
Akhirnya mereka bisa selamat sampai di luar, bertepatan dengan ambruknya bangunan rumah tanpa sebab yang masuk akal. Karena bangunan di sekitarnya tak mendapat pengaruh apa-apa dari getaran dalam rumah itu tadi.
"Uhuk.... Uhukk...., hehh...hehh....," nafas tersengal kakek Deva masih dipapah oleh seorang polisi.
"Bagaimana, ambulannya sudah berangkat?" tanya sepupu Mifta pada rekannya.
"Iya, sebentar lagi sampai katanya tadi. Kebetulan ada rumah sakit kecil tak jauh dari sini," sahut salah seorang polisi.
"Uhuk,... Heh... Hehh...., tolong jaga cucuku," kata kakek itu lemah.
"Kakek kuat ya, ayo bertahan demi mereka!" sahut Yumna yang masih sadar sepenuhnya, daripada semua sandra.
Kakek Deva hanya tersenyum, lalu memejamkan mata, kehilangan nafasnya.
"Kakek? Hehhh.... Sudah meninggal!" sahut sepupu Mifta yang memeriksa nadinya.
Beberapa saat, mereka larut dalam kesedihan. Sampai pada akhirnya, Rey sadar sepenuhnya meski masih dalam keadaan lemas dan terbaring di halaman rumah Praja dengan dibantu seorang polisi lainnya agar kepalanya tak terkena tanah.
Tapi Nek Kip, masih shock dan belum bisa komentar apa-apa.
"Rey, kamu sadar? Apa yang kamu rasakan?" tanya Yumna masih terisak oleh bekas tangisnya.
"Lumayan, sedikit pusing!"
Pandangan mata Rey masih sedikit buram, dan tangannya terus memegang kepalanya yang terasa berat sekali.
"Iii... Ituu, kakek Deva kenapa melambaikan tangan di sana? Sama dua orang wanita?" tanya Rey menunjuk ke arah jauh di belakang Yumna.
"Kakek? Kakek sudah lega, bisa membebaskan dan bertemu kedua putrinya?" kata Yumna ikut menoleh ke belakang.
"Maksudnya?"
Rey masih bingung, belum mengerti apa maksud Yumna. Sedangkan ketiga polisi yang mendengar percakapan yang tak bisa dilihat mereka, hanya bisa bergidik ngeri saja. Karena mereka sudah mengira, itu pasti akan terjadi saat berada di dekat Rey dan Yumna.
"Rey, kakek Deva sudah tiada. Mungkin itu ibu Deva dan Doni," jelas Yumna dijawab anggukan sosok jauh di sana.
Ketiga sosok itu melambaikan tangannya, lalu menghilang entah kemana.
"Akhirnya bisa tenang juga mereka," jawab Yumna sedikit melupakan kesedihan atas kepergian penghuni jasad di sebelahnya, yaitu kakek Deva.
"Kalau kakek itu bisa membebaskan putrinya, lalu dimana nenekku?" tanya Rey mulau mengedarkan pandangan ke sekitar tempat ini.
Jauh, jauh dari tempat kakek Deva pergi, mulai muncul sosok besar yang mereka kenal. Om Barjo, mulai mendekat menuju Rey dan Yumna yang sedang menunggu penyelamat yang dihubungi datang.
Ketiga polisi itu juga sempat ikut terluka. Akibat runtuhnya bangunan rumah di depan mereka sekarang, meski tak terlalu parah juga. Tapi tak cukup punya tenaga, setelah sempat kebingungan mencari jalan keluar disertai tertimpa pecahan bangunan.
"Om, bagaimana di sana? Aman?" tanya Yumna melihat ekspresi senang dari wajah Om Barjo yang sudah berdiri tepat menghadap mereka.
"Sukses, makhluk itu sudah lenyap. Pergi karena pengikutnya juga tak memberi makan lagi. Ditambah dibakarnya tempat pemujaan di dalam kamar mayat, tempat bersemayam makhluk itu oleh Deva dan Doni."
__ADS_1
"Hah? Deva dan Doni ke sana?"
"Iya, mereka yang membakar habis tubuh makhluk itu, setelah lemah diserang kami semua."
"Hehh.... Sayangnya aku masih belum bisa bertemu nenekku," kata Rey masih lemah berbaring di halaman rumah.
"Oh iya, aku tadi ke sini mau kasih kejutan buat kalian. Sebentar,.... Suiuiiiit......," suara Om Barjo seperti memanggil sesuatu jauh dari tempatnya muncul tadi.
Pelan-pelan, ada dua wanita berdaster putih lusuh sedang menggandeng seorang wanita. Wanita tua yang sudah diharapkan oleh cucunya. Nenek Rey, berjalan semakin mendekati mereka.
"Rey?" tanya Yumna memastikan, karena hanya pernah melihaynya dari foto saja.
"Nenek?"
Rey berusaha sekuat tenaga. Duduk meski dengan terpaksa. Lambat laun, kekuatannya bisa digunakan untuk berdiri meski sedikit terpapah nyeri.
"Nenek?" ucap Rey lagi, berjalan pelan menghampiri sosok tua yang tersenyum ramah kepada cucunya.
"Dia kenapa? Kok tiba-tiba bisa langsung jalan gitu? Padahal tadi sepertinya lemas tak berdaya," heran seorang polisi yang tak tahu apa-apa.
"Akhirny, Rey bisa mewujudkan impiannya selama ini. Bertemu dengan jiwa neneknya, meski hanya untuk berpamitan saja," jawab Yumna menambah ketiga polisi itu bergidik ngeri.
Rey masih berusaha mendekati neneknya. Dan kedua wanita berdaster lusuh itu memberikan kesempatan pada Rey, dengan menjauhi neneknya. Supaya mereka bisa saling melepas rindu, meskipun hanya sementara.
'Nii.... Nuu.... Ni... Nuuuu....'
Sirine ambulan memecah keheningan malam ini. Tak berselang lama, sekumpulan mobil polisi juga tiba di lokasi.
"Nek, maafkan Rey yang baru bisa mengakhiri penderitaan nenek meski sudah tiada. Maaf!"
Nenek Rey tak menjawab, hanya melambaikan tangan ke arah Yumna. Supaya dia mau lebih mendekat ke dalam tangis haru mereka.
"Jagoan nenek, semangat ya. Itu ada gadis baik yang menunggumu melanjutkan kehidupan ini. Nenek pamit ya sekali lagi terimakasih!" ucapnya pada cucu kesayangan.
"Nek?" tanya Rey masih merasa berat.
"Nak, tolong bahagiakan cucuku ya. Hanya kamu yang bisa membuatnya semangat melanjutkan hidupnya. Nenek pamit ya, Rey, Yumna....."
"Nenek?" ucap Rey lagi, mengiringi langkah neneknya pergi, menuju sebuah cahaya terang jauh di sana.
"Tey, ikhlaskan. Supaya langkahnya ringan, kalau kamu bisa melepasnya dengan ikhlas. Demi kebaikan nenekmu di alam selanjutnya," nasehat Yumna.
"Yumna, terima kasih ya. Kamu selalu ada untukku.
Tanpa memperdulikan sekitar, Rey langsung memeluk rapat Yumna.
" Ehem, Mau ke rumah sakit sekalian? " tamya sepupu Mifta menggoda.
" Eh, iya. Ayoo! " jawab Yumna malu, melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
****
Seminggu kemudian....
Nenek Kip sudah lebih baik. Dan sudah diperbolehkan rawat jalan di rumah saja. Sedangkan Deva dan Doni, diminta Rey menjadi adik angkatnya.
Itupun setelah meminta persetujuan dari orang tua Rey di luar negri sana.
Merekapun menerimanya meski kadang masih bersedih atas kematian kakeknya, keluarga satu-satunya yang mereka tahu.
Beberapa hari ini, Rey meminta Yumna agar bisa menyendiri. Menenangkan hatinya, sampai benar-benar tak merasa terluka.
Sampai pada siang hari saat istirahat, Yumna mencoba memulai obrolan dengan Rey berdua saja. Di kelas yang kebetulan ditinggal semua penghuninya menuju kantin sekolah dan lapangan bola.
"Rey, tadi Mifta cerita. Katanya ternyata di bangunan roboh milik Praja ditemukan sepuluh mayat pria, terbakar sampai seluruh badannya. Padahal saat kita di sana gak ada kebakaran sama sekali kan ya?" ucap Yumna memulai, dengan menyampaikan kondisi pemuja iblis, yang tega menumbalkan para manusia yang sedarah dengannya.
" Oh ya? Apa itu termasuk Praja? "
" Mungkin iya. Sepertinya mereka kesulitan menemukan jalan keluar. Meski di rumah yang sehari-hari sudah ditinggalinya."
"Dia pantas menerima itu. Tapi aku lega sekarang, karena sudah tahu bahwa nenekku pergi dengan keadaan tenang tanpa beban yang tertinggal."
"Nah, gitu dong. Oh iya, nanti kita ke rumah sakit jiwa yuk. Kita jenguk istri pak Praja!" ajak Yumna mulai bersemangat berpetualang lagi.
"Kemarin aku dapat kabar, kalau istri Praja bunuh diri. Menggantungkan dirinya di pohon rumah sakit jiwa."
"Kok bisa? Suster perawatnya kemana?"
"Dia menyerah, dan memilih pulang kampung saja. Dan saat rumah sakit sepi jauh dari perawat dan pasien lainnya, istri Praja nekat melakukannya."
"Hehh... Mungkin itu bisikan setan yang sudah melekat dari dirinya. Setelah ikut melakukan pemujaan juga sebelumnya," sahut Yumna.
"Yumna, terimakasih telah membantuku selama ini. Karena nenek sudah ketemu, jadi Restoran Hantu akan aku tutup saja. Begitu juga dengan rumah sakit hantu yang pada akhirnya tetap jatuh pada hak keluargaku meski kami tak memintanya. Setelah Ravon dinyatakan gila saat dipenjara. "
" Yaahhh, aku dipecat dong kalau gitu. Hehh, kerja apalagi buat bisa nerusin sekolah ya? " pikir Yumna mengetuk-ketukkan jari.
" Restoran Hantu akan aku benahi, dan membukanya menjadi rumah penampungan kucing saja. Aku akan mempekerjakan beberapa pelayan nanti di sana."
" Wahh, boleh ikut melamar jadi karyawannya kan? " kata Yumna memohon.
"Boleh dengan syarat."
"Apa itu?"
"Terimalah lamaranku juga untuk menjadi suamimu, setelah kita menyelesaikan pendidikan ini."
"Eh, ehmmm... Kalau itu sih gak nolak," jawab Yumna tersipu malu.
"Yess! Terimakasih," sahut Rey hendak memeluk Yumna.
__ADS_1
"Hohohooo.... Sabar ya. Belum saatnya. Tapi ngomong-ngomong, terimakasih sudah menyerahkan rumah sakit hantu itu menjadi tempat kami sepenuhnya. Tanpa gangguan Darkon si pemangsa manusia," kata Om Barjo membuyarkan obrolan mereka berdua.
***END***