Restoran Hantu

Restoran Hantu
Perjalanan Keluar Rumah Sakit


__ADS_3

Rey mulai mengarahkan cahaya yang dipegangnya ke sekitar tempat mereka bersembunyi.


"Hueekkk.....," seru Yumna saat melihat beberapa botol kaca dengan gumpalan daging aneh di dalamnya.


"Ini tempat apaan sih? Apa tempat penyimpanan bekas oprasi? Atau laboratorium?" lanjutnya.


"Sssstttt..... Diam saja. Aku intip sebentar ya, semoga makhluk itu sudah pergi," bisik Rey mendekati jendela.


Kosong, sudah tak nampak lagi sosok mengerikan itu di depan ruangan mereka bersembunyi.


"Kemana burung gagak tadi?" tanya Rey melihat sekitar mereka masih dalam kegelapan.


"AKU DI SINI!" serunya sedang duduk dengan wujud hitam raksasa seperti sebelumnya.


"Aaaaarghh....heemppt....," teriak Yumna langsung dibungkam oleh Rey saat kaget melihat arah suara itu berasal.


"Sebenarnya kamu siapa? Apa maumu dari kita?" tanya Rey memberanikan diri.


"AKU TAK INGIN APAPUN DARI KALIAN. AKU HANYA SUKA MENGGODA MANUSIA SAJA, TERUTAMA WANITA HAMIL DAN SEDANG DATANG BULAN. TAPI KALAU YANG SUKA MENJERUMUSKAN SAMPAI AJAL MENJEMPUT, BUKAN AKU. TAPI DIA!" tunjuk sosok hitam berbulu itu ke arah makhluk aneh yang suka menggeram tadi.


" Lalu kenapa kamu berpura-pura ingin menunjukan jalan pulang, padahal ingin mempertemukan kami dengan makhluk itu! " seru Rey mulai emosi.


" AKU TAK BERMAKSUD SEPERTI ITU. TAPI PERCAYALAH, KALAU AKU BENAR-BENAR INGIN MENOLONG KALIAN."


"Sudahlah, Rey. Aku percaya sama dia. Mungkin tadi tak sengaja dilakukannya. Ya kan, Om?!" ucap Yumna memotong perdebatan.


"KU KIRA KALIAN ORANG BAIK, MAKANYA AKU INGIN MENUNJUKKAN JALAN KELUAR. TERNYATA SALAH!" jawab sosok hitam itu hendak pergi.


"Om, pliiss. Tolong Yumna ya. Nanti Yumna kenalin sama cewek cantik di restoran khusus para hantu. Gimana?" rayu Yumna.


"Nggak, enak aja kamu memutuskan!" seru Rey masih kesal.


Tapi dengan cepat Yumna segera berganti membungkam mulut Rey. Kemudian melanjutkan rayuan lainnya pada sosok raksasa di depannya, masih dengan tujuan yang sama. Yaitu mengantar mereka berdua keluar dari tempat itu, dengan imbalan membuatkan pesta untuk dia sebagai bintang utama di restoran nanti malam.


"BAIKLAH, AYO IKUT AKU! TAPI KALAU DIA MASIH TAK PERCAYA, BIARLAH DIA MENCARI JALAN KELUARNYA SENDIRI," sahut makhluk berbulu itu tegas menatap tajam ke arah Rey dengan mata merah menyala yang semakin dipelototkan.

__ADS_1


"Jangan modus, Om. Mana mungkin aku biarin Yumna ikut sendiri. Dia kan...heeemmmpht!" ucap Rey terputus karena tangan Yumna kembali menutup mulutnya.


"MODUS ITU APA?" tanya makhluk itu tak mengerti.


"Sudah gak usah dipikur, Om. Silahkan duluan!" ucap Yumna penuh harap agar segera diantar keluar.


Akhirnya makhluk raksasa itu berjalan mendahului, dengan diikuti Rey dan Yumna kembali. Lorong demi lorong mereka lewati tanpa masalah lagi. Justru diperjalanan keluar ini, semakin lama semakin nampak sedikit ramai tak seperti sebelumnya.


Bayangan-bayangan makhluk berdaster mulai terlihat, anak berkepala besar seperti boneka mampang juga berjajar bermain bersama, hingga makhluk bertubuh campuran manusia dan hewan mulai berjalan melewati mereka.


Semakin lama semakin muncul makhluk-makhluk yang berseliweran lainnya, dengan berbaju seragam rumah sakit seperti suster, dokter dan para pengurusnya.


"Rey, kok mulai kelihatan ramai ya? Itu juga dokter yang menolong kelahiran tadi kan?" ucap Yumna masih berjalan mengikuti sosok raksasa di depannya.


"Tanya sama om mu itu. Mana aku tahu?"


"Om? Om raksasa?" panggil Yumna pelan agar tak membuatnya marah lagi, karena cukup sulit untuk merayunya lagi nanti.


"HEEEMMMM.....," jawabnya.


"SEKARANG WAKTUNYA MEREKA KELUAR SEMUA. SETELAH MAKHLUK BERTARING ITU KEMBALI KE SARANGNYA."


"Memang siapa sebenarnya makhluk itu?" tanya Rey menyela.


"MAKHLUK PEMANGSA ROH, DAN SUKA MENJERUMUSKAN MANUSIA," ucapnya.


"Ada juga ya yang seperti itu?" sahut Yumna yang baru pertama melihatnya.


"Oh, iya aku juga pernah dengar. Jadi ada makhluk buas yang sengaja menjerumuskan manusia untuk kemudian diambil jiwanya. Apa seperti itu?" jelas Rey.


"YA, SEJENIS ITULAH SIFATNYA! TUH, SUDAH SAMPAI DI DEPAN. BISA MENERUSKAN SENDIRI KAN JALANNYA PULANG?"


Sosok hitam raksasa itu menunjuk ke tempat resepsionis, dimana kita baru saja masuk untuk pertama kalinya tadi.


"Trimakasih, Om. Sebentar lagi tengah malam, jangan lupa mampir ya ke alamat yang sudah saya sebutkan tadi," kata Yumna mengingatkan janjinya untuk membuatkan pesta.

__ADS_1


"NAMAKU BARJO, NANTI SAYA AKAN DATANG KE TEMPAT YANG SUDAH KAU SEBUTKAN TADI. APA BOLEH SAYA MENGAJAK BEBERAPA MAKHLUK DARI SINI?"


'Deeeegh....'


Sempat ada rsa gugup di hati Yumna. Membayangkan kalau ternyata yang diajaknya ke sana adalah makhluk bertaring penguasa tempat ini.


" TENANG, AKU JUGA TAK MUNGKIN MENGAJAK MAKHLUK ITU. DIA PASTI AKAN MEMBUAT KACAU PESTAKU, HA... HA... HAA.....," seru om Barjo tertawa mengejek Yumna.


Yumna hanya meringis, meski sebenarnya dia bingung juga saat isi hatinya dijawab oleh sosok di depannya.


" Baiklah, kami permisi dulu Om Barjo. Sekali lagi terimakasih! " ucap Yumna pamit.


" EHEEMMM....., " sahut Barjo menyindir Rey yang masih kaku sama pendiriannya.


"Trimakasih!" sahut Rey singkat dengan kode Yumna yang menginjak kakinya agar mereka segera bisa pulang malam ini.


Yumna dan Rey mulai keluar dari rumah sakit aneh itu dan segera memacukan mobilnya menuju rumah Yumna. Sepanjang perjalanan, mereka berdua terus membicarakan asal mula kepindahan rumah sakit itu ke tempat lain.


Menurut yang diketahui Rey, rumah sakit tersebut pernah mengalami kebakaran hebat beberapa tahun yang lalu. Banyak pasien dan petugas kesehatan yang tak bisa menyelamatkan diri ya sendiri.


Masih menurut rumor yang beredar, katanya pemilik rumah sakit yang dulu sempat bersekutu dengan setan untuk melancarkan usaha rumah sakitnya itu. Tapi ternyata kejayaannya tak berjalan lurus sebagaimana mestinya.


Dia sudah tak dapat memberikan tumbal karena hanya tinggal keluarga kecilnya saja yang tersisa. Keteguhan hatinya pada hal yang salah, sampai rela menumbalkan ibunya juga.


Tapi nasib berkata lain. Makhluk yang dipuja marah dan menghancurkan semuanya. Termasuk merenggut kembali rumah sakitnya, menghancurkannya untuk mendapatkan tumbal dari orang yang masih terjebak di sana.


"Trus orangnya bagaimana? Kok bisa memindahkan rumah sakitnya, berarti dia gak kenapa-kenapa dong?"


"Aku juga kurang tahu selanjutnya seperti apa. Nanti kita tanyakan sama Om kamu saja," jawab Rey mengejek Yumna.


"Eh, Rey. Tadi aku sempat menemukan ini di tempat kita sembunyi. Kayaknya ini foto apa ya?"


Yumna menyerahkan selembar kertas pada Rey yang sedang mengemudi. Tapi mereka tak bisa melihatnya dengan jelas karena ada bekas terbakar di gambarnya. Ditambah keadaan malam yang gelap melengkapi terbatasnya pandangan mereka.


" Besok siang saja kita lihat lagi. Bawa dulu, tapi jangan sampai hilang."

__ADS_1


"Baiklah, aku simpan dulu ya kalau begitu!" jawab Yumna memasukkan lagi selembar kertas itu ke dalam tasnya.


__ADS_2