
"Lhah, kemana perginya wanita tadi? Lagian ini rumah sudah letaknya paling ujung, sekitarnya juga masih kebun lagi. Apa kita perlu tanya ke tetangganya sebelah situ?" tanya Handi heran.
"Sudah, kita segera pergi saja dari sini. Kita menuju rumah mas ya," ajak sopir segera memutar kemudi kembali ke jalan besar.
"Kenapa kita tidak cari dulu, Pak? Barangkali dia baru turun pas kita lihat gak ada."
"Kan dia sendiri yang bilang, apa dia sudah mati. Apa mas gak denger? Sudahlah, ayo kita ke rumah kamu saja!"
Sepanjang perjalanan, pak sopir terus bercerita tentang teman-temannya yang pernah diganggu makhluk-makhluk tak kasat mata saat mengantar penumpang larut malam. Tapi ternyata, hari ini dia yang mengalaminya sendiri.
"Oh, jadi karna itu tadi bapak keberatan saya tolong dia?"
"Bukannya keberatan buat nolongin orang, Mas. Tapi itu yang saya takutkan, kalau ternyata dia bukan orang bagaimana?"
"Hadeehhh....., ada-ada saja. Tapi, kenapa dia tidak sadar ya kalau sudah meninggal?"
"Sudahlah, Mas. Tak usah dibahas lagi, biar dia tak merasa terpanggil."
Akhirnya supir taxi dan Handi beranjak meninggalkan tempat misterius itu. Semakin menjauh, sampai bisa menemukan kembali jalan besar menuju rumah Rey.
Setibanya di paviliun, ternyata Rey dan keluarganya sudah menunggu dengan resah.
"Lama banget, darimana?" tanya Rey memulai.
"Sebentar, Mas. Bapak supir taxinya mau ikut nginap di sini boleh tidak? Sama sekalian pinjam telepon, buat ngabari keluarganya."
"Iya, Mas. Maaf, baterai handphone punya saya habis. Kalau boleh, sekalian numpang nge-charge."
"Sekalian numpang apalagi?" tanya Rey datar meski tujuannya mencoba sedikit bercanda.
"Rey, ku bilang ke Yumna nanti kalau kamu pelit kayak gitu. Biar dia gak suka sama kamu, hayooo.....," celetuk Meyta.
Rey hanya melirik sekilas ke arah Meyta, tapi justru ada sosok yang mencuri perhatiannya di dalam taxi.
"Maaf, Mas. Kalau tidak boleh tak apa-apa, saya tidur di mobil taxi saja. Numpang parkir boleh kan?" kata supir taxi yang sedikit takut melihat wajah tanpa senyum milik Rey.
"Yakin mau tidur dalam mobil? Biar ditemenin sama wanita hamil yang lagi nangis itu?" tanya Rey membuat Handi dan supir taxi saling berpandangan dan mulai merasa ketakutan.
__ADS_1
"Aaa... Aappaaa, dia masih ada di mobil? Waduh, gimana ini?" tanya supir taxi mulai bingung, dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tenang, Pak. Kamar tamu saya masih banyak yang kosong, kalau mau silahkan masuk. Tapi kalau pengen ditemani dia di mobil, ya gak apa-apa."
Rey sedikit tersenyum geli melihat kaki supir taxi yang mulai gemetar ketakutan.
"Trimakasih, Mas. Semoga kebaikan mas mendapat balasan yang baik di kemudian hari."
"Aamiin, tapi memangnya kalian dari mana? Eh, Meyta! Kamu mau ngapain?"
"Mau tanya sama dia. Tadi dia ngapain Handi coba?" jawab Meyta menghentikan langkah sejenak, sebelum melanjutkan menuju ke arah mobil taxi.
"Mmm.... Mas, ngomong sama siapa? Apa bisa lihat hantu ya? Apa ada hantu lain lagi di sini? Waduh, saya gimana ini?" supir taxi mulai semakin gemetar.
"Sudah, tenang saja."
Rey menelepon seseorang, dan tak lama muncul tukang kebunnya yang bernama Roni dari arah belakang rumah. Dia diperintahkan untuk mengantar pak supir menuju kamar tamu. Tapi ternyata, pak supir itu malah meminta untuk tidur di kamar Roni saja.
Sedangkan Handi meminta adiknya untuk membawa ibunya masuk ke dalam paviliun. Handi masih penasaran untuk bertanya pada Rey, dengan menemaninya duduk di taman depan rumah.
"Mas Rey, trimakasih!" kata Handi menundukkan kepala.
"Maksudnya, wanita hamil itu?"
Rey menganggukkan kepala, dan Handi mulai menceritakan kisah mistisnya. Rey hanya mengangguk mendengarkan, tanpa memberi komentar apapun.
"Trus, gimana Mas?"
"Gimana apanya?"
"Apa hantu itu akan terus ada di taxi itu? Kasian pak Beno, supir taxi itu."
"Biar saya yang urus, tuh kakakmu lagi nego juga sama dia."
"Kak Meyta?"
"Iya, siapa lagi."
__ADS_1
Tak lama, Meyta sudah berdiri di depan Rey bersama hantu wanita hamil itu.
"Mas, kok kayak bau anyir ya?" tanya Handi dengan polosnya, tapi hanya dijawab sedikit senyuman saja oleh Rey.
"Rey, sementara aku ajak dia ke restoran hantu dulu ya. Sambil dia nunggu suaminya di sana," kata Meyta.
"Memang suaminya kemana?"
"Entahlah, dia masih belum menemukannya. Makanya dia masih menunggu dan penasaran di dunia ini. Dia juga baru tahu, kalau ternyata dia sudah meninggal saat tadi minta diantar ke rumahnya."
Hantu wanita hamil itu mulai mengajak Rey berkomunikasi lewat suara hati. Rey memejamkan mata, untuk lebih konsentrasi mendengarkannya.
Rey mulai membayangkan satu per satu kejadian yang menimpa Kinan, saat usia kandungannya menginjak kelahiran.
Kinan diantar oleh suaminya untuk memeriksakan kandungan yang belum juga mengalami kontraksi. Tapi di tengah perjalanan, sepeda motor suaminya menabrak sesuatu yang membuatnya terlempar jauh dari tempat sepeda motor yang jatuh.
Kejadiannya terlalu cepat, untuk bisa diingat detailnya. Yang dia ingat, kepalanya sempat berdarah, dan dia berusaha meminta pertolongan. Tapi tak ada seorangpun yang mau mendengarkan teriakannya meskipun darah sudah mulai menjalar ke bawah kakinya.
Beberapa hari dia bertahan, tanpa rasa haus dan lapar. Dia terus berjalan dengan merangkak untuk bisa mencapai ke pinggir jalan. Sampai kakinya sudah mulai kuat menopang tubuhnya yang terus berdarah, dia melihat taxi yang sedang melintas sendiri.
Dan di situlah dia mulai ingat kejadian yang sudah dialami bersama suaminya, yang membuat rumahnya tak berpenghuni beberapa hari.
"Hehhhhh....., ya sudah. Bawa dia ke restoran saja. Besok aku cari tahu dimana suaminya berada," kata Rey setelah membuka mata dengan menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa, Mas?"
"Sudah, kamu masuk saja. Wanita itu sudah tak ada dalam taxi itu," jawab Rey mulai beranjak meninggalkan Handi seorang diri di kursi taman.
"Lhah, dari tadi saya di sini cuma temenin mas Rey tidur aja berarti? Ya sudahlah, gak apa-apa yang penting sudah beres. Oh iya, sampai lupa tadi belum laporan tentang si Bimo," gumam Handi sendiri.
Menjelang tengah malam, seperti biasa Rey berangkat menjemput ke rumah Yumna. Dia juga berencana menceritakan rencana pencarian suami Kinan, untuk misi selanjutnya.
Tapi sesampainya di depan gang rumah Yumna, dia tak melihat seorangpun menunggu di sana. Berulang kali dia mencoba menghubungi lewat teleponnya, akhirnya Yumna mengangkat juga.
"Dimana sih? Lama banget angkatnya!" seru Rey sedikit emosi.
Tak ada jawaban dari ujung sambungan telepon, hanya suara isakan tangis wanita di sana.
__ADS_1
"Yumna? Kamu baik-baik saja?" tanya Rey menjadi khawatir.