Restoran Hantu

Restoran Hantu
Perpisahan Robert


__ADS_3

Seminggu ini dilalui Rey dan Yumna untuk bolak balik ke kantor polisi sebagai saksi sepulang sekolah. Selain itu, mereka juga harus menemani Novi di rumah sakit meski hanya sebentar saja. Paling tidak, untuk membawakan keperluan Novi yang tak bisa diurusnya sendiri.


Di hari kedua orang tua Novi dirawat, ibunya tak bisa diselamatkan. Novi sempat histeris tak mengikhlaskannya. Tapi Yumna terus menguatkan.


"Yumna, Rey, kalian sudah banyak berjasa untukku. Aku tak tahu lagi bagaimana caraku membalas kebaikan kalian," kata Novi setelah mereka sudah tak lagi harus ke kantor polisi sampai sidang di pengadilan nanti.


"Santai aja, kami ikhlas melakukannya," jawab Yumna masih duduk di sofa kamar VIP rumah sakit tersebut.


"Iya, tak usah kau pikirkan hal itu. Yang penting ayahmu bisa sembuh dulu untuk melanjutkan hidup baru bersamamu nanti," seru Rey yang malah membuat Novi tak bisa menahan air mata ketika melihat ayahnya yang sedang tertidur lelap.


"Terimakasih. Besok juga ayah sudah boleh pulang, kami akan ke kampung halaman ayah saja setelah ini. Terlalu banyak kenangan indah dan kelam ibuku di rumah itu," sahut Novi.


Di ujung ruangan, terdapat Robert yang juga meneteskan air matanya. Dia ikut merasa bersalah atas perbuatan kakaknya yang membuat sahabatnya terlibat menanggung kesedihan itu.


" Kak Robert, apa kakak juga akan mengikuti Kak Novi sampai pulang ke kampungnya?" tanya Yumna.


"Aku tak tahu. Tapi karena urusanku di dunia sudah selesai, mungkin waktuku untuk kembali ke alam selanjutnya sudah hampir tiba," ucap Robert.


"Lalu, bagaimana urusanmu dengaku?" tanya Rey menatap tajam padanya.


"Memang aku punya urusan apa denganmu?"


"Kamu belum sempat mengantarku ke rumahmu. Bagaimana caraku mencari tahu tentang nenek?"


"Nenek tak ada di rumahku. Tapi kalau kamu masih ingin menyelidikinya, datanglah pada mama dan papa di jalan Merdeka nomor tiga belas saja," sahut Robert.


"Apa ada yang aneh dengan mereka? Kenapa kamu sekarang memintaku untuk menyelidiki mereka?"


"Keduanya sangat menyayangiku,dan selalu menuruti semua kemauanku. Tapi yang aku tahu, mereka sangat membenci nenek karena tak direstui saat menikah dulu. Dan ada satu hal lagi yang sepertinya disembunyikan oleh ayahku."


"Apa itu?"


"Sebenarnya beliau tak pernah menolak semua keinginanku, bahkan selalu bersikap lembut terhadapku. Kecuali saat aku bertanya tentang sebuah ruangan yang selalu terkunci rapat itu. Beliau pasti akan marah saat ada diantara kami yang ingin mencari tahu."


"Sekarang, apa kau bisa membantu kami ke sana?" tanya Yumna menatap Robert dengan penuh harap.


Sebelum Robert menjawab, keluarlah cahaya menyilaukan. Yumna dan Rey tahu, kalau itu adalah tanda perpisahan untuk mereka seperti para sosok lainnya yang pernah mereka bantu sebelumnya.

__ADS_1


" Sepertinya waktuku di dunia ini sudah selesai. Janjiku menemani Novi hanya sampai ayahnya sembuh saja. Jadi tolong bantu Novi mempersiapkan kepindahannya setelah sepeninggalanku nanti."


"Lalu, bagaimana tentang penyelidikan di rumahmu?"


"Maaf, aku tak bisa membantu soal itu. Karena dari dulu aku sudah tak ingin tahu, semenjak ayah memukulku untuk pertama dan terakhir kalinya waktu aku mencoba bertanya. Tolong sampaikan maafku juga pada Novi, untuk bisa mengikhlaskanku pergi."


Suara Robert semakin terdengar jauh saat cahaya itu menelan dalam silaunya. Seketika, Robertpun menghilang seiring dengan kembalinya ruangan seperti sedia kala tanpa ada cahaya menyilaukan kedua orang yang bisa melihatnya.


" Kenapa, apa yang dikatakan Robert?" tanya Novi yang tak melihat apapun di sekitarnya.


"Kak Robert sudah tenang kembali ke alamnya. Dia minta maaf atas semua kesalahannya," sahut Yumna menyampaikan.


"Robert! Satu per satu orang yang aku sayang telah pergi meninggalkanku. Lalu, apa kalian juga melihat ibuku di sekitar sini?" tanya Novi penasaran sambil mengusap air matanya yang mengalir di pipi.


"Ibumu sudah tenang. Beliau langsung pergi tanpa meninggalkan beban. Beliau hanya sempat berpesan, agar kak Novi menjadi wanita tangguh yang mandiri untuk membuatnya bangga di alam sana," kata Yumna menyampaikan setelah dia yakin inilah saat yang tepat setelah kepergiannya beberapa hari yang lalu.


" Berarti memang sekarang kami harus memulainya sendiri, hanya berdua bersama ayah saja," ucap Novi mulai terisak kencang.


" Kak, jangan terlalu ditangisi seperti itu. Biar jalannya di sana tak terhambat oleh orang yang terlalu bersedih atas kepergiannya. Tapi tolong doakan mereka, agar lancar menuju alam baru yang lebih bahagia."


" Ya, kamu benar!"


"Baiklah, trimakasih atas semuanya. Suatu saat, kalau kita bertemu lagi aku pasti jadi wanita tangguh yang mandiri seperti pesan dari ibuku!"


Novi memeluk erat tubuh Yumna, sebelum melepas kepergiannya.


"Ya sudah kalau begitu, nanti sampaikan salamku untuk ayahmu ya," ucap Rey menjabat tangan Novi setelah Yumna melepaskan pelukannya.


"Iya, hati-hati dijalan!" sahut Novi melambaikan tangannya.


Yumna dan Rey keluar rumah sakit dengan lega. Mereka telah menyampaikan semua pesan dari makhluk tak kasat mata pada keluarganya.


"Ehhhmmm.....," seru Rey merentangkan tangan sebelum Yumna masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka Rey sebelumnya.


"Maksudnya?"


"Masak tadi Novi dipeluk, aku enggak!"

__ADS_1


"Aneh, gitu aja iri. Dah, ayo pulang!" sahut Yumna langsung masuk ke mobil Rey tanpa menanggapi.


"Sekarang mau kemana?" tanya Rey mulai mengikuti masuk dalam mobil, dan hendak menjalankannya.


"Pulanglah! Sudah malam, memang mau kemana lagi?"


"Heeehhhhh, berat!"


"Apanya?"


"Harus tahan kangen lagi sampai besok!"


Ucpan Rey semakin membuat pipi Yumna terasa hangat menahan malu. Dan Rey mulai mengemudikan mobilnya menuju arahan Yumna untuk pulang ke rumahnya.


"Nanti malam aku perlu ke restoran tidak?"


"Tak usah, kamu sudah capek pulang sekolah sampai larut malam. Meski sebenarnya hati kecilku masih ingin bertemu," sahut Rey menggoda Yumna.


"Apaan sih, kamu gak pantes sok romatis kayak gitu!"


Yumna memalingkan wajahnya melihat ke jendela, agar tak terlihat wajahnya semakin memerah.


"Rey, Rey..... Kok ada seseorang yang lagi kebingungan di depan rumah sakit lama itu ya?"


Rey yang sedang konsentrasi segera menepikan mobilnya karena tak mendengar dengan jelas.


"Kenapa?"


"Mundur bisa nggak?" pinta Yumna.


"Memang kenapa sih?"


"Sudah, kita lihat dulu!" jawab Yumna menunggu mobil Rey mundur sampai di depan sebuah rumah sakit tua yang sudah lama tak beroprasi.


Yumna dan Rey mengamati seorang laki-laki yang kebingungan, berjalan masuk dan keluar lagi berkali-kali tanpa tujuan yang jelas.


" Kamu tunggu di sini!" suruh Rey pada Yumna.

__ADS_1


"Aku ikut saja, perasaanku gak enak kalau aku sendirian. Tuh, lihat atapnya sudah dihuni para sosialita dari golongan berdaster warna warni. Kayaknya lagi arisan tuh!" ucap Yumna asal, saat menunjuk ke atas genteng rusak di rumah sakit satu lantai itu.


__ADS_2