
"Kalian sebenarnya siapa?" tanya pak Praja yang mulai tak nyaman atas tatapan sinis Rey padanya.
"Aku Reyhan, anak dari Pak Prabu. Masih kenal?" tanya Rey mengingatkan.
"Prabu?"
"Lupa sama kakak sendiri? Ck...ckk....segitunya ya!" ucap Rey semakin kesal.
"Oh, jadi kamu yang namanya Reyhan? Yang sudah berani mencampuri urusan keluargaku?"
"Ya, aku berani mencampuri karena kamu sudah dengan tega menumbalkan nenekku!"
"ANAK KURANG AJAR! Berani-beraninya kamu menuduhku tanpa bukti?"
"Sudahlah, mengaku saja. Lalu kembalikan nenekku!"
"Apa yang harus aku akui?" tanya pak Praja berpura-pura, sambil melirik ke arah perawatnya.
"Kalau kamu tak mau mengaku, aku yang akan mencari tahu sendiri nanti!" gertak Rey langsung menggandeng Yumna meninggalkan tempat itu.
"Rey, sabar. Tenangkan emosimu!" kata Yumna mengikuti langkah Rey pergi.
Mereka berdua segera membereskan barang, dan pergi dari rumah sakit itu dengan kesal sekali, terutama untuk Rey sendiri.
"Kita ke restoran hantu saja. Sambil membicarakan rencana selanjutnya. Bagaimana?" usul Yumna.
"Iya, tapi ku antar kamu ke rumahmu dulu. Biar nenek tak cemas menunggu," sahut Rey lemas tak bersemangat seperti biasanya.
Sepanjang perjalanan pulang, Rey hanya diam tanpa kata sedikitpun. Yumna memaklumi saja sikapnya, dan membiarkan dia untuk menenangkan dirinya sendiri dulu.
Sampai tiba di rumah Yumna, dia langsung pamit pergi dengan alasan ada urusan penting.
"Memang Reyhan mau kemana?" tanya nenek Kip penasaran.
"Mau mencari neneknya."
"Bukannya nenek Reyhan sudah meninggal?"
Nenek Kip semakin penasaran, karena Reyhan yang dia tahu selalu ceria di depannya tiba-tiba terlihat murung begitu saja.
"Sebenarnya, Reyhan bisa melihat makhluk tak kasat mata. Sama sepertiku. Tapi dia tak pernah melihat arwah neneknya sekalipun, meski hanya berpamitan padanya saja. Aku akan menceritakan semuanya, dan tolong nenek harus janji agar tak kaget mendengarnya nanti."
"Kalau soal kamu, sebenarnya nenek sudah tahu itu. Tapi nenek tak pernah memperlihatkan, supaya kamu tak merasa berbeda dari manusia pada umumnya. Supaya kamu juga tetap percaya diri menghadapi kenyataan yang tak sesuai harapan kita. Tapi nenek percaya sama kamu, kalau kamu tetap kuat menjalani takdirmu. "
__ADS_1
'Degg...'
Ada perasaan bersalah tiba-tiba. Neneknya yang selama ini percaya padanya, ternyata sudah dibohongi oleh Yumna tentang pekerjaan yang dia lakukan selama ini.
Dia tak pernah bekerja di restoran saat siang hari, tapi justru malamnya harus mengendap keluar untuk memenuhi tanggung jawab pekerjaannya.
"Nek, hiks... Maafkan Yumna. Maafkan Yumna yang tak bisa menjaga kepercayaan yang nenek berikan, sampai Yumna bisa membohongi nenek. Maaf, Nek!"
"Bohong? Soal apa? Ceritakan, Nak."
"Sebenarnya, aku kerja di restoran Rey pada jam tengah malam. Untuk menyajikan makanan bagi para hantu. Jadi bukan restoran biasa pada umumnya. Maaf, Nek!" ucap Yumna tertunduk lesu.
"Iya, lalu kenapa Rey membuka restoran untuk para hantu? Untuk mencari neneknya?"
"Iya, Nek. Nenek nggak marah?"
"Tidak, nenek sudah tahu kamu sering menyelinap tengah malam. Tapi nenek tunggu saja, sampai kamu siap menceritakannya sendiri."
"NENEKKK! Yumna sayang sama nenek. Maafkan Yumna, Nek! Hiks....."
"Sudahlah. Yang penting kamu sudah jujur. Sekarang, apa yang menjadi masalah Rey? Sampai dia terlihat serius sekali seperti tadi."
Yumna mulai menceritakan semua yang diketahuinya tentang keluarga Rey. Mulai dari meninggalnya nenek Rey yang tiba-tiba, sampai ada tuduhan tentang tumbal penglaris pada pamannya yang sudah memisahkan diri dari keluarga besarnya.
"Yumna, bagaimana keadaannya? Ini ibu masakin sop buntut, diamakan ya!" ucap bu Nuri mendatangi Yumna dan neneknya yang masih asik bercerita, sampai lupa mengisi perut mereka.
'Krucukk....'
Cacing di perut Yumna bersuara menandakan minta makanan.
"Trimakasih, Bu. Silahkan duduk!" kata Yumna menerima mangkok yang di bawa bu Nuri.
"Trimakasih, Bu Nuri. Semoga ada balasan kebaikan nanti. Yumna, kamu makan dulu saja!" perintah nek Kip padanya.
"Aamiin!"
"Nenek makan bareng Yumna, yuk! Biar lebih enak kalau rame-rame. Sama bu Nuri juga lebih enak lagi nanti," jawab Yumna sudah tak sabar menikmatinya.
"Baiklah, kita makan bersama. Mari, Bu! Silahkan masuk, dan kita makan bareng-bareng seperti biasa."
"Trimakasih. Saya pulang saja, soalnya pak suami lagi di rumah juga. Yang penting sudah lihat Yumna sehat, hati saya sudah lega."
"Bu, trimakasih banyak atas perhatiannya selama ini. Yumna sangat sayang sama bu Nuri, dan tak akan pernah melupakan kebaikan ibu, hiks....," ucap Yumna tak kuasa menahan air matanya, merangkul bu Nuri yang sudah sangat berjasa untuknya.
__ADS_1
"Sudah, gak usah dipikirkan. Ibu sudah anggap Yumna seperti anak ibu sendiri. Yumna mau kan jadi anak ibu?"
"Trimakasih, Yumna tak dapat berkata apa-apa lagi selain kata terimakasih."
Mereka larut dalam keharuan beberapa saat, sampai terdengar bunyi telepon Yumna berdering kencang.
"Maaf, saya terima dulu."
"Iya, ibu juga pulang ya. Habiskan makannya, biar cepat sehat lagi!" perintah bu Nuri beranjak pulang ke rumahnya.
"Rey?" gumam Yumna, sambil menuangkan sayur pemberian bu Nuri ke piring makannya.
"Ya, ada apa Rey?" tanya Yumna lagi karena tak ada jawaban setelah menekan tombol hijau di layarnya.
"Sayang, maaf tadi aku tak bisa mampir ke rumahmu. Ku harap nenek Kip tak marah padaku. Tolong sampaikan maafku padanya," jelas Rey dari balik teleponnya.
"Iya, nenek ngerti kok. Kamu sekarang dimana?"
"Aku di restoran hantu. Ini lagi ngobrol dengan yang lainnya, bikin rencana buat mencari keberadaan nenek dengan melawan sembahannya Praja."
"Apa? Kamu serius? Rey, tapi itu bahaya lo."
"Aku tahu, tapi memang tujuan hidupku sampai saat ini untuk mencari nenekku."
"Rey, berarti aku bukan tujuan hidupmu?" tanya Yumna membuat nada sedih, berharap Rey menjadi iba dan mengurungkan niatnya untuk membahayakan dirinya sendiri.
"Lalu, apa rencanamu?"
"Kita omongin saat kita ketemu nanti. Sekalian aku mau ketemu nenek Kip untuk memohon restunya, agar usahaku berjalan sesuai rencana. Juga mau berkata jujur padanya tentang rahasia kita, restoran hantu. Ku harap kamu setuju!"
"Aku sudah membicarakan dengan nenek. Dan ternyata nenek tak marah atas apa yang aku lakukan di belakangnya."
"Heehh.... Syukurlah. Sedikit lega ganjalan di hati. Jadi sekarang tinggal memikirkan jalan untuk menyelamatkan jiwa nenek yang terperangkap menjadi tumbal."
"Ya sudah, kalau begitu aku ikut rencanamu. Kita lakukan bersama!" sahut Yumna yakin.
"Tidak! Sebaiknya aku saja yang melakukannya, dengan para hantu di sini. Kamu juga baru sembuh kan!"
"Rey, aku mohon jemput aku. Kalau tidak, aku akan berangkat sendiri ke rumah Pak Praja atau rumah sakitnya."
"Jangan! Baiklah, besok saja kalau begitu. Tapi kamu harus mempersiapkan kesehatanmu. Aku tak mau melihatmu seperti kemarin lagi."
"Siap, Boss!" jawab Yumna setuju dan melanjutkan menyantap sop buntut tadi.
__ADS_1