
"Baiklah, lalu apa yang akan kalian lakukan untuk mengahadapinya?" tanya kakek lebih serius daripada sebelumnya.
"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kalau kami berencana membentuk pasukan tak kasat mata untuk menyerbu dia."
Rey juga menjawab lebih serius lagi.
"Lalu, kapan kalian akan mengumpulkan mereka?" tanya kakek lagi.
"Malam ini, di restoran hantu milikku!" sahut Rey cepat.
"Restoran Hantu?" Doni dan Dimas melongo mendengar pernyataan dari Rey barusan.
"Iya, bangunan yang sengaja aku beli hanya untuk menyambut para hantu. Untuk mencari informasi keberadaan arwah nenekku."
"Waooww, keren sih. Tapi ngeri juga dengernya," sahut Doni geleng-geleng kepala.
"Baiklah, nanti kakek akan ikut ke sana. Kalian berdua jaga rumah, dan kakek akan usahakan bisa membebaskan jiwa ibu kalian."
"Mereka kakak beradik?" tanya Yumna penasaran.
"Ya, sepupu. Jadi ibunya Doni merupakan kakak dari ibu Deva, anakku semua."
"Dan mereka terperangkap semua?" tanya Rey.
"Iya, itu terjadi saat mereka bekerja di apotek milik tuan Praja."
"Oh, jadi masih satu orang juga pelakunya."
Rey manggut-manggut, sambil mengetuk dagunya sendiri dengan telunjuknya.
"Apa nenekmu juga jadi tumbalnya?" tanya Doni polos.
"Iya, bahkan mungkin jadi tumbal pertama awal kesuksesannya. Karena nenekku mempunyai darah yang masih mengalir di tubuh Praja juga."
"Maksudnya? Kalian satu keluarga?" tanya Deva mundur, dan memasang kuda-kuda.
"Iya seharusnya. Tapi sayang aku tak mengakuinya. Dia saja tega menumbalkan nenekku, sekaligus ibunya sendiri. Apa aku masih harus menerimanya sebagai paman juga?"
Rey terlihat menerawang kosong ke depan. Mengingat detik-detik terakhir dia bertemu neneknya, sampai dia menemukan neneknya sudah tak bernyawa sepulang sekolah belasan tahun yang lalu.
" Sepertinya kamu merasakan kepedihan kami juga. Maaf kalau kami sempat menuduhmu bersekongkol dengan juragan Praja," kata Doni yang sepertinya sedikit lebih dewasa sikapnya, meski masih seumuran juga.
__ADS_1
"Boleh kakak tahu, bagaimana kisah ibumu?" tanya Yumna pelan, berusaha menjaga perasaan kedua bocah di depannya.
"Biar saya yang cerita. Doni dan Deva, kalian istirahat saja," kata kakek mereka berdua.
"Iya, Kek. Kami masuk dulu!" pamit Doni dan Deva bersama.
'Cklek'
Suara pintu kamar terkunci, barulah kakek mereka memulai ceritanya.
"Dua tahun lalu,..... saat mereka hendak menempuh ujian ke jenjang berikutnya, ibu mereka kecelakaan bersama," cerita kakek memandang langit-langit rumahnya.
"Heehh.... Kasihan mereka. Memang ayah mereka kemana?" tanya Yumna yang mulai mengintrogasi seperti biasanya.
"Ayah Doni meninggal saat dia berumur dua tahun. Sedangkan Deva, ibunya menikah siri dengan laki-laki yang membohongi dirinya, karena ternyata sudah beristri. Lalu meninggalkan Deva meski masih ada dalam kandungan, saat istrinya sahnya mengetahui."
"Ya ampunn, kasihan mereka."
"Lalu, kenapa kakek menuduh kalau itu ada hubungannya sama Praja?" tanya Rey tak sabar mendengar kelanjutannya.
"Waktu itu, sebelum mereka berdua pulang, mereka sempat menelpon kakek untuk bilang tak usah membeli lauk makan malam."
"Heeeeehhh......, mereka bilang baru diberi ayam potongan besar oleh majikannya. Tapi kakek sudah sedikit curiga, saat dia bilang kalau majikannya menyuruh mereka memilih bagian tubuh ayam yang hendak mereka bawa pulang," cerita kakek lagi, sambil berkali-kali menghembuskan nafas panjang.
" Apa hubungannya? " tanya Rey lagi.
" Mungkin kalau mereka memilih bagian yang satunya, anaknya lah yang akan diminta menjadi tumbal. "
" Lalu? "
" Lalu benar saja firasatku yang terus tak enak ini. Karena setelah telepon itu, mereka mengalami kecelakaan. Angkot yang ditumpangi terperosok ke parit yang sebenarnya tak terlalu parah. Dan anehnya lagi, saat jasadnya dibawa pulang, seperti ada tanda titik hitam dua di leher mereka berdua yang menjadi penumpang meninggal saat itu. Ya, hanya mereka yang meninggal. "
Kakek menghentikan ceritanya, berusaha menguatkan dirinya sendiri. Baru setelah sedikit tenang, Yumna mulai bertanya lagi.
" Trus supirnya? "
" Supirnya dan kenek nya masih dipenjara sampai sekarang. Saat aku menjenguk, mereka menangis tersedu-sedu dan meminta maaf. Mereka sendiri juga heran, karena saat itu katanya angkot susah untuk dikendalikan tiba-tiba sebelum masuk ke parit itu. "
" Bagaimana kakek tahu kalau jiwanya terperangkap juga di rumah sakit itu? "
" Saya hanya mengira-ngira, karena saya orang sini dan pernah tahu kalau Praja yang memiliki rumah sakit terbengkalai itu. Dan perasaan kakek juga, mereka sedang terperangkap karena tak pernah ku lihat mereka berpamitan pulang ke rumah ini sampai 40 hari kematiannya."
__ADS_1
"Kakek bisa melihat mereka juga?"
"Ya, dan itu menurun ke Deva juga.
" Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu. Nanti tengah malam akan saya jemput kalau berkenan, " ucap Rey menawarkan diri.
" Iya, trimakasih sudah repot-repot menjemput kakek. "
" Tak apa, karena kita bisa kerjasama menuntut keadilan ini," jawab Rey semangat.
****
Malam hari, lebih tepatnya hampir tengah malam, Rey mulai menjemput kakek dan Yumna bergantian sesuai janjinya. Sebelum dia menuju ke restoran hantu.
Dan benar saja, sesampainya di restoran, ternyata om Barjo sudah datang membawa banyak pasukan. Dan Rey tak mau menunggu lama untuk mempersilahkan masuk mereka semua, agar pembicaraan malam ini bisa segera terwujud juga.
"Silahkan masuk. Shemaaa..... Bagaimana?" tanya Rey mendahului semuanya untuk masuk ke dalam bangunan tua itu.
"Siap, Bos. Hari ini kita sudah masak banyak sekali, ini juga kursinya sudah kami tambah. Dari belakang gudang sudah kami keluarkan semuanya."
"Bagus, silahkan duduk dan menikmati sajian hari ini. Sebelum kita membicarakan rencana selanjutnya," sambutan Rey mempersilahkan semua undangan yang sudah berkenan datang.
Suasana lumayan riuh saat mereka semua menikmati pesta hari ini. Kakek dan Yumna hanya mengamati, karena sudah bukan jam makan bagi mereka termasuk Rey juga.
Sampai beberapa saat kemudian,.....
"Terimakasih sudah datang. Dan langsung saja saya akan membicarakan tentang penyerbuan rumah sakit hantu itu."
Rey memulai memimpin pertemuan malam ini. Awalnya banyak perdebatan, karena mereka tak berani menghadapi makhluk ganas sesembahan Praja.
Tapi setelah Rey menunjukkan tentang kekuatan persatuan, akhirnya sedikit-sedikit keberanian mereka mulai datang.
" Ini saya contohkan saja ya, saat saya hanya mematahkan satu buah lidi. Mudah bukan? Nih, kalau banyak lidi akan saya patahkan. Bagaimana?" tanya Rey memberi perumpamaan.
Semua yang memandang hanya manggut-manggut, sebelum Rey melanjutkan lagi.
"Meskipun ada korban, tapi pasti lebih banyak yang bisa diselamatkan," tunjuk Rey pada sebatang lidi yang patah, diantara puluhan yang masih lurus seperti sebelumnya.
"Jadi, kita harus bersatu demi kepentingan bersama. Kalaupun yang akan jadi korban itu saya,.... Saya akan rela demi kehidupan yang lebih baik untuk yang lainnya. Meski aku tak ikut menikmati kebahagiaan itu nanti ," tambah Yumna menunjukkan sikap rela berkorbannya, seperti biasa.
Sepertinya para pendengar Rey dan Yumna mulai setuju melakukan perlawanan bersama-sama. Sampai waktu yang akan ditentukan itu tiba.
__ADS_1