
"Lahh.....rugi dong kita ke sini!" kata Yumna setelah duduk di meja kedai mie ayam tersebut.
"Rugi kenapa? Karena gak ketemu orangnya?" tanya Rey ikut mengamati semua celah ruangan kedai ini.
"Iyalah, mana sudah terlanjur janji mau traktir juga. Eh, ternyata yang dicari nggak ada!"
"Baru sekali ini mau traktir, kok kayaknya gak ikhlas banget?"
"Bukannya gitu. Kan tadi kita rencana ke sini mau cari tahu tentang orang yang selalu diikuti kak Robert. Rugi kan kalau dah keluarin duit malah gak ketemu sama tujuan yang sebenarnya," ucap Yumna beralasan.
"Tuh kan, mulai perhitungan. Kalau gitu kita simpan masalah itu dulu. Sekarang kita nikmati kencan sore ini," sahut Rey menggenggam tangan Yumna, membuat hatinya mulai bergetar kencang.
"Rey, kamu serius?" tanya Yumna dengan menahan degupan jantungnya sendiri.
"Serius apa?"
"Ini maksudnya apa?" tunjuk Yumna pada genggaman tangan mereka.
"Oh, kamu keberatan. Maaf kalau gitu!" sahut Rey melepaskan.
"Rey, bukan itu maksudku. Ah, sudahlah! Aku pesankan makanan seperti kemarin saja ya," ucap Yumna sedikit melihat reaksi perasaan Rey terhadap dirinya.
Yumna mulai kurang percaya diri lagi, dan berusaha memupus kembali harapannya yang terlalu tinggi. Dia tak ingin jatuh terlalu dalam saat keinginannya cuma impian semata.
Yumna mengalihkannya perasaan kecewanya dengan memesan makanan saja. Dia berdiri hendak menuju seorang pelayan yang dari tadi tak mendengar panggilannya. Tapi genggaman tangan Rey lebih cepat menggapainya sebelum melangkah.
"Yumna, tetaplah di sini. Jangan pernah pergi meninggalkanku sendiri, setelah mendapatkan apa yang kamu inginkan nanti. Sama seperti semua perempuan lain di luar sana."
"Maksudnya? Kamu lagi ngigau ya, tiba-tiba bicara begitu. Lagian aku gak akan meninggalkanmu kemana-mana, cuma mau ke meja pemesanan saja! AAAAAARRGHH!!"
Rey menarik tangan Yumna, sampai tak sengaja kaki Yumna terpeleset kuah mie yang belum sempat di bersihkan pelayan yang sedang mencari alat kebersihan.
" Heeempp....., " suara Yumna seperti terkunci, saat dia baru sadar telah jatuh menelungkup di atas pangkuan Rey.
Jarak wajah mereka tak lebih dari sepuluh senti, yang membuat getaran jantung masing-masing saling beradu seperti genderang yang terus bersahutan.
"Permisi, maaf ini mau saya pel dulu!" sahut seorang pelayan yang ingin membersihkan tumpahan bekas mie di lantai, sambil menahan tawanya saat melihat Rey dan Yumna saling pandang dan tak menyadari keberadaannya.
"Oh, iya trimakasih. Tadi saya jatuh terpeleset ini," kata Yumna beralasan meskipun sebenarnya dia juga menyukai perasaan yang terjadi padanya.
__ADS_1
"Maafkan kami ya, Mbak. Tadi sudah mau dibereskan, tapi ada kabar kalau salah satu teman kami tak dapat masuk kerja. Jadinya telat ke sininya," ucap pelayan itu masih melanjutkan membersihkan lantainya.
"Oh iya, Mas. Kalau boleh tahu, kemana mas yang kemarin rambutnya dikuncir ke belakang dan sedikit dicat coklat itu?" tanya Yumna menyebutkan ciri-ciri lelaki yang diikuti Robert kemarin.
"Si Ravon? Nah itu dia maksud saya yang tidak masuk tadi."
"Oh, jadi dia tidak masuk? Kalau boleh tahu kemana ya? Apa dia sakit?" tanya Yumna mulai mencari tahu.
"Perkenalkan saya Rey, temannya Robert," ucap Rey ikut memancing agar pelayan itu bercerita.
"Robert? Adiknya Ravon yang baru meninggal?"
"Iya, mas tahu?" tanya Yumna lagi
"Beberapa hari ini Ravon sedikit aneh, kadang seperti orang ketakutan tak jelas. Mungkin lagi depresi setelah kematian adiknya."
"Lalu, hari ini apa karena itu dia tidak masuk? Karena Robert?"
"Entahlah, tadi cuma bilang kalau mau ke makam adiknya saja. Memang malang sekali nasib Ravon itu," kata pelayan yang masih mengepel di depan Yumna setelah dia kembali duduk di kursi kosong lainnya.
"Memang kenapa?"
"Dari kecil selalu dibedakan dengan adiknya. Dia dianggap kurang pintar, jadi keluarganya mengharuskan dia bekerja sendiri kalau ingin melanjutkan sekolah sampai lulus. Sedangkan adiknya, selalu dibiayai apapun yang diinginkannya karena memang adiknya termasuk siswa jenius."
Tak lama, pesanan itu datang lengkap dengan minumannya. Sampai selesai makan, masih tak terlihat juga Robert maupun kakaknya di sekitar mereka.
" Ayo kita pulang saja, tak ada hasil apa-apa kan!" kata Yumna kecewa.
"Ada hasilnya kan? Kita bisa kencan berdua saja!" jawab Rey tersenyum simpul melirik ke arah Yumna.
"Uhukk.....," Yumna tersedak saat menyeruput minuman yang masih dibawanya ke dalam mobil Rey untuk melanjutkan perjalanan pulang mereka.
Yumna terus berpikir keras tentang kematian Robert, siswa jenius yang masih menjadi misteri.
"Rey, apa Ravon ya yang tega mencelakai adiknya sendiri?" tanya Yumna.
"Aku juga belum tahu pasti, jadi kita tak boleh menuduhnya dahulu sebelum ada bukti nyatanya."
"Benar juga ya. Tapi sebenarnya ada alasan juga kalau Ravon pembunuhnya. Dia mungkin merasa iri atas sikap orang tuanya yang membedakan kedua anaknya. Iya nggak?" tanya Yumna lagi.
__ADS_1
"Mungkin saja. Tapi apa kita punya buktinya?"
"Enggak sih. Eh, stoooppp!!" sahut Yumna membuat Rey semakin kaget dan mengerem mobilnya secara mendadak.
"Selalu saja bikin orang kaget. Memangnya kenapa?"
"Itu, lihat! Bukannya dia kak Novi? Sama kak Robert juga lagi," tunjuk Yumna pada seorang wanita yang sedang melamun sendiri di meja sebuah cafetaria.
"Novi siapa?"
"Kak Novi itu sahabat baik kak Robert. Dari yang pernah aku dengar, kak Novi itu sudah satu kelas dan satu bangku semenjak kelas satu. Kasihan, mungkin dia yang paling merasa kehilangan."
"Aku rasa itu bukan ekspresi kehilangan, tapi ketakutan."
"Kenapa dia takut? Apa sama seperti kak Ravon, yang selalu ketakutan saat merasa diikuti terus sama kak Robert?"
"Ayo, kita turun dan duduk di dekat wanita itu. Biar kita tahu apa yang dilakukan Robert padanya."
"Serius? Tapi kan tadi baru makan, masa sekarang nongkrong lagi. Waduh, bakal gak jajan selama sebulan ini kayaknya."
"Kali ini aku yang traktir!" jawab Rey.
"Ayo kalau gitu, kita ke sana sekarang sebelum kak Novi pergi meninggalkan mejanya," jawab Yumna menggandeng tangan Rey agar segera turun.
"Kok semangat kalau denger gratisan?"
"Ya iyalah, namanya juga anak mandiri. Jadi semuanya harus sendiri, gak boleh merepotkan nenek kan!"
"Ya deh, ayo!"
Rey dan Yumna masuk ke dalam cafetaria tersebut dengan mengambil duduk tepat di belakang Novi. Kebetulan antara meja satu dengan lainnya sedikit tertutup oleh senderan kursi yang tinggi, jadi lebih mempermudah mereka untuk bersembunyi sambil mengamati.
"Ayo pesan Rey, aku gak tahu apa isi menunya. Soalnya tulisan namanya aneh semua," kata Yumna menyerahkan daftar menu.
Rey memanggil seseorang untuk mencatat menu pesanan mereka berupa minuman segar dan beberapa camilan. Tapi tak lama setelah kedatangan Rey dan Yumna, tibalah seorang laki-laki yang duduk di depan Novi.
Laki-laki itu nampak seperti seseorang yang dicari oleh Rey dan Yumna.
"Kak Ravon, iya itu kak Ravon," bisik Yumna pada Rey agar ikut mengamati mereka.
__ADS_1
Robert yang melihat kedatangan kakaknya, malah pergi menghilang entah kemana.
"Kok malah pergi? Ya sudah, kita amati mereka berdua saja."