Restoran Hantu

Restoran Hantu
Ungkapan Perasaan Rey


__ADS_3

"Eh, Rey. Kalau aku amati, kok kayaknya wajah kak Ravon sedikit mirip ya sama kamu?" tanya Yumna membandingkan Ravon dan Rey secara bergantian.


"Masa sih! Kamu bisa aja. Ssstt, dengarkan mereka bicara apa, sambil kita pura main HP saja," sahut Rey menyusun rencana.


Samar-samar, Ravon terdengar sedikit mengancam. Dia bilang, kalau saja Novi bersaksi atas dirinya yang disangkutkan pada kematian Robert, Ravon tak akan tinggal diam.


Dia tak segan-segan membuat Novi bernasib sama seperti adik kandungnya sendiri.


"Hahh?" tanya Yumna tak sengaja menganga dengan menutup mulutnya, karena terkejut mendengar pernyataan Ravon.


"Ssstttt, rekam!" perintah Rey.


Novi terlihat sangat ketakutan mendengar ancaman itu. Ravon juga mengatakan, kalau dia akan terus mengawasi semua tingkah Novi kemanapun perginya.


Dia ingin menangis, tapi tak berani saat Ravon tepat di hadapannya. Sedangkan Ravon terus memberikan ancaman kepada Novi agar tak membuka mulutnya dengan sengaja ataupun tidak.


Setelah puas melihat Novi yang ketakutan, Ravon pergi meninggalkannya sendiri. Baru di situlah terdengar isakan tangis yang sempat tertahan.


Yumna yang sudah tak sabar, segara mendekat untuk menenangkannya.


"Kak, Kak Novi? Boleh saya di sini?" tanya Yumna menujuk kursi di depan Novi.


"Mau apa kamu? Aku tak mengenalmu meski kita memakai seragam yang sama. Jadi pergilah!" jawab ketus Novi pada Yumna.


"Boleh kami membantu Kakak?" tawar Yumna masih tak menyerah.


Belum sempat Novi menjawab, munculah Robert dari sampingnya.


"Kak Robert?" ucap Yumna keceplosan.


"Robert? Dimana dia? Apa kamu bisa melihatnya?"


Yumna tak menjawab dengan kata. Hanya anggukan kepala yang sudah mewakilinya.


"Jadi benar Robert masih di sini? Robert, hikk.... Maafkan aku yang tak bisa menolongmu!" tangis Novi pecah, dan mulai bersedia menyambut pundak Yumna.


"Ssshh....sshhh.....,Kak. Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Aku tahu kalau kak Ravon pasti akan terus mengancam kakak dimanapun. Iya kan!"

__ADS_1


"Iya, tapi aku juga bingung!"


"Bingung kenapa? Baiklah, kita ke tempat yang tak bisa di dekati oleh Kak Ravon. Mau?" tanya Yumna.


"Kemana? Apa ada tempat seperti itu?"


"Ikut saja dengan kami, bagaimana?"


"Baiklah, aku ingin segera mengakhiri kebohongan ini. Aku sudah tak sanggup untuk menutupi kejahatan seorang kakak terhadap adiknya sendiri!" geram Novi mulai berani.


Yumna dan Rey mengajak Novi menuju restoran hantu miliknya. Robert yang hanya diam, juga mengikuti mereka dari belakang.


Sepanjang perjalanan, Novi terus bertanya ke arah yang mereka tuju. Semakin memasuki daerah terpencil, semakin membuat Novi merasa sedikit curiga.


"Se...seebenarnya kalian mau bawa aku kemana? Kenapa semakin lama semakin jarang rumah penduduknya?"


"Tenanglah. Kita akan ceritakan sesampainya di sana nanti."


"Kalian bukan salah satu komplotan Ravon, kan?" tanya Novi mulai takut.


Novi mulai diam masih dengan sedikit gemetar. Dia sudah tak banyak bertanya sampai tiba di halaman restoran bergaya klasik yang terawat semuanya. Jauh pemandangannya dengan semak yang mereka lewati sebelumnya.


" Ini rumah? Atau restoran?" tanya Novi takjub melihat ada bangunan megah nan indah yang tertutup semak belukar.


"Sudah, kita masuk saja!"


Mereka berempat mulai masuk ke dalamnya. Para hantu teman Rey yang ada di dalamnya sempat kaget, karena mencium bau manusia lagi selain Rey dan Yumna. Tapi Rey segera menyuruh mereka kembali dengan mata batinnya. Agar mereka kembali ke tempat istirahatnya, untuk mempersiapkan diri melakukan pekerjaan nanti malam.


"Waaahh..... Ternyata dalamnya lebih indah!" takjub Novi melihat sekeliling ruangan.


"Duduk sini, Kak!" ajak Yumna pada sebuah sofa empuk di dekat perapian.


"Eh, sebentar deh. Kok gak asing ya kalau ku lihat foto besar di dinding itu? Tapi dimana ya?" kata Novi saat tak sengaja melihat sebuah foto berpigura emas tepat di atas perapian sebelah kanannya.


"Kamu kenal? Dia nenekku. Dimana kamu pernah melihatnya?" tanya Rey mulai antusias.


"Sepertinya ini foto yang sama dengan yang ada di rumah Robert. Meskipun tidak sebesar ini dan sudah sedikit kabur, tapi aku tahu kalau sama persis."

__ADS_1


"Iya, itu foto nenek. Nenek yang tak pernah setuju atas pernikahan kedua orangtuaku. Beliau yang dengan tega telah mengusir mereka dan mencoretnya dari nama ahli warisnya," jawab Robert mulai bersuara.


"Nenek? Tuh kan, bener. Memang kalau diamati, kalian itu sedikit ada kemiripan," sahut Yumna.


"Maksudnya apa?" tanya Novi pada Yumna yang tak mendengar suara Robert di dekatnya.


"Ini, Robert bilang kalau neneknya Rey itu juga neneknya dia," jelas Yumna menunjuk ke arah foto tersebut.


"Robert ada di sini juga?" tanya Novi antara takut dan senang.


"Iya, ssstt sebaiknya kita dengarkan dulu Rey dan Robert yang lagi berdebat itu!" jawab Yumna yang membuat Novi semakin bingung, karena hanya melihat Rey yang mati-matian membela kebaikan neneknya tanpa mendengar ucapan dari Robert.


Setelah merasa jengah, akhirnya Yumna berusaha menenangkan mereka berdua. Tapi setelah berulang kali mencoba, ternyata percuma karena perdebatan itu terus saja terjadi tanpa menemukan jalan tengahnya.


"HEEIIII....., kira-kira itu bisa dilanjutkan nanti nggak?" teriak Yumna yang sudah berulang kali tak didengarkan.


"Oke, sekarang bagaimana? Aku harus segera mencari nenek yang mungkin disembunyikan oleh ayahnya!" sahut Rey dengan muka merah menahan amarah.


"Enak saja, kalau ngomong tu dipikir dulu. Ayah dan ibuku selalu sayang sama siapapun, jadi tak mungkin mereka berbuat seperti itu!" bela Robert yang masih tak mau kalah.


"Permisi tuan-tuan! Kalau masih mau berdebat terus, sebaiknya aku dan kak Novi pergi dari sini. Yuk, Kak!" ajak Yumna meraih tangan Novi dengan kesal.


"Yumna, pliss. Temani aku sampai pencarianku selesai. Entah kenapa, aku jadi berat buat jauh dari kamu. Kamu manusia satu-satunya yang bisa memahami semua tingkah anehku selain nenekku," jawab Rey menahan Yumna dan langsung memeluknya.


"Rey!" panggil Yumna yang mendengar sedikit isakan yang tertahan.


"Yumna, aku sayang sama kamu. Tolong jangan pergi saat aku sangat membutuhkan kehadiranmu."


Rey langsung mengecup Yumna yang hanya diam tak bergerak. Hati Yumna menderu kencang, bersama dengan semilir angin yang datang meniup sepoi rambut indahnya. Hingga beberapa detik berlalu, keadaan masih seperti itu.


"Rey, tolong katakan sekali lagi dengan tulus. Jangan hanya karena kamu tak mau aku pergi meninggalkanmu," kata Yumna masih dalam pelukan erat Rey.


"Yumna Aurora, maukan kamu menjadi pendamping hidupku? Selamanya? Aku sangat membutuhkanmu sebagai semangat untuk melanjutkan hidup ini!" ucap Rey terlihat sangat serius.


"Kaku banget sih? Ya, aku juga menginginkan hal itu. Tapi kita harus fokus sekolah dulu, untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan. Aku ingin membuat bangga orang tuaku dengan terkabulnya cita-citaku, sebelum aku menikah nanti," jawab Yumna sedikit tertawa melihat wajah tegang Rey.


"Hehhh, lega rasanya kalau kamu ternyata punya perasaan yang sama. Bagiku tidak masalah kalau memang menunggu sampai kita lulus sekolah, bahkan sampai kapanpun bakal aku tunggu kesiapan dari kamu. Yang penting jangan pernah meninggalkan aku sendiri, karena aku sudah tak sanggup lagi," kata Rey semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2