Restoran Hantu

Restoran Hantu
Rencana Perlawanan 2


__ADS_3

"Rey, jadi kita ke rumah sakit Robert?" tanya Yumna ketika mereka di parkiran, sepulang sekolah.


"Jadi. Kita undang mereka ke restoran hantu, buat ikut rembukan nanti malam. Gimana?"


"Boleh!" jawab Yumna mengakhiri pembicaraan mereka sebelum masuk ke dalam mobil segera.


'Brrrhhuuummm.......'


Suara mobil Rey melaju menuju rumah sakit melewati jalanan yang sedikit lenggang.


"Om Barjo, semoga kita ketemu nanti!" seru Yumna.


"Iya, trimakasih sudah mendukung langkahku yang konyol ini."


"Konyol? Menurutku tidak, soalnya kamu berjuang untuk kebebasan nenekmu. Orang yang kamu sayang!"


"Cuma kamu yang bisa mengerti pemikiranku. Tak seperti lainnya yang hanya memikirkan caranya belanja dan jalan-jalan saja," ucap Rey sedikit terharu merasakan sikap Yumna yang selalu peduli. Tak hanya padanya dan manusia di sekitarnya saja, melainkan semua makhluk tertindas yang yang pernah ditemuinya.


Memang awalnya Rey menganggap Yumna gadis aneh, yang berbeda dari perempuan yang pernah dia temui sebelumnya. Tapi lama-lama, keanehan itu yang membuat dia semakin jatuh cinta setiap harinya.


"Rey, itu rumah sakitnya. Kelewat!" seru Yumna menunjuk ke belakang mobil mereka.


"Apa iya, ya sudah aku putar balik dulu."


"Kamu melamun?"


"Eh, engggak...... Om Barjo!" sahut Rey menunjuk, sambil menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah bangunan yang mereka tuju.


Saat sore seperti ini, suasananya tak terlalu mengerikan seperti yang pernah mereka rasakan. Tapi mungkin bagi orang awam, tetap saja tak ingin masuk ke dalam.


"Om, bisa nanti ajak teman-temannya kumpul ke restoran hantu kemarin?" tanya Yumna berjalan mendekati penunggu tempat terbengkalai di depannya, yang sedang bertengger di bawah pohon besar di depan bangunan rumah sakit itu.


"ADA ACARA APA?" suara om Barjo masih menggelegar seperti sebelumnya.


"Kita susun rencana untuk mengusir pemangsa di belakang gedung ini. Gimana?" bisik Yumna mencoba membujuknya.


"APA MEREKA BERANI MELAWANNYA?"


"Mau sampai kapan mereka akan bersembunyi saat makhluk itu berkeliaran mencari roh untuk dimangsa?"


"NANTI AKAN SAYA COBA BICARA DENGAN MEREKA SEMUA. TUNGGU SAJA NANTI TENGAH MALAM DI RESTORANMU, DAN SIAPKAN PESTA JUGA UNTUKKU. HAHAAAHAAA......," kembali suara menggelegar itu terdengar darinya.


"Rey?"


Yumna menatap lekat ke arah mata Rey. Berharap setuju, atas permintaan om Barjo agar dia mau mengumpulkan penunggu lain di tempat ini.


"Bereslah, sebentar lagi aku bilang sama si mbak di rumah buat menyiapkan banyak bahan untuk dimasak nanti malam," jawab Rey menunjukan jempolnya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, kita pamit dulu!" ucap Yumna dijawab anggukan oleh om Barjo, yang kembali menyandarkan tubuhnya lagi.


Baru beranjak ke luar gerbang, ada dua anak laki-laki berseragam sekolah setingkat di bawah mereka berdiri di luar pagar. Anak itu nampak heran atas apa yang mereka lakukan.


"Mbak sama mas nggak takut?" tanya anak bernama Deva sesuai tulisan yang menempel di baju atasannya.


"Takut apa?" tanya Yumna karena curiga anak itu bisa melihat om Barjo juga.


"Tadi aku lihat, kakak lagi ngobrol sama makhluk itu!"


"Yang bener, Dev. Kok aku jadi merinding gini ya, hiiii.....," sahut temannya yang bernama Doni.


"Iya, tapi sepertinya tak ada ibu kita yang aku lihat di sana. Lebih baik kita ke sini lagi lain waktu."


"Eittss... Sebentar! Maksudnya ibunya?" tanya Yumna mulai penasaran untuk mencampuri urusan mereka.


"Jadi ibuku itu....," sahut Doni terhenti saat mulutnya dibungkam oleh Deva.


"Ssstttt..... Nanti saja kita tanyakan lagi sama kakek. Ayo kita pulang! Permisi, Kak."


Tanpa menunggu jawaban, Deva langsung menarik tangan temannya menjauhi Rey dan Yumna.


"Rey?"


"Kita ikuti!" ajak Rey ikut menarik tangan Yumna pelan untuk mengendap mengikuti mereka.


Tapi Yumna dan Rey masih tak menyerah untuk terus membuntutinya.


"Rey, mereka masuk gang itu tadi kayaknya!" kata Yumna menunjuk ke sebuah gang sempit, tempat menghilangnya mereka berdua.


Pelan-pelan, Rey dan Yumna mulai mengintipnya.


"Cuma ada satu rumah, berarti itu bukan gang. Apa kita harus tanya ke sana?" tanya Yumna.


"Boleh, ayo kita lakukan saja. Aku sudah tak sabar mencari nenekku untuk membebaskannya."


"Sabar, Rey. Kita pasti bisa!" semangat Yumna pada Rey.


Mereka menguatkan diri dulu, sebelum melangkah masuk ke dalam jalan sempit itu.


"Ayo!" tarikan tangan Rey membuat Yumna melangkah mengikutinya.


Sesampainya di depan satu-satunya rumah yang ada di situ, Yumna mulai mengetuk pintunya.


"Permisi, Pak!"


"Ya!" jawab seorang laki-laki dari dalamnya tanpa menunggu lama.

__ADS_1


'Cklek....'


Suara pintu terbuka bersamaan dengan detak jantung Yumna yang semakin kencang, karena gugup harus bertanya apa.


"Eh, adik-adik ini siapa?" tanya seorang laki-laki setengah tua baru saja menunjukkan batang hidungnya.


"Saya Yumna, dan ini teman saya Rey. Mohon maaf sebelumnya. Ehmmm.... Kami hanya ingin tahu tentang Doni dan Deva."


"Oohh... Kalian temannya. Tapi kok seragamnya beda ya? Seperti sekolah menengah atas? Padahal Deva masih menengah pertama."


"Iya, tadi ketemu di jalan. Belum selesai ngobrolnya, Deva sudah cepet-cepet pengen pulang."


"Lhoh, sebentar. Maksudnya gimana ya? Kok kakek gak paham? Eh, masuk dulu saja kalau begitu. Sekalian kakek panggilkan Deva dan Doni yang kebetulan juga baru pulang."


Kakek tersebut memberi duduk untuk Yumna dan Rey di dalam. Rumah yang tak lebih besar dari rumah Yumna ini, nampak sangat asri. Beberapa tanaman tumbuh di teras rumahnya, yang nampak masuk ke dalam dari jalan raya tadi.


" Deva.... Sini, Le! "panggil kakek sambil menyodorkan teh hangat untuk tamu cucunya, meski dia masih bingung dibuatnya.


" Iya, sebentar! "


Tak lama mereka menunggu, Deva sudah keluar dari salah satu pintu kamar di rumah kecil itu.


" Lhoh, kalian lagi? Ada apa? " tanya Deva heran dengan kedatangan Rey dan Yumna.


"Deva, sebaiknya duduk dulu. Supaya kakak ini bisa menjelaskan apa yang terjadi," sahut kakeknya.


"Iya, Kek. Kenapa, Kak?"


"Maaf sebelumnya, kakak cuma mau tanya soal perkataanmu tadi. Kalian bilang 'ibu kita', kan? Maksudnya bagaimana?"


"Tak apa-apa. Gak ada hubungannya sama kakak juga," sahut Deva mulai ketus.


"Deva, jaga sikap!" nasehat kakeknya lembut.


"Maaf ya, Dek. Sebenarnya adek ini siapa, dan bagaimana ceritanya sampai bisa bertemu cucu saya, Deva dan Doni?" lanjutnya.


"Dia tadi ngobrol sama penunggu rumah sakit terbengkalai, yang kakek ceritakan sedang menahan ibu," sahut Deva kesal.


"Maaf... Maaaf, sepertinya ini ada kesalahpahaman. Jadi mungkin maksudmu makhluk pesugihan itu? Tapi yang kita ajak ngobrol tadi bukan makhluk itu, melainkan penunggu tempat itu sebelum makhluk pesugihan itu datang dan mengganggu semua makhluk tak kasat mata yang sudah menempatinya terlebih dahulu," jelas Yumna.


" Maksud kakak? Berarti ada makhluk lain yang lebih berkuasa di tempat itu? " tanya Deva lagi, disambut senyum lembut kakeknya.


" Iya, dan kita berencana mengajak kerjasama semua penunggu untuk melawannya. Karena sebelumnya kita juga sempat terjebak di sana. Dan sempat juga kesulitan menemui jalan keluar saat berusaha menolong seseorang. "


" Heemmmm....., lalu kenapa kalian ingin melawannya?" tanya kakek.


" Karena aku ingin menyelamatkan jiwa nenekku yang diperangkap olehnya! " sahut Rey datar, seperti biasa.

__ADS_1


__ADS_2