Restoran Hantu

Restoran Hantu
Malam Keramat


__ADS_3

Semua mulai mengangguk setuju. Jadi, saatnya Rey mempersilahkan kakek mengarahkan rencananya. Seperti yang sebelumnya pernah diceritakan padanya.


"Besok lusa, tepatnya dua hari ke depan, saat bulan purnama bersinar terang. Itu diyakini sebagai malam keramat. Adalah waktu yang tepat sebagai waktu pemujaan. Itu yang pernah saya baca sebelumnya, dari buku peninggalan kakek buyut."


"Jadi dua hari lagi, kami yang manusia akan menuju ke rumah Praja dulu. Sedangkan yang lainnya, langsung saja bersiap di sekitar kamar mayat rumah sakit tempat makhluk itu sersemayam sementara. Tempat sesembahan itu dipuja, seperti kata Rey dan Yumna yang pernah bertemu dengannya. Bagaimana?" lanjut kakek memberikan usulnya.


"Kakek yakin, kita tak perlu ke rumah sakit? Apa rumah sakit tidak lebih bahaya dari rumah Praja?" tanya Yumna.


"Kakek tahu, jadi kita akan mengikuti Praja mulai dari rumahnya. Karena sepertinya Praja tetap perlu ke rumah sakit juga, untuk memberikan korban makanan sebagai sesembahannya itu. Setelah dia melakukan ritual di rumahnya, yang harus segera kita hancurkan juga."


"Iya, aku pernah melihat itu. Memang ada waktu tertentu, untuk manusia jahat itu mendatangi kamar mayat di rumah sakit demi memberikan sesajen sebagai simbol tumbal yang telah dia korbankan sebelumnya. Jadi, mungkin besok lusa akan ada tumbal yang harus di serahkan. Tapi aku tak tahu, siapa itu. "


Om Barjo mengutarakan hal yang pernah diketahuinya. Tapi Yumna dan Rey saling memandang, seperti menebak nama seseorang yang dirasa memiliki resiko sebagai target tumbal selanjutnya.


" Istrinya Praja? " ucap Rey dan Yumna bersama.


" Ya, mungkin saja. Jadi kita harus segera membawanya pergi, sebelum Praja memberikan tanda sebagai tumbal berikutnya," timpal kakek.


"Baiklah, lalu apakah setelah kita menyelamatkannya jadi bisa menggagalkan Praja untuk memberi kekuatan makhluk itu?" tanya Yumna.


"Mungkin iya, soalnya aku juga pernah melihat kalau makhluk itu semakin kuat setelah mendapatkan makanannya. Kalian harus lakukan dengan cepat, sebelum makhluk itu mendapatkannya saat bulan purama tiba. Untuk mempermudah kita juga saat menyerangnya nanti," seru Om Barjo yakin.


"Masih menurut buku ini juga, makhluk itu semakin tak berdaya saat menjelang tengah malam. Tepat di waktunya dia mendapat persembahan. Jadi, kita susun rencananya secepatnya untuk membawa pergi sebelum Praja mengorbankannya," sahut kakek lagi.


"Baiklah, untuk urusan penculikan istri Praja, aku akan segera mencari penculik bayaran yang profesional. Jadi, mulai besok sampai menjelang tengah malam saat bulan purnama, kami para manusia akan membuntuti Praja. Sedangkan tugas kalian, langsung menyerbu makhluknya dua hari ke depan. Bagaimana? "tanya Rey.


"Kamu tahu darimana penculik bayaran itu?" tanya Yumna.


"Gampang kalau soal itu. Serahkan saja padaku."


Rey tersenyum manis, mengerlingkan sebelah matanya untuk membuat Yumna mulai berdebar kencang. Lalu pergi menjauh, untuk menelepon seseorang.

__ADS_1


"Dasar cowok aneh, ditanya serius malah bikin deg-degan!" gerutu Yumna menahan rasa malu.


Tak lama, Rey sudah kembali saat kakek ditemani om Barjo menyusun denah rumah sakit untuk memudahkan jalan mereka saat menyerang.


"Gimana, Rey?"


"Beres, sekarang juga sudah dilakukan. Mereka akan terus memantau, sampai ada kesempatan baik untuk membawanya ke tempat ini. Restoran hantu. Tapi aku minta, agar penculikan dilakukan sesaat sebelum waktu persembahan tiba. Supaya Praja tak memiliki kesempatan mendapatkan korban lainnya."


"Pinter, semoga lancar ya!" ucap Yumna mengacungkan dua jempolnya.


"Aamiiin," sahut Rey merangkul Yumna.


"Kenapa?" tanya Yumna kaget melihat lengan yang melingkar di bahunya.


"Kita pulang sekarang. Menyiapkan tenaga untuk beberapa hari ke depan. Kakek, mari saya antar. Terimakasih semuanya, semoga besok akan tetap baik-baik saja."


Rey mengucapkan beberapa kata semangat, untuk menghadapi pertarungan esok hari saat bulan purnama memulai bulatannya yang sempurna. Dan merekapun segera membubarkan diri, meski sebagian masih ada yang ingin menikmati suasana restoran ini.


" Kakek yakin, akan ikut kita besok lusa? " tanya Rey mengendarai mobilnya menuju rumah kakek Deva dan Doni.


" Bawa mereka ke restoran ini saja. Sekalian biar mudah memantaunya. Nanti para pekerja restoranku akan tetap aku suruh menjaga tempat itu, selagi kita menyerang ke sana. "


" Baiklah, aku akan lebih tenang meninggalkan mereka di sana. Trimakasih atas kerjasamanya," sahut kakek.


" Sama-sama, " jawab Rey tetap fokus ke depan.


****


Dua hari berlalu, dengan terus melakukan penyelidikan ke rumah sakit dan rumah Praja setiap pulang sekolah. Tak ada yang mencurigakan, sampai hari ini, waktu yang sudah mereka persiapkan tiba. Hanya menunggu saat bulan purnama nanti malam saja.


"Rey, siap?"

__ADS_1


"Pasti! Kita ke restoran dulu, karena katanya istri Praja sudah diamankan di sana," ucap Rey yakin, saat hari menjelang petang. Setelah menjemput kakek dan cucunya untuk segera ikut diamankan.


Jalanan menuju restoran terasa legang tanpa ada yang berseliweran. Sepertinya para tamu yang biasa datang sudah berkumpul di rumah sakit sesuai rencana dua hari lalu. Tinggal menunggu perintah om Barjo untuk menyerangnya nanti.


Sesampainya di restoran, ternyata sudah sesuai apa yang diinginkan. Istri Praja dan perawatnya benar-benar sudah diamankan.


"Lhoh, bukannya kamu sepupunya Mifta? Polisi? Mana penculik bayarannya?" tanya Yumna bingung tak mengerti.


"Iya, aku diminta Rey untuk mengamankan mereka. Rey sudah menceritakan semua. Karena Mifta juga pernah cerita tentang kalian yang bisa melihat makhluk tak kasat mata, jadi aku mencoba mempercayainya. Yang terpenting bagiku, demi menyelamatkan nyawa manusia," jelas polisi yang mengajak dua orang teman seprofesinya di luar jam kerja.


" Oh, kirain memang ada penculik bayaran beneran. Rey!!" ucap Yumna gemas, memukul lengan Rey yang hanya meringis menahan tawa.


Perawat itu masih gemetar, baru tahu setelah dijelaskan. Sedangkan istri Praja, terus meracau. Sambil menunjuk Rey dengan kata ngawurnya.


" Dia... Diaa...., hahahaaa..... Tunggu saja!" tawanya menggelegar seisi ruangan.


"Ya sudah kalau begitu, kami pamit saja dulu. Sebelum terlambat sampai menjelang tengah malam."


Rey, Yumna, dan kakek beranjak meninggalkan tempat itu. Tapi baru hampir melewati rumah Yumna, mereka melihat dua orang pria berkostum jubah hitam menggendong wanita tua yang terlihat tak berdaya.


Sepi, tak ada teriakan ataupun pertolongan. Karena memang sebagian warga meyakini, kalau malam ini sebagai malam keramat, pantang untuk keluar rumah kalau tak mendesak.


Semakin dekat, semakin terlihat bahwa wanita itu tak sadarkan diri, dan mereka seperti mengenali.


" Nenek Kip!" seru Yumna cemas.


"Tenang, Sayang. Kita kejar mereka!"


Rey melajukan mobilnya dengan cepat. Mengikuti dari belakang mobil penculik nenek Kip yang sudah melajukan mobilnya.


Jarak kedua mobil tak terlalu jauh. Jadi sepertinya mereka sadar dan sengaja membiarkan Rey mengikuti.

__ADS_1


Sampailah tiba di depan rumah yang memang rencananya akan mereka pantau malam ini. Rumah Praja.


" Wah, kurang ajar. Apa yang mau dia lakukan?" tanya Rey tak sabar untuk turun, dan mendahului semuanya masuk ke dalam.


__ADS_2