepupunya agar segera menuju rumahnya.
"Kok sepi, keluargamu kemana?" tanya Yumna melihat sekeliling.
"Tadi baru aja berangkat ke rumah nenek, buat bantu acara hajatan di sana sampai besok."
"Berarti kamu di rumah sendiri? Untung tadi kamu gak ikut ya! Kalau kamu gak ada di rumah, gak tahu lagi kita mau kemana. Oh iya, gimana sepupumu?"
"Boleh, tolong ya Mifta. Maaf merepotkan!" jawab Yumna mewakili.
Tepat saat teh tersaji di meja, terdengarlah suara deru motor yang tak asing bagi Novi.
"Tutup pintunya, itu suara motor Ravon!"
Rey segera berlari menutup pintu dan menguncinya dengan cepat, sambil mengintip dari balik tirai jendela kaca yang tertutup dari dalam.
"Lhah, bener! Apa itu kakaknya Robert?" tanya Rey yang hanya dijawab anggukan oleh makhluk tak kasat mata di sebelahnya.
"Kok dia bisa tahu sampai kemari?" bisik Yumna ikut mengintip.
"Aku hubungi sepupuku, biar dia bisa cepat kemari untuk menangkapnya."
'DOK... DOK... DOK.....'
Suara ketukan pintu terdengar kencang. Membuat semuanya gemetar tak karuan.
__ADS_1
"Sssttt....dia memang bener-bener nekat. Sepertinya dia sudah membuntuti kita tadi, cuma aku sudah berusaha menghilang dari pandangannya. Ternyata, dia bisa menemukan mobilku juga!" bisik Rey yang sudah merasa.
'DOK... DOK... DOK...'
Sekali lagi pintu diketuk sangat kencang, tanpa mengeluarkan panggilan kata sedikitpun.
" Biar aku hadapi saja kalau begitu, kalian jaga Novi ya! " ucap Rey sudah merasa geram.
" Rey, jangan. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Dia bukan manusia yang masih bisa berpikir jernih seperti kita. Tenang ya!" ucap Yumna memeluk lengan Rey agar tak mencoba menantangnya.
" Lalu, kalau dia bisa masuk ke sini malah bahaya buat kalian. Jadi selama aku menghadapi, larilah sekencang kalian bisa! "
" Tak usah, Rey. Ini kakak sepupuku sudah membalas chat dariku. Katanya dia sudah dekat sini!" seru Mifta menenangkan kami.
Ravon yang sudah tak sabar, mencoba mendobrak pintu rumah Mifta dengan paksa.
'Bruk... Bruk.... Bruuaaakk....'
Terbuka sudah pintu penghalang diantara mereka. Ravon langsung memandang senang ke arah Novi yang semakin nampak gemetar karena ketakutan.
Robert yang hanya diam dari tadi, memberanikan diri mencoba melawan. Dia memukul tepat di depan wajah kakaknya, tapi ternyata tinjunya menembus tak tersentuh sedikitpun pada kulit maupun tulang tengkoraknya.
"Serahkan Novi, kalau kalian ingin selamat!" seru Ravon memberi penawaran.
"Gak usah banyak omong, kalau kamu laki-laki lawan saya saja. Jangan beraninya sama perempuan, gak seimbang!" sahut Rey maju ke depan dengan sebelah lengan yang masih ditahan Yumna dari belakang.
"Oow... Oww.... Anak ingusan mulai berani melawan! Baiklah, mumpung aku punya mainan baru yang belum pernah ku coba sebelumnya."
Ravon mengeluarkan sebilah pisau lipat dari sakunya. Pisau yang sepertinya sangat runcing dan tajam, saat dicoba menggores tirai di rumah Mifta.
Luasnya kebun di samping kanan dan kiri rumah Mifta, membuat para tetangga tak seberapa mendengar perdebatan mereka.
" Wah, Rey! Mundur ya. Bahaya, dia memang bukan orang waras," sahut Yumna.
" Haa... Haa.... Haaa......, bukan orang waras kamu bilang? Kalau iya memang kenapa?" tanya Ravon tanpa merasa berdosa.
"Apa maumu sekarang?" tanya Rey tanpa basa basi.
"Nggak perlu nge-gas, aku tahu pasti gadis ini sudah bercerita semuanya. Jadi sebaiknya, sekarang kalian menunggu giliran. Kira-kira mulai dari siapa dulu yang ingin mencoba belati baruku ini?" seru Ravon menunjuk Novi dengan senyum beringas.
"Kalau berani, maju tanpa sejata untuk melawanku!" sahut Rey penuh keyakinan.
__ADS_1
"Banyak ngomong, sepertinya darahmu yang harus mengalir pertama kali di mainan baruku!" ucap Ravon menjuruskan belatinya ke arah perut Rey.