
"Permisi, Pak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rey menawarkan diri.
"Ii.. Iiyaa, istri saya. Kok jadi gini?" jawab lelaki itu masih kebingungan sendiri.
"Istrinya kenapa, Pak?" ganti Yumna yang pelan-pelan mencari tahu penyebab kebingungannya.
"Istriku, tadi dia melahirkan di rumah sakit ini. Kok sekarang jadi gini?"
"Jadi gini bagaimana? Bukannya ini rumah sakit lama? Sekarang semua alat medis dan pengurusnya sudah pindah ke rumah sakit di sebelah sana. Baru saja kita dari sana ya, Rey?"
"Iya, ini sudah terbengkalai lama, Pak."
"Lalu, bagaimana nasib istriku?"
"Memang tadi istrinya ditaruh mana?" tanya Yumna sedikit gemas.
"Sudah, nanti saja ceritanya. Sambil jalan kita cari di dalam sana!" sahut Rey memutuskan pembicaraan mereka.
Mereka bertiga mulai masuk ke dalam sebuah rumah sakit tua, yang tak berpenghuni bertahun-tahun lamanya.
Kosong, sepi, dan gelap yang Yumna dan Rey rasakan pertama kali. Tapi hawa dingin dan pengap mulai merasuki tubuh mereka. Ada perasaan tak enak yang mengganggu Yumna saat mengikuti lelaki itu menyusuri lantai dalam kegelapan malam. Tapi dia mengacuhkannya, demi menolong nyawa seseorang.
Hawa makhluk tak kasat mata sangat pekat sekali meski tak menampakkan diri. Bahkan untuk mereka yang tak terbiasa merasakan seperti Rey dan Yumna, pasti tak nyaman dibuatnya.
Sambil berjalan mencari, laki-laki itu mulai memperkenalkan dirinya.
Namanya Ringgo, dia berasal dari kota berjarak kurang lebih tiga ratus kilo meter dari tempat itu. Dia berencana membawa istrinya yang sedang hamil tua untuk pulang ke kampung halamannya.
Tapi saat masih berada di sekitar tempat mereka sekarang, istrinya sudah mulai mulas kontraksi. Dia kebingungan, harus mencari bantuan pada siapa karena jalanan nampak sepi sekali.
"Lalu, bagaimana bisa mas Ringgo membawa masuk istrinya ke tempat ini? Tempat gelap dan mengerikan seperti ini?" tanya Yumna berjalan pelan melihat ke kanan dan ke kiri menyusuri setiap sudut rumah sakit yang sangat luas.
"Saya juga bingung, soalnya kejadiannya terasa sangat cepat sekali. Yang saya tahu, kami tiba-tiba berdiri di depan bangunan rumah sakit yang masih beroprasi, keadaannya tak seperti sekarang ini," jawab Ringgo seperti orang yang sedang linglung karena terlalu bingung.
__ADS_1
"Lalu?"
"Ehmm.... Lalu ada seorang perawat yang keluar dari rumah sakit ini, dan dengan sigap membawa masuk istri saya ke dalam. Padahal kami belum meminta pertolongan dari dalam, tapi sepertinya dia sudah tahu kedatangan kami ke sini untuk kelahiran. Suster itu juga sudah menyiapkan kursi roda untuk istri saya menuju ke dalam tanpa saya bilang sepatah katapun. "
"Apa mas tidak merasa aneh sama rumah sakit ini sebelumnya? " tanya Yumna.
"Awalnya tidak, karena rumah sakitnya nampak seperti pada umumnya, terang benderang tak seperti sekarang. Tapi lama-lama, karena semua perawat dan dokternya, bahkan semua pasiennya hanya diam dan pucat tanpa kata, saya sedikit merasa aneh juga akhirnya."
"Mas tidak curiga?" tanya Yumna lagi.
"Saya gak mikir apa-apa waktu itu. Saya hanya berpikir bagaimana cara menyelamatkan istri dan anak saya saja terlebih dahulu."
"Lalu, kenapa mas bisa sampai kehilangan istrinya? Memangnya ditinggal kemana?" tanya Yumna lagi.
"Setelah istri saya dibawa masuk ke ruang bersalin, saya disuruh untuk menunggu diluar dengan isyarat tangan menghentikan langkah saya, kemudian mereka menutup pintunya dari dalam."
"Trus?"
"Kemudian mas Ringgo kaget melihat keadaan rumah sakit yang sebenarnya?"
"Gak cuma kaget, saya langsung lari masuk ke dalam sini. Tapi malah muter-muter gak jelas, dan tidak menemukan ruang bersalin itu lagi. Saya keluar rumah sakit dan mencoba masuk berkali-kali tapi tetap sama."
"Rey, kok aneh ya? Sepi banget, padahal tadi di atas gentengnya banyak makhluk berdaster lagi singgah. Kenapa di dalamnya sepi? Dan nggak mungkin itu terjadi pada bangunan kosong seperti ini, " sahut Yumna mulai cemas.
"Hati-hati manipulasi para makhluk tak kasat mata yang seperti ini. Justru mereka yang harus diwaspadai bisa menyesatkan dan mencelakakan manusia," bisik Rey di dekat Yumna.
'Degh.....'
Jantung Yumna seketika berdetak ragu untuk melanjutkan langkahnya. Seperti ada ancaman baru di sekitar sini yang tak baik untuk mereka.
Yumna tak sadar langsung menggenggam erat jari Rey agar tak terlepas darinya.
" Kok dari tadi gak nemu ruang bersalin ya? Coba mas Ringgo ingat-ingat, tadi setelah kita masuk trus jalan kemana?" tanya Yumna gelisah.
__ADS_1
"Saya bingung juga, Mbak. Saya sendiri sudah berkali-kali mencoba mencari tapi nggak nemu juga. Bagaimana keadaan istri dan anak saya ini?" sahut Ringgo semakin khawatir.
"Kita cari terus, sambil berdoa. Kamu kenapa Yumna?" tanya Rey melihat Yumna sedikit pucat saat terkena cahaya senter dari smartphone miliknya.
"Engg... Enggak apa-apa. Ayo, kita lanjut lagi."
Yumna mengganti genggaman tangannya dengan memeluk erat lengan Rey. Baru sekarang dia merasakan ketegangan seperti ini saat menghadapi makhluk tak kasat mata.
Koridor demi koridor, bangsal demi bangsal, dan satu per satu kamar mulai dilaluinya. Tapi mereka akan kembali menuju ruang resepsionis seperti semula.
"Ada yang aneh memang. Rasanya semua ruangan nampak sama. Dan akhirnya kita kembali ke sini lagi," sahut Yumna gugup.
"Kamu takut?" tanya Rey yang merasakan degupan jantung Yumna di lengan kirinya yang semakin erat dipeluk Yumna.
"Heeehhh.... Kamu?" tanya Yumna balik sambil mengeluarkan nafas kasarnya.
Rey tak menjawab, hanya sedikit tersenyum sebagai jawabannya. Senyum itu sebenarnya hanya sebagai penutup rasa gelisahnya juga. Tapi dia melakukan itu agar tak membuat Yumna semakin khawatir saja.
" Sekarang kita kembali ke ruangan ini untuk ke sekian kalinya. Coba mas Ringgo ingat-ingat lagi dulu, bener nggak tadi beloknya? Kan tadi ada beberapa jalan bercabang," sahut Yumna memandang wajah Ringgo yang semakin pucat ketakutan.
"Istriku dan anakku kemana? Aku yakin, tadi jalan yang aku lakui sudah benar. Tapi kenapa jadi seperti ini?"
"Apa sebaiknya kita berpencar saja?" usul Rey.
"Rey, nanti kalau aku ikut kesasar dan gak bisa menemukan jalan keluar bagaimana?"
"Mas Ringgo berani tidak jalan sendiri? Nanti aku sama Yumna berjalan ke arah lainnya," sahut Rey memberi usul.
Ringgo hanya mengangguk setuju mendengar usul itu. Meski sebenarnya dia juga ragu untuk melakukannya sendiri. Ditambah rasa lelah karena sudah berulang kali memutari rumah sakit ini.
" Mas yakin kan berani? Demi mencari istri dan anak mas Ringgo sendiri," seru Rey memberinya semangat lagi.
"Ya, ayo kita lakukan. Aku tak ingin mereka kenapa-kenapa. Setelah ini kami akan segera pergi jauh dari tempat ini selamanya, dan tak ingin melewati tempat ini lagi, hhuuuffht," ucap Ringgo kesal bercampur lelah atas keadaannya sendiri.
__ADS_1