
"Mas Ringgoooo, huwaaa..... Anak kita!" tangis wanita itu pecah.
"Mbak, maaf sebelumnya. Apa mbak ini istrinya mas Ringgo?" tanya Yumna menebaknya.
"Iya, hikss..... Apa kalian mengenalnya?"
"Tadi kami masuk ke rumah sakit ini karena ingin membantu mas Ringgo. Tapi tadi katanya dia tersesat di tempat ini dan bingung mencari istrinya. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Yumna lagi.
"Kemarin, kami berencana pulang kampung. Lalu perutku terasa mulas sekali saat di perjalanan. Hikss....."
"Sabar, Mbak."
Yumna mencoba memaksakan dirinya mendekat agar bisa membuat wanita itu lebih tenang. Dengan menahan rasa mual, dia mengelus punggung wanita di depannya.
"Tapi, hiks... saat di sekitar sini kami mengalami kecelakaan. Tubuhku terlempar jauh dari tempat kami jatuh. Sedangkan mas Ringgo terluka di bagian kepalanya karena terantuk batu besar."
"Aa... Aapppaa? Berarti, mas Ringgo juga sudah meninggal?" tanya Yumna terkejut.
"Iya, kami berdua meninggal di tempat. Tapi jasadku hampir hancur, sedangkan mas Ringgo masih utuh meskipun nyawanya tak bisa terselamatkan."
"Ja... Jadii...., kita dari tadi muter-muter di tempat ini gak ada gunanya dong? Kirain ada nyawa yang harus diselamatkan," sahut Rey sedikit kesal.
"Ya sudah, tunggulah di tempat ini saja. Nanti pasti mas Ringgo terus mencari kalian sampai kemari. Kalau begitu, kami pamit pulang dulu ya. Ehmm.... Anaknya lucu, mirip sama ibunya. Selamat ya!" ucap Yumna mencoba menghibur meski wujud bayi itu tak seperti bayi manusia pada umumnya.
" Kamu itu memuji apa mengejek sih? " bisik Rey ke dekat telinga Yumna.
" Sssttt....., diamlah. Ayo kita pulang! "
" Anakku, maafkan ibu! " tangis wanita itu lagi meratapi anaknya, yang hanya bisa memandang ibunya dengan wajah, punggung, pant*t yang sejajar.
" Kita pulang ya, Mbak! " pamit Yumna lagi mulai beranjak keluar kamar.
" Hati-hati ya, karena ada makhluk kuat yang paling mendominasi tempat ini. Kalian bisa tersesat kalau tak menemukan jalannya, " bisik wanita itu.
"Maksudnya?"
"Berdoa saja, supaya dimudahkan jalan keluarmu!" ucap wanita itu lalu berbalik badan membelakangi Yumna dan Rey sambil menyanyikan lagu tidur untuk anaknya.
"Trimakasih. Nanti kalau bertemu mas Ringgo, akan aku tunjukkan tempat mbak di sini. Semoga kalian tenang setelah bisa terbebas dari tempat ini," balas Yumna.
__ADS_1
"Ayo!" ajak Rey menggeret keluar Yumna dari ruangan bersalin dalam kegelapan malam.
Yumna dan Rey mulai menyusuri lorong panjang. Mereka masih menyalakan lampu senter dari HP nya sebagai penerangan.
"Rey, tadi kita lewat sini kan? Nih, ada kursi roda di depan kamar Anggrek no 6. Sebentar lagi kita belok kanan, lurus terus sampai ke tempat resepsionis. Ya kan?" ucap Yumna mempercepat langkahnya.
"Kita coba saja, semoga benar!" sahut Rey tak yakin.
Berjalan dan terus berjalan, tapi mereka tak menemukan jalan pulang. Selalu kembali ke deretan kamar Anggrek nomor enam.
Di ujung deretan Anggrek menunjukkan bagian bangunan paling belakang. Ada juga sebuah tulisan besar menakutkan sebagai arahan menuju ke sebuah tempat paling suram di setiap rumah sakit, yaitu kamar mayat.
" Rey, kok balik ke sini lagi?"
"Iya, bener! Berarti memang gak beres rumah sakit ini," seru Rey.
"Oke, kita coba lagi buat keluar ya. Tadi setelah dari ruangan bersalin kita memang sempat melewati kamar anggrek tapi cuma sedikit, trus seingatku kita langsung melewati bangsal penyakit dalam. Tapi kok kayaknya kita cuma muter-muter aja di sekitar deretan kamar Anggrek saja? Apa kita kembali ke kamar bersalin ya, buat tanya mbak yang tadi? " tanya Yumna mulai gusar.
" Percuma, sepertinya dia juga korban dari sini. Kita berdoa sejenak, supaya bisa menemukan jalan pulang. "
Rey mengajak Yumna duduk di depan sebuah kamar bertuliskan kamar Anggrek no 6. Kemudian memejamkan mata bersama, untuk pasrah pada Sang Pencipta.
"Rey, apa mungkin kita akan selamanya di sini? Atau kita tunggu saja sampai pagi?"
Rey masih berpikir keras, mencari cara untuk bisa keluar dari tempat ini. Lalu suara menggelegar mulai terdengar di telinga mereka berdua.
"GGGGGGRRRRRRMMMMHHH.......!!!"
Seperti suara binatang buas dari arah sebuah kamar bertuliskan kamar mayat tadi.
"Rey, dengar?"
"Ssstttt, diam saja. Kita masuk ke kamar ini dulu, sambil mengintip apa yang terjadi."
Rey mengajak Yumna masuk ke sebuah kamar, dan menutupnya perlahan. Karena suara geraman itu semakin lama semakin terdengar mendekati mereka, jadi Rey tak mau mengambil resiko besar untuk menghadapinya.
"GGGGRRRMMMHHHH......," kembali suara itu menggema di seluruh ruangan sekitar mereka.
Lutut Yumna semakin bergetar saat melihat sosok gelap kehijauan, dengan taring panjang meneteskan air liur kental berjalan perlahan di sekitar tempat mereka bersembunyi.
__ADS_1
Yumna dan Rey bersama menahan nafas tanpa mereka sadari, karena saking kagetnya melihat pemandangan sosok asing hendak mencari mangsa yang mungkin adalah mereka berdua.
Tak ada yang berani berkata maupun membuat suara. Karena mereka tahu, makhluk itu masih mengincar di sekitar mereka.
Yumna terus memanjatkan doa tak berani mengamati lagi, hanya fokus memohon perlindungan pada Tuhannya. Beberapa menit berlalu, mereka berdua masih gemetar di dalam salah satu ruangan Anggrek.
Lambat laun, suara geraman itu terdengar semakin menjauh, dan mungkin hilang dari sekitar mereka berdua.
"KELUARLAH, CEPAT!!"
Seperti suara sosok besar yang tak asing oleh Yumna, menggantikan suara geraman sebelumnya.
"Om, Om.... Dimana?" tanya Yumna mencari keberadaannya sambil berbisik pelan.
"Om siapa?" tanya Rey bingung.
"Om, yang tadi ada di kamar bersalin!" jawab Yumna masih dengan gigi gemletuk menahan takutnya.
Tak lama, nampak di depan mereka sebuah burung gagak berwarna hitam pekat sedang terbang dan bertengger di atas salah satu tiang penyangga bangunan.
"KELUARLAH, SEBELUM TENGAH MALAM. ATAU KALIAN AKAN MENEMUI KESULITAN LEBIH BESAR LAGI NANTI!"
Terdengar lagi suara menggema dari arah buruk gagak tadi.
"Om yang tadi di kamar bersalin kan?" tanya Yumna memastikan.
"IYA, CEPATLAH!"
Burung itu mulai terbang lagi keluar ruangan tempat Yumna dan Rey bersembunyi. Melewati ruangan demi ruangan, dengan diikuti Rey dan Yumna dari belakang.
"Kamu yakin mau ikuti dia? Nanti kalau malah menyesatkan bagaimana?" tanya Rey ragu meski masih terus melangkah di sebelah Yumna.
"Sudahlah, paling tidak kita sudah berusaha!"
Bangsal penyakit dalam mulai terlihat, dan Yumna semakin yakin kalau langkah yang mereka pilih untuk mengikuti burung gagak tadi tak salah.
"GGGGGRRRRRRMMHHHH.......," suara itu terdengar lagi, tapi sepertinya berasal dari arah depan dan hendak kembali ke belakang kamar mayat tadi.
Rey dengan cepat menggeret tangan Yumna memasuki sebuah ruangan yang dia sendiri tak tahu apa itu. Yang pasti aroma tak sedap mulai menusuk hidung mereka berdua dalam keadaan gelap gulita.
__ADS_1