Restoran Hantu

Restoran Hantu
Menjenguk Bu Mey


__ADS_3

"Rumahku? Apa itu berarti, nenekku yang dijadikan tumbal?"


"Ku rasa iya. Berarti ayahnya Robert masih bersaudara kakak beradik sama ayahmu."


"Baiklah, biar aku yang menemuinya sekarang juga!"


"Rey, tunggu! Aaww....," teriak Yumna kesakitan saat jarum infusnya tertarik olehnya, yang terburu-buru hendak bangkit menyusul Rey yang sudah hampir melangkah pergi.


"Kenapa? Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Rey berbalik, langsung menolong Yumna yang darahnya mulai masuk ke dalam selang infus.


"Sakit!"


"Sebentar," ucap Rey mencoba menekan tombol panggilan kepada suster jaga di depan.


Tapi karena letaknya ada di belakang Yumna, Rey meraihnya dengan tangan menembus di atas pundak Yumna. Sampai jarak antara kedua mata tak lebih dari lima senti meter saja.


Ada rasa gemetar tak karuan dari dada keduanya. Rey yang sudah hanyut dalam perasaan cinta, mendahului mengecup Yumna sebentar, kemudian tak berkedip menatap wajahnya sambil mengelus rambutnya yang sedang terurai.


"Eh....," sahut seorang suster kaget melihat Rey dan Yumna masih saling menatap, saat membuka pintunya setelah mendengar tombol panggilan telah ditekan.


"Astaga, Rey!" sahut Yumna menyadarinya segera memundurkan posisi duduknya.


Rey yang tersipu malu, hanya pergi meninggalkan mereka berdua tanpa kata.


"Maaf, Sus. Tadi.....," ucap Yumna mencoba menjelaskan.


"Iya, santai saja. Saya juga pernah muda kok. Tapi hati-hati, jangan sampai kebablasan nanti," ucap suster tertawa kecil, membuat Yumna semakin tersipu malu.


"Yumna, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya bu Nuri yang baru datang membuka pintu kamar.


"Sudah lebih baik, Bu. Besok mungkin sudah boleh pulang, tapi harus tetap istirahat dulu di rumah. Kalau begitu saya kembali ke pos dulu, permisi," jawab suster setelah membetulkan letak infus di tangan Yumna, dan kemudian beranjak pergi setelah berpamitan.


"Syukurlah. Trimakasih, Suster. Lhoh Rey kemana?" tanya nek Kip memeriksa kamar mandi yang tak terdengar suara orang di dalamnya.


"Saya di sini, Nek. Tadi mau cari makan di luar, ternyata gak ada yang cocok seleranya," kata Rey yang hanya beralasan saja.


"Oh, kirain ditinggal pulang," seru nek Kip mengggoda.


"Ya nggak mungkin tega, Nek!" jawab Rey cengengesan.


"Ya sudah, kamu makan ini saja. Ibu bawakan bekal makan malam khusus buat kamu!"


"Wah, trimakasih. Saya makan ya!"


Rey terlihat ceria di depan mereka semua. Meski sebenarnya hatinya sedang terluka memikirkan cerita Yumna tentang neneknya.

__ADS_1


"Setelah itu nanti cepetan tidur ya, soalnya besok aku sudah boleh pulang," jelas Yumna pada Rey.


"Siap, bu bos! Besok aku saja yang mengantar kamu pulang " seru Rey memberi hormat pada Yumna sambil mengunyah makanan yang sudah tersaji di depannya.


****


"Rey, bangun! Sudah pagi," seru Yumna berusaha membangunkan Rey, setelah dokter memeriksa dan mengijinkannya pulang.


"Hooaaaahmmm...... Nenek sama bu Nuri?"


"Sudah pulang tadi. Kamu tidurnya nyenyak banget, jadinya gak tega banguninnya."


"Oh, terus gimana? Jadi pulang hari ini?" tanya Rey.


"Ya iyalah!" jawab Yumna merasa sehat, sambil memperagakan tangan gaya binaragawati.


"Ya sudah, aku siapkan semuanya dulu. Kamu tunggu di sini sebentar."


Tak lama setelah mencuci muka dan mengurus administrasinya, Rey kembali ke kamar untuk membereskan barang Yumna yang sedang ditemani oleh salah satu suster bernama Ina. Tapi saat mengangkat tas nya, tak sengaja terjatuhlah foto lama keluarga Robert ke lantai.


"Lhoo, mbak Yumna kenal sama bu Mey?" tanya suster Ina.


"Bu Mey?" Yumna bertanya karena belum paham apa yang dipegang suster di depannya.


"Iya, Bu Mey. Pemilik rumah sakit yang lama, sebelum pindah ke sini setelah mengalami kebakaran."


"Kalau kenal dekat sih tidak. Tapi saya dulu ikut bekerja di rumah sakit yang lama. Tapi saya beruntung karena baru pergantian shift kerja."


"Apa yang suster tahu tentang mereka?" tanya Yumna lagi.


"Setahu saya, kedua anaknya bermasalah. Trus bu Mey masuk ke rumah sakit karena kejiwaan terganggu."


"Suster tahu beliau dirawat dimana? Dan apa yang terjadi padanya? "


"Maaf, itu privasi rumah sakit yang tak boleh kami beritahu kepada orang lain selain keluarganya. Atau kepada orang yang berkepintimgan saja."


"Tapi saya masih keponakannya, Mbak!" ungkap Rey terpaksa mengakui.


Rey menunjukkan kartu identitasnya. Karena nama belakang Rey sama dengan suami bu Mey, ditambah alamat rumah Rey yang sudah terkenal, maka suster mempercayainya setelah dikeluarkan jurus rayu Rey juga pada suster Ina .


"Bu Mey masih ada di rumah sakit ini. Rencananya, besok setelah hasil pemeriksaan keluar akan segera dimasukkan ke rumah sakit jiwa kalau memang terbukti mengalami gangguan jiwa yang tak bisa dirawat jalan di rumah saja."


"Kasihan ya, Rey. Kita jenguk aja gimana?" usul Yumna.


"Tapi kamu masih belum sehat betul?"

__ADS_1


"Kan beliau masih ada di rumah sakit ini. Kita gak perlu jauh-jauh mencarinya kan!"


Yumna terus meyakinkan Rey dengan segala rayuannya. Akhirnya, Rey luluh juga menuruti kemauan Yumna untuk menjenguk bu Mey sebelum mereka kembali pulang ke rumah.


Suster Ina memberi tahu mereka tempat bu Mey dirawat. Jadi lebih memudahkan untuk langsung menuju ke kamarnya.


"Permisi, bisa saya bertemu bu Mey?" ucap Yumna mengetuk pintunya.


"Silahkan," jawab seorang wanita muda dari dalamnya.


"Bu Mey, bagaimana keadaannya?" tanya Yumna memulai.


"Ya masih seperti ini," tunjuk wanita berbaju perawat pribadi.


"AAAARRGGGHHHH...... AMPUUNN... BUKAN SAYA, TAPI SUAMI SAYAA.... ROBERT.... RAVON... hikss.... Maafin mama!" sahut bu Mey meracau sendiri sambil menangis.


"Memang sejak kapan bu Mey seperti ini? Apa semenjak kematian anaknya?" tanya Rey mencoba mendekati.


"Huwaaaa...... IBUU.... MAAFKAN SAYA. BUKAN SAYA... BUKAN SAYAA.....," serunya terlihat ketakutan saat didekati Rey.


"Maaf, kalau boleh tahu, kalian siapa dan dari mana?" tanya perawat itu lagi.


"Oh, saya keponakannya. Nama saya Rey, dan ini teman saya yang juga teman Robert juga."


"Oh, saya suster Dina. Tapi kok saya baru lihat tuan Rey ya, padahal saya ikut bu Mey sudah bertahun-tahun. Dan setahu saya, bu Mey tak punya saudara juga karena anak tunggal."


"Saya keponakan dari suaminya."


Rey menunjukkan kartu identitasnya, yang menunjukkan nama belakang yang sama dengan suami bu Mey.


"Jadi memang keponakannya. Tapi gak pernah main ke rumah ya?"


"Iya, saya juga baru tahu kalau saya punya paman karena orang tua saya sering ke luar negri juga. Jadi saya berniat menjaga silaturahmi dengan keluarga lainnya."


Bu Mey terus menatap Rey dengan ketakutan. Mungkin karena wajah Rey yang sedikit mirip juga dengan neneknya. Atau mungkin halusinasinya yang merubah wajah Rey seperti wajah neneknya.


" Bu Mey, bu Mey sehat ya. Sudah makan belum? " tanya Yumna mencoba pendekatan, dan menyingkirkan Rey sebentar agar lebih mudah mengakrabkan diri dengannya.


"Belum, aku lapar. Lapar! Tapi aku takut dia. Bukan aku yang melakukannya," seru bu Mey lagi.


"Mama, ini papa bawakan kue kesukaan mama! Lhoh, ada tamu?" ucap seorang laki-laki baru masuk dari pintu.


Rey langsung menatap tajam ke arahnya. Begitu juga dengan dia yang tak melepaskan pandangannya.


"PAPAA.... MAMA TAKUT! SINI... SINI....," teriak bu Mey pada suaminya.

__ADS_1


"Pak Praja, silahkan duduk di sini," kata perawat pribadinya.


__ADS_2