
"Siapa yang tenggelam?" tanya Yumna pada Mifta lagi.
"Robert, kakak kelas kita yang paling pintar di kelasnya."
"Kok bisa?" tanya Yumna lagi, hanya dijawab oleh pundak yang terangkat sedikit.
Semua murid masih menunggu kepastian sekolah hari ini. Para guru terlalu sibuk mengurusi keadaan yang mengejutkan di pagi hari. Sampai sadar bahwa ada tanggung jawab besar dengan murid lainnya setelah para polisi datang mengevakuasi.
Kepala sekolah langsung mengadakan rapat dadakan. Semua murid diliburkan selama satu minggu ke depan sebagai keputusannya. Tak ada rasa senang seperti hari libur biasa. Malah suasana duka lebih memdominasi di sekitar sekolah mereka.
"Kita kemana ini? Langsung ke rumahmu lagi saja ya buat ikut lihat pembongkaran makam yang ditunjuk Canda!" ajak Rey menuju mobilnya setelah hari sudah mulai siang.
"Boleh deh, ayo!"
Mereka kembali pulang karena tak ada yang bisa dilakukan di sekolahan. Hanya murid yang bersangkutan dengan penemuan mayat, dan penanggung jawab sekolah yang diharuskan tinggal untuk penyelidikan.
Sesampainya di rumah, Yumna dan Rey sempat kaget bukan kepalang. Karena di depan rumah Yumna sudah berkibar bendera kuning tanda berduka.
"Rey, ada apa ini?" tanya Yumna langsung berlari setelah mobil baru berhenti.
Sudah banyak orang yang duduk di depan rumahnya, dengan terus memandang ke arah kakinya melangkah.
"Nek... Nenek!" teriak Yumna sudah tak enak hati.
Jantungnya sudah berdegup kencang tak karuan. Terlebih tak ditemukannya sosok kesayangan. Hanya bekas keranda yang tergeletak di depan.
"Yumna, ada apa ini?" tanya Rey yang menyusul dari belakang.
"Aku juga gak tahu, kenapa seperti ini? Oh, itu bu Nuri."
Yumna segera berlari ketika melihat bu Nuri berjalan tergesa dari rumahnya.
"Bu.... Bu...., Bu Nuri!" teriak Yumna menghentikan langkah wanita ramah itu.
"Oh, Yumna sudah pulang. Tumben masih siang sudah ada di rumah? Apa jangan-jangan tadi bolos tak jadi ke sekolah?" tanya bu Nuri memastikan.
__ADS_1
"Di sekolah ada kejadian anak tenggelam, jadi sekolah libur seminggu. Oh iya, Bu Nuri tahu dimana nenek Kip tidak?"
Yumna menunggu jawaban dengan hati berdebar, dari mulut wanita yang dia segani itu.
" Heehhh.... Nenekmu tadi terlalu terkejut," ucap bu Nuri menghela nafas panjang seperti melepaskan beban di hatinya.
" Lalu, nenek bagaimana? " tanya Yumna sudah tak bisa menahan tangis dengan lutut bergetar lemas.
Rey sudah sigap menopang tubuh Yumna dari belakang, saat Yumna sudah tak kuat menahan badannya sendiri yang gemetar.
" Nenekmu tidak apa-apa. Tadi hanya terkejut dan lemas saja, lalu ibu minta untuk istirahat di rumah ibu."
"Ohh, lalu bendera kuning itu?" tanya Yumna sudah mulai bisa menegakkan badan meski masih dalam dekapan Rey dari belakang.
"Itu? Jadi ternyata benar dugaanmu tadi. Setelah dibongkar, gundukan itu ternyata memang makam. Canda anak tak berdosa itu, dikubur tanpa dikafan."
"Hahh? Lalu, siapa yang melakukannya?" tanya Yumna masih tak percaya.
"Nah, itu polisi yang tadi menjemput sudah datang. Tadi katanya mau mencari orang tua Canda di kota besar. Ibu siapkan dulu semua keperluan yang dibutuhkan," kata bu Nuri mendekati para polisi.
"Yumna bantu ya, Bu!"
Rey masih setia menemani Yumna, dengan sedikit memberi saksi sepengetahuannya. Terserah polisi akan menuliskan laporan seperti apa, yang jelas Rey dan Yumna sudah menceritakan apa adanya saja.
Dari jauh, mulai masuklah sepasang suami istri yang dianggap sebagai orang tua Canda. Mereka tak menampik tuduhan tentang pembunuhan anaknya. Malah ibunya sudah mengaku, bahwa dialah penyebab utama kematian itu.
"Canda, dia anak yang tak pernah mengeluh sebenarnya. Tapi saya sudah capek mengurus dia yang tak bisa diajak bicara. Dia tak pernah bisa mengerti apa yang saya perintahkan. Jadi tak sengaja saya memukul dia sampai meregang nyawa," hanya sedikit rasa sesal yang terlihat, saat ibu Canda bercerita.
"Sore itu, saya baru pulang bekerja. Istri saya langsung menarik tangan saya dan menunjukkan perbuatannya. Saya yang bingung, mengajaknya membawa mayat Canda dengan kardus televisi menuju desa ini bersama dia. Lalu kami berpura-pura pergi ke makam untuk ziarah kakek Canda. Sekaligus segera menguburkan mayat yang sudah kami bawa," keterangan dari ayah Canda.
Yumna melihat, Canda berdiri diantara kedua orangtuanya. Sudah tak akan ada lagi tangis Canda seperti biasa. Hanya senyum indah yang terpancar dari raut muka bahagia.
Dia melambaikan tangannya pada Yumna, setelah mengecup kening kedua orang tuanya. Dan pergi meninggalkan mereka semua.
Tak berselang lama, ada telepon untuk ibu Canda dari polisi yang baru memasuki ruangan ini. Polisi itu mengabarkan bahwa bu Marsiah, nenek Canda meninggal akibat serangan jantung, yang sebelumnya pernah dideritanya. Namun beliau sudah merahasiakan itu dari beberapa anaknya.
__ADS_1
Ibu Canda menangis histeris. Meraung-raung di tengah ruangan penyelidikan. Tak ada yang mampu menenangkannya, termasuk suaminya.
Tak berselang lama, terdengarlah tertawa senang dari mulutnya. Ya, ibu Canda dinyatakan gila.
Polisi mengijinkan Rey dan Yumna untuk meninggalkan kantornya. Karena pengakuan orang tua Canda sudah cukup menjadi bukti tentang kejahatan mereka.
'Krucuk....'
Suara cacing dari perut Yumna tak bisa berbohong, kalau dia sedang lapar. Sedangkan bu Nuri sudah pulang terlebih dahulu bersama suaminya, untuk mengurus keperluan pengajian untuk Canda di rumah mereka nanti malam.
"Makan dulu ya. Mumpung kita lagi berdua!" ajak Rey saat mereka masih dalam perjalanan pulang.
"Memangnya, kalau lagi berdua kenapa?"
"Mau nggak?"
"Mau lah, apalagi kalau ditraktir he.....," senyum Yumna merekah sempurna.
"Masih aja, sukanya yang gratisan!"
"Maklumlah, Pak Bos. Nama ya anak mandiri, jadi semuanya harus diirit."
"Iya... Iya, mau makan apa ini?"
"Terserah pak Bos aja, yang penting gratis dan bisa makan sekenyangnya."
"Oke, kita ke kedai mie ayam yang baru dibuka itu ya!" ajak Rey menuju sebuah tempat yang terlihat sangat ramai, meskipun baru pembukaan.
"Boleh, sepertinya tak terlihat makhluk penglaris juga di dekat gorobak permanennya."
Yumna dan Rey segera turun, dan memesan masing-masing seporsi mie ayam komplit dengan bakso isi super pedas andalannya.
Sambil menunggu, sesekali Yumna mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang asri. Sampai sesuatu membuatnya terkejut setengah mati.
"Rey... Rey... Itu!" tunjuk Yumna ke arah sosok pucat yang selalu mengikuti salah satu penjualnya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa itu jenis penglaris model baru ya? Kok tumben cuma ngikuti penjualnya?" tanya Rey menyedot teh dinginnya yang baru datang bersama mie pesanannya.
"Bu.. Bukan itu maksudku. Tapi lihat baik-baik wajah sosok yang mengikuti. Itu kak Robert yang baru terbunuh tadi pagi!"