
"Suara siapa itu?" tanya paman Novi menoleh ke kanan dan kiri.
"Ii... Iituu suara Bu Diana," jawab tante Novi gemetar menggenggam lengan suminya.
"Masa sih? Tapi kata pak Maman, istrinya sudah pulang ke kampung. Coba bapak periksa ke dalam!"
Paman Novi memberanikan diri untuk mencari sumber suara tadi.
"Pak, jangan. Gak usah!" cengkeraman tante Novi semakin erat di lengan suaminya, menahan agar tak meneruskan niatnya.
"Biar saya saja. Tadi dia hanya bercerita sepintas tentang dirinya, tapi tak jelas apa yang terjadi sebenarnya."
Rey memutuskan untuk masuk seorang diri. Tapi Yumna tak ingin tinggal diam, dan mengikuti dari belakang.
"Kenapa ikut?"
"Aku tak mau kamu menghadapinya sendiri," jawab Yumna membuat degup jantung Rey berbunga sempurna.
"Loh, bapak-bapak kenapa ikut juga?" tanya Rey baru sadar.
"Masak anak gadis berani masuk, kita tidak. Malu dong!" gurau pak sopir membuat tawa semuanya.
"Kak Novi sama tante dimana?" tanya Yumna melongok keluar.
"Mereka berjaga di luar. Kalau nanti kita dapat masalah, biar cepat meminta bantuan."
"Oh, ya sudahlah kalau begitu."
Beberapa bagian rumah mulai ditelusuri, pertama mereka ke kamar tempat Yumna bertemu Diana. Sepi, tak ada siapapun yang menampakkan diri.
Kemudian semua kamar di rumah itu, sampai kamar mandi dan dapurnya tak luput dari tujuan pencarian mereka. Tapi ternyata masih tak ada yang menemukan sesuatu mencurigakan di rumah itu.
"Oh iya, cangkul. Apa bapak pernah melihat cangkul di rumah ini? Tadi ada cangkul yang terlempar, namun tiba-tiba menghilang gak tahu kemana," tanya Yumna mengingat cerita Rey tadi.
"Masa sih?" tanya paman Novi tak percaya.
"Itu buktinya! Lantainya masih retak akibat cangkul yang menghilang tadi," tunjuk Rey pada bekasnya.
"Kalau cangkul yang biasa dipakai pak Maman, setahu saya disimpan di gudang," jawab paman Novi.
__ADS_1
"Boleh kita tahu tempatnya?" sahut Rey cepat.
"Memang ada hubungannya sama cangkul? Kok saya makin bingung ya? Tapi baiklah, akan saya tunjukkan tempatnya."
Paman Novi berjalan mendahului, menuju gudang belakang rumah ini. Di sana terdapat sebuah bilik kecil yang terpisah dari rumah, dan ternyata isinya semua peralatan berkebun dan otomotif milik pak Maman sebelumnya.
Mereka semua mencari keberadaan cangkul yang dimaksud, tapi tak ada yang berhasil menemukannya di bilik itu.
"Rey, sudah hampir petang ini. Kita sudah mencarinya ke seluruh tempat di sekitar sini, tapi tak ada petunjuk lagi. Gimana?" tanya Yumna mulai putus asa.
"Kalau kalian hendak pulang, silahkan tak apa. Trimakasih sudah membantu banyak di sini. Lain waktu, kalau ada kesempatan bolehlah mampir ke sini lagi," sahut ayah Novi.
"Trimakasih kembali, Pak. Kami harap, semua masalah ini sudah selesai saat kami berkunjung lagi," jawab Yumna.
"Mohon maaf kami telah mengobrak abrik rumah Bapak," tutur Rey melanjutkan ucapan Yumna.
"Mari saya antar ke depan!" ajak ayah Novi.
Baru beberapa langkah mereka berjalan ke depan rumah, ada sesuatu menarik perhatian Yumna di belakang.
"Rey, kamu lihat itu?"
"Lihat apa?" tanya Rey ikut menoleh sesuai arah yang ditunjuk Yumna sambil tetap berjalan ke depan.
"Tidak, Pak! Tadi....," sahut Yumna terputus, karena bingung hendak cerita.
"Eh, iya itu Brenda. Dia menyuruh kita mengikutinya," sahut Rey segera melangkah kembali menuju belakang kami.
"Brenda? Anaknya pak Maman?" tanya ayah Novi.
"Iya, sama adiknya berjalan ke sana. Ke arah kumpulan pohon pisang itu!" jawab Yumna akhirnya bisa mengutarakan.
"Apa iya, mereka.... Ah sudahlah, mari kita ikuti kalau itu benar," sahut paman Novi akhirnya mencoba percaya saja.
Semua mengikuti langkah Rey dan Yumna, sampai menemukan gundukan di balik pohon pisang.
"Kemana tadi Brenda? Ngilang lagi?" tanya Yumna tak melihat keberadaan sosok kecil tadi.
"Kayaknya hilang menembus tembok itu. Tapi, itu gundukan apa ya? Eh, ada cangkul yang tadi kita cari juga ternyata," sahut Rey mendekat.
__ADS_1
"Itu juga kenapa gundukannya dikerumunin banyak lalat ya? Apa bau busuk ini juga berasal dari situ? Cangkulnya juga kotor sekali, banyak tanah yang menempel. Berarti itu baru saja dipakai," tebak Yumna.
"Kalau apa yang kalian ceritakan tentang meluhat Brenda tadi benar, jangan-jangan itu.....," jawab paman Novi mulai menebak meski tak berani melanjutkan ucapannya.
"Sebaiknya kita panggil polisi, dan jangan menyentuh apapun si sekitarnya," seru ayah Novi memperingatkan.
Yumna mengambil ponsel dari tas kecilnya. Kemudian mencari nomor kantor polisi terdekat, untuk menceritakan tentang kecurigaan mereka semua.
Sambil menunggu polisi datang, mereka mendengar lagi suara tangisan wanita di balik tembok pembatas rumah Novi dengan kebun kosong di belakangnya. Dengan keadaan matahari yang sudah mulai kembali ke peraduan.
" Kalian dengar tidak?" sahut ayah Novi lagi.
"Kok saya jadi merinding ya?" sahut pak sopir.
"Seperti suara istrinya pak Maman. Apa yang dia lakukan di belakang tembok ini? Itu kan tanah pak Kusman yang memang tak terpakai karena sedang bekerja di luar pulau. Haduuhhh....semoga saja kita salah dengar. Dan tak ada apapun di situ," sahut paman Novi mulai cemas.
" Ayah, ini ada beberapa polisi datang. Apa ada yang memanggilnya?" tanya Novi bersama tantenya, mengantar empat orang polisi ke belakang rumah baru Novi.
Paman Novi menceritakan kecurigaannya terhadap gundukan itu. Juga cerita tentang suara tangisan yang sempat didengarnya dari balik tembok besar ini.
Meski sulit untuk diterima laporannya, tapi para polisi mencoba membongkar apa isi gundukan tersebut.
"AAAAAARRGGGGHHH.......," teriak tante Novi histeris ketika mulai terlihat sebuah mayat anak kecil mirip Brenda di dalamnya.
"Ayo, Bu. Bapak antar pulang dulu kalau tidak kuat."
"Brenda! Apa itu Brenda? Berarti, memang benar kalau Diana....., hikss.....," tangis tante Novi di depan mereka semua.
Semakin dalam, semakin terlihat bentuk mayat itu seutuhnya. Dan paman Novi juga semakin yakin kalau itu memang Brenda.
Para polisi menghubungi kantor pusat, untuk mengirim tim evakuasi mayat dan segera membuat garis polisi di sekitar rumah itu.
"Sementara kita tinggal di rumah nenek dulu ya, sama paman dan tante," kata ayah Novi menenangkan putrinya.
"Iya, Yah. Novi juga gak mau tinggal di sini sebelum masalah ini selesai."
"Karena semakin malam, kami minta ijin untuk pulang dulu," ucap Rey berpamitan.
"Paman, tolong dibongkar juga gundukan di belakang tembok ini," seru Yumna ketika melihat Diana dan anak-anaknya kembali muncul, menunjuk ke balik tembok, dan tersenyum senang.
__ADS_1
"Terimakasih!" katanya melambaikan tangan.
"Baiklah, trimakasih atas semua bantuannya. Hati-hati di jalan, dan salam untuk keluarga kalian," kata ayah Novi membuat Rey dan Yumna saling memandang, kemudian mengangguk dan tersenyum mengiyakan.