Restoran Hantu

Restoran Hantu
Gangguan Rumah Baru Novi


__ADS_3

"Siapa di sana?" tanya Yumna menyahuti.


Hening, tak lagi terdengar apapun dari ruangan manapun.


"Rey, Yumna? Kalian menemukan apa?" tanya Novi mendekati mereka.


"Eh, tidak. Gak ada apa-apa kok. Ayo kita lanjutkan saja memasukkan barang-barangnya," jawab Yumna tak ingin membuat Novi semakin khawatir.


"Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya ayah Novi berniat memanggil mereka semua.


"Enggak apa-apa, Om. Tadi cuma pengen lihat-lihat saja he.....," jawab Yumna semakin menutupi rasa gelisahnya, karena memperkirakan ada sesuatu yang pernah terjadi di rumah itu.


"Ya sudah! Ayo kita istirahat minum dan makan camilan. Sudah disiapkan sama paman dan bibi Novi itu di depan."


"Oh, iya. Trimakasih!" jawab Yumna singkat.


"Ada yang kesenengan ini kayaknya, kalau denger kata camilan," sahut Rey menggoda Yumna.


"Sssttt.... Tahu aja. Ayo, biar gak keduluan sama pak sopir tadi!"


Yumna meringis sambil menggeret lengan Rey agar segera ke depan lagi.


"Wahhh.... Kelihatannya enak tuh donatnya. Kue sus nya juga enak. Eh, tapi bolunya kelihatannya lebih enak. Jadi bingung mau pilih yang mana dulu," bisik Yumna tiba di depan camilan yang sudah disediakan dengan es sirup markisa.


"Hadeehhh, untung cinta. Kalau nggak, sudah ku tinggal pergi nih anak. Malu-maluin aja!" jawab Rey menepuk dahinya sendiri.


"Gak apa-apa, Rey. Silahkan, incip semuanya juga boleh kok. Tanteku itu memang jago bikin kue, makanya menarik selera banget setiap dia bikin apapun."


"Gak begitu juga, tante baru belajar kok!" sahut tante Novi.


Dia baru tiba dari belakang Yumna, sambil membawa nampan berisi risol dan martabak telur. Sedangkan paman dan ayah Novi masih mengurus kepindahannya pada pejabat daerah yang berwenang di tempat tersebut.


"Waduh, tambah bingung aku kan milihnya."


"Sssttt.... Jangan norak. Nanti aku beliin di mall kalau pas lewat."


"Biar saja, justru tante suka sama anak yang apa adanya seperti dia. Silahkan diincip semuanya, nanti komentar ya rasanya bagaimana? Kalau kurang apa bilang saja, biar bisa dikoreksi rasa lain kali."


"Eh, iya tante. Trimakasih! Nyam.. Nyam... Ini risolnya enak banget. Nyam... Nyam... Martabaknya juga enak," kata Yumna sudah mencomot dua buah kue yang berbeda di tangan kanan dan kirinya.

__ADS_1


'BRRUKKKK!'


"Uhuk, uhuk, uhukk.....!" Yumna tersedak karena kaget mendengar suara aneh dari dalam rumah yang tak ada orangnya itu.


"Ini minum dulu. Suara apa ya itu?" tanya Novi sambil memberikan segelas air untuk Yumna, dan segera dihabiskan dalam satu tegukan saja.


"Tadi... Tadi aku lihat ada wanita berdiri di depan situ. Trus dia seperti melempar sesuatu. Kira-kira apa ya?"


Hanya Yumna yang melihat sosok itu. Karena kebetulan semuanya sedang membelakangi ruangan di pintu masuk rumah baru Novi.


"Aku periksa dulu. Kalau dia bisa melempar benda, berarti dia bukan hantu sembarangan. Karena sudah memiliki kekuatan untuk melakukan itu semua," jawab Rey masuk ke dalam rumah.


"Saya temani, Mas!" ucap supir yang menemani mereka mengangkut barang-barang keluarga Novi.


"Iya, silahkan kalau mau ikut."


Tapi saat mereka berdua di dalam, kosong, tak ada apapun yang aneh di sekitarnya. Hanya terlihat sebuah cangkul penuh tanah di atas lantai yang retak. Mungkin akibat terkena benturan benda tersebut. Rey dan pak sopir kembali ke teras untuk menjelaskan semuanya.


" Tak ada apapun! Dia pandai bersembunyi rupanya," ucap Rey menemui ketiga orang wanita.


"Iya, Mbak. Hii... Padahal tadi saya lewat situ gak apa-apa lantainya. Tapi pas ada suara tadi, kok aneh tiba-tiba ada cangkul. Lantainya rusak pula," timpal pak supir truk.


"Hantu yang berkeliaran terlalu lama di dunia, dia pasti semakin punya kekuatan besar. Karena dia sudah mempelajarinya pelan-pelan. Tapi lebih gawat lagi kalau hantu yang punya dendam besar, meskipun baru gentayangan juga sudah punya kekuatan itu."


"Apa kamu bisa membantu kami menyuruhnya pergi? Supaya tidak mengganggu aku dan ayah nanti. Pantas saja dijual murah, mungkin inilah penyebabnya."


'INI RUMAHKU!'


Suara perempuan tiba-tiba menggema dari dalam, diiringi tawa cekikikan anak kecil bersahut-sahutan.


Tak menunggu lama, pak sopir, Tante dan juga Novi langsung lari terbirit-birit menjauhi. Karena mereka semua mendengarnya tanpa terkecuali.


"Sudah, cukup! Apa sebenarnya maumu, tunjukkan pada kami."


Yumna mulai geram, karena hantu itu membuat selera makannya hilang.


"Hik... Hik...Hik.....,tolong kami!"


Kembali terdengar suara tanpa rupa. Yumna tak sabar, menggeret Rey masuk ke dalam untuk menemaninya.

__ADS_1


"Apaan sih? Tadi nantangin, kenapa ajak-ajak?" tanya Rey masih mengunyah bolu.


"Sssttt.... Diam saja."


"Mbaaakk.... Adek-adek..., boleh cerita baik-baik tidak? Sebenarnya apa yang terjadi sama kalian? Apa yang bisa kami bantu untuk membuat kalian tenang?" cerocos Yumna tanpa jeda.


Samar-samar, dalam ruangan yang masih sedikit gelap karena belum ada penerangan dari lampu maupun jendela yang terbuka, Yumna mulai melihat sekelebat bayangan ke arah pintu sebuah kamar.


Dia segera mengikuti, dengan masih menggandeng Rey disampingnya.


"Naaahhh.... Akhirnya ketemu juga. Mbak kenapa harus menakuti orang seperti itu? Apa yang bisa saya lakukan?" tanya Yumna berjongkok di depan sosok.


Berbentuk seperti wanita dewasa, dengan menundukkan kepala sambil duduk di belakang pintu.


"Hik... Hik... Tolong kami!" ucap sosok itu lagi.


"Mbak, bisa menghadap ke kita tidak? Biar enak ngobrolnya," sahut Yumna mencoba mengakrabkan dirinya.


"Iya,...!"


Wanita itu menjawab dengan mengangkat kepalanya yang langsung menggelinding di depan Yumna.


"Astaga, itu kenapa Mbak?" tanya Yumna menunjuk kepala yang sudah dilantai persis seperti bola yang berambut panjang.


Sosok wanita itu kemudian berdiri mengambil kepalanya, lalu kembali bersembunyi di balik pintu lagi.


"Mamii.... Mamiii....," sahut sesosok lain yang lebih kecil.


"Mami....," sahut anak satu lagi, terlihat lebih besar dari satunya tadi.


Kedua anak tersebut memiliki bentuk yang sudah tak baik sama sekali.


"Namaku Diana, dan ini Naura," ucap sosok wanita itu menunjuk anak yang paling kecil dengan tubuh gosong menghitam di seluruh badan.


"Yang ini Brenda," tunjuk pada anak satu lagi yang terlihat pucat pasi dengan banyak lumpur di badan dan wajahnya.


Sedangkan keadaan wanita itu lebih mengenaskan. Kepalanya putus dari badan, dengan darah yang terus mengaliri lehernya tanpa henti. Tangan, kaki, dan sepertinya seluruh badannya sudah penuh dengan sayatan benda tajam.


"Kalian sebenarnya siapa? Dan kenapa ada di tempat ini?" tanya Yumna mulai menggali informasi.

__ADS_1


"Ini rumah kami, hiks.... Dia tega menghabisi darah dagingnya sendiri!" tangisan wanita itu membuat air mata darah mulai keluar dari bola matanya.


__ADS_2