Restoran Hantu

Restoran Hantu
Pencarian Rey ke Makam


__ADS_3

Tak terasa, dinginnya malam mulai menyelimuti. Yumna tak sadar, kalau dia bisa tertidur di atas gundukan tanah basah yang terletak di tengah pemakaman besar di desanya.


Rey yang cemas, terus berusaha mencari Yumna. Hingga dia mengingat, saat pertama kali bertemu dengan Canda.


"Kenapa aku tak mencoba ke makam itu saja ya?" gumamnya sendiri sambil menyusuri jalanan di tengah malam.


Dia terus melajukan mobilnya untuk menuju ke arah yang dipikirkannya barusan.


"Nah, ini makamnya. Waduh, ramai banget ya? Malam apa sih ini? Kok kayak lagi pesta gini?"


Rey perlahan mulai masuk ke dalamnya, meski rasa ragu sempat menghinggap di hatinya.


"Huufftt....., kemana lagi Yumna ini?"


Rey terus berjalan melewati satu per satu makhluk beragam bentuk, yang mulai memperhatikannya.


"Eh, kamu pemilik restoran itu kan?" ucap satu sosok berkulit hitam, dengan rambut gimbal memenuhi kepalanya.


Semua penunggu langsung melihat ke arah Rey. Merekapun memanggilnya seperti pada Yumna sebelumnya.


"Iya, itu yang punya restoran. Pasti lagi nyari anak manusia yang lagi ketiduran itu!" sahut sosok berdaster merah darah yang menjuntai sampai menutupi bagian kaki.


"Eh, kamu tahu ada manusia di tempat ini?" sahut Rey yang langsung berbalik arah saat memdengarnya.


"Aku dapat apa kalau kasih tahu kamu tempatnya?"


"Kamu akan ku siapkan tempat istimewa malam ini di restoran milikku, gimana?"


"WOWWW.....! Mau dong," seru makhluk lain yang ikut mendengarkan, sambil mengacungkan jarinya ke atas.


"Oke, tunjukin sekarang dan kita pindah pesta ke restoran. Mumpung hari ini aku stok banyak makanan, dan belum ada tamu undangan."


"Yeeeehhh......!" seru semuanya.


"Tuh, anaknya lagi mimpi di kuburan."


Makhluk daster merah itupun membuat jalan agar Rey bisa melihat Yumna yang sebelumnya tertutupi oleh banyaknya makhluk di tempat ini.


"Dasar! Bikin orang khawatir aja, eh malah molor di sana!" gerutu Rey terus melangkah mendekati Yumna.


"Mumpung sebentar lagi waktunya buka, cepatlah datang ke sana. Bawa kartu namaku sebagai bukti untuk restoran dibooking malam ini. Jadi tak menerima tamu lain selain undangan dari tempat ini!" seru Rey memberikan sebuah kartu gold kepada wanita berdaster merah sebagai pengurus acara pesta mereka.

__ADS_1


Rey segera menggendong Yumna menuju mobil, karena sudah tak tahu lagi cara membangunkannya. Mungkin karena kelelahan hari ini, membuatnya sulit untuk disadarkan.


Sesampaainya di mobil, Rey hendak memasukkan Yumna ke dalamnya. Tapi bersamaan dengan itu, Yumna terbangun dan terkejut melihatnya.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu mau culik aku? Modus kamu ya!" teriak Yumna yang masih belum seratus persen mengingat kejadiannya sampai di tempat seperti ini.


Kepala Rey tepat di depan wajah Yumna. Hanya berjarak tak lebih dari sepuluh senti antara hidung mereka. Yumna yang merasa hendak dimanfaatkan, mencoba menangkupkan tangan di depan dada untuk memghindar.


"Diam!" kata Rey masih berusaha memasukkan Yumna yang terus bergerak mencoba melawan.


"Lepasin!"


"Kamu tuh sekarang ada di depan kuburan! Mau aku tinggalin di sini?" seru Rey mulai kesal melihat tingkah Yumna yang terus menuduhnya.


"Astaga! Apa aku ketiduran di dalamnya? Dimana Canda?" oceh Yumna setelah menyadari keberadaannya.


"Sudahlah, ayo pulang saja!" ajak Rey menuju rumah Yumna.


Sepanjang pulang, Yumna terus memikirkan alasan kalau nenek Kip menanyakan keberadaan Canda. Tapi tetap tak menemukannya.


"Mikir apa sih? Lagian mau aja diajak ke sana!" sahut Rey melirik Yumna sambil menjalankan mobilnya.


"Rey, AWAS!!" teriak Yumna saat melihat Canda di depan mobil mereka.


Suara berdecit ban mobil memecah keheningan malam ini.


"Ngapain juga aku berhenti, toh ditabrakpun bakal tembus!" sesal Rey menyadarinya.


"Iya, ya. Kenapa tadi aku teriak?" sahut Yumna yang juga baru sadar.


Yumna turun dari mobil, dan mendekati anak misterius itu.


"Ayo ikut kakak pulang!"


Canda hanya menggelengkan kepala, dan terus menangis menunjuk ke arah pemakaman lagi. Tapi Yumna tak menyerah, agar tak perlu mencari alasan pada nenek nanti.


"Sudahlah, kita tinggalkan saja. Nanti saat pagi, kita ajak nenek ke tempat kamu tertidur tadi. Mungkin ada sesuatu di dalamnya," kata Rey menggandeng Yumna untuk meninggalkan Canda.


Sesampainya di rumah, Yumna masih takut untuk masuk. Tapi paksaan Rey yang berjanji akan membantu menjelaskannya, bisa membuatnya lebih tenang.


****

__ADS_1


Pagi hari, Yumna masih tak berani keluar kamar agar tak menghadapi pertanyaan. Tapi ternyata justru sikapnya salah, karena nenek terus mengetuk pintu kamarnya dengan resah. Tak biasanya pintu itu tertutup rapat sampai sinar matahari sudah mulai tinggi.


"Yumna, kamu kenapa? Buka pintunya, Nak! Kamu waktunya sekolah kan?"


Nenek Kip terus mengetuk pintu itu, karena belum mendapat jawaban dari Yumna. Sampailah terdengar suara mobil dari luar rumah.


"Nak, itu sepertinya Rey sudah datang. Ayo cepat bangun, dan buka pintunya! Kok tumben sepagi ini Rey sudah datang menjemputmu?"


Yumna yang sudah mandi dan menyiapkan diri dengan mengendap saat petang, berhasil membuat nenek Kip tak mengetahui.


"Pagi, Nenek!" seru Rey dari luar yang sudah beranjak masuk.


Bersamaan dengan itu, Yumna baru berani membuka pintu kamar.


"Lhoh, kamu sudah pakai seragam sekolah? Canda mana?"


Mendengar pertanyaan itu, Yumna langsung memandang pada Rey.


Rey menceritakan satu per satu pengalaman mereka tadi malam. Awalnya nenek Kip tak percaya, karena dia yakin yang dibawanya pulang semalam benar-benar manusia biasa.


" Begini saja, Nek. Kita ke rumah bu Nuri bagaimana? Mungkin beliau bisa menolong kita untuk memberi tahu warga lainnya agar membongkar makam misterius itu. Kan suaminya termasuk orang yang disegani di desa ini."


"Baiklah, ayo kita ke sana saja."


Mereka menjalankan sesuai rencana Yumna. Ternyata hal itu disambut baik oleh bu Nuri, yang kemarin sempat melihat makam baru tak bernama itu saat mengunjungi salah satu anaknya yang sudah pergi mendahului orang tuanya.


"Baiklah, saya akan mengurusnya. Yumna dan temannya sebaiknya segera ke sekolah saja," ucap suami bu Nuri dengan senyum ramahnya seperti biasa.


Rey dan Yumna segera pamit untuk menuju sekolah mereka, sesuai permintaan para orang tua.


Sesampainya di sekolah, seperti biasa semua teman memandang ke arah mereka berdua. Banyak yang mulai curiga tentang kedekatan Rey dan Yumna.


Baru saja kaki melangkah masuk ke dalam kelas, terdengarlah suara jeritan menyayat hati dari sungai belakang sekolah. Semua orang ikut kaget mendengarnya, dan segera berlari menuju sumber suara.


"Suara siapa itu? Ayo!" tanya Yumna menatap tajam kepada Rey, dan segera menggandengnya untuk mengikuti para murid lainnya.


Sesampainya di dekat sungai, terlihat para guru dan murid berkumpul di pinggirnya. Ada sebagian guru yang mencoba menghubungi polisi juga.


" Ada apa sih?" tanya Yumna pada Mifta yang sudah sampai dulu di tempat itu.


"It... Ituuu, mayat, tenggelam."

__ADS_1


Mifta tampak trauma menceritakan yang baru dilihatnya. Ada seorang anak perempuan juga yang menangis sesenggukan, karena dia yang menemukan untuk pertama kalinya.


__ADS_2