Restoran Hantu

Restoran Hantu
Penemuan Mayat Leila


__ADS_3

"Tolong jangan kasar, Bu. Kami hanya ingin membantu!" seru Rey mulai kesal melihat sikap bu Reni padaku.


"Rey, sabar. Maaf, Bu. Apa boleh kami berkeliling sebentar di ruangan ini?" sahut Yumna mencoba meminta waktu.


Yumna yakin akan cerita Leila tentang keberadaan jasadnya di ruangan itu. Tapi dia masih belum tahu, bagaimana cara mencarinya.


"Bu, tolong beri waktu mereka sebentar saja. Siapa tahu mereka bisa membantu kita," kata Reina merayu ibunya.


"Baiklah, aku beri waktu kamu lima menit. Tak lebih dari itu, dan kalian berdu harus segera meninggalkan tempat ini!"


Yumna dan Rey setuju, dan mencoba memanggil Leila dalam hati. Agar waktu yang mereka punya tak sia-sia sebelum diusir dari tempat itu.


"Tooolooong..... Tooolooong......," suara lirih dari dinding sebelah kiri Yumna terdengar oleh mereka berdua.


"Rey, apa sebelah sini?"


"Kita coba cari tahu!"


"Tapi, dindin ini tertutup rak alat kerja. Mana mungkin Leila ada di sana?"


"Kamu sendiri tak yakin, kenapa ngeyel jadi anak? Pakai minta waktu juga!" sahut bu Reni mulai geram.


"Tenang, Bu. Tenang, biar darah tinggi ibu tidak naik lagi nanti."


Reina terus menenangkan hati ibunya. Sedangkan Rey dan Yumna tak menyahuti perkataan bu Reni, dan hanya mencari petunjuk saja.


"Rey, apa ini?"


Yumna menunjuk sebuah tuas yang menempel pada dindingnya. Tuas yang terletak tepat di sebelah rak alat yang menyatu dengan tembok ruangannya.


"Jangan sentuh itu, kata suamiku itu bisa membuat orang kesetrum!" sahut bu Reni terlambat, karena Yumna sudah terlanjur menariknya.


Mereka saling berpandangan, karena ternyata Yumna tak mendapat aliran listrik apapun. Tapi tak lama setelah itu, rak alat di depan Yumna mulai bergetar.


Mereka semua mulai mundur perlahan, agar tak celaka atas getaran yang dikira gempa.


"Ayo cepat keluar dari sini. Ada gempa, kita harus segera pergi!"


Bu Reni mengajak semua untuk naik, kembali ke rumahnya yang berada di atas ruangan ini.


'Kriiieeeettttt......'


Suara rak alat yang tiba-tiba memutar, dan memperlihatkan adanya ruangan baru meski tak terlihat isinya karena tak ada penerangan cahaya.


Bau busuk semakin menyebar. Mereka semua tak tahan untuk masuk ke dalamnya.

__ADS_1


"Aku telepon polisi saja!" sahut Rey.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin membuat suamiku dipenjara?" tanya bu Reni dengan nada semakin tinggi.


"Bu, kenapa ibu masih membela lelaki itu? Bagaimana kalau itu memang benar Leila?"


"Lalu apa setelah aku kehilangan Leila, aku juga harus kehilangan suami juga?"


"Cukup, Bu! Selama ini aku hanya diam meski tak suka melihat perilaku suami ibu yang cuma bisa numpang itu. Tapi kalau ternyata ini sudah menyangkut Leila, aku sudah tak mau diam lagi!"


Reina mulai geram melihat sikap ibunya yang terus membela suaminya. Reina memberanikan diri untuk masuk ke ruangan rahasia itu.


"AAAAAAARRGHHH!!!!! LEILAAA......," teriak Reina dari dalamnya.


'Wuuuushh.....'


Seperti ada tiupan angin menerpa wajah Yumna.


"Terimakasih," suara lirih yang menyertai hempasan angin itu.


"LEILAAAA........," teriak bu Reni setelah ikut masuk ke ruangan itu.


Rey segera menghubungi pihak yang berwajib. Dan tak lama, sebelum polisi datang ternyata ayah tiri Leila kembali dari luar kota.


"RENIII!! REINAAAA!!! Kalian dimana?" teriaknya dari rumah yang ada di atas ruangan ini.


"Bu, tenang. Jangan sampai dia melarikan diri!"


Bu Reni mengusap paksa air matanya. Dan naik ke atas dengan berpura-pura tak ada apa-apa.


"Dari mana saja sih? Lama banget? Nih surat jual belinya sudah ditanda tangani, dan mending uangnya aku saja yang simpan," kata suami bu Reni.


"Terserah kamu saja! Kamu duduk saja di sana, aku siapkan makanan untukmu," kata bu Reni masih berpura-pura biasa.


Yumna, Rey, dan Reina hanya mengamati mereka dari balik tembok saja. Dan sebelum bu Reni menyediakan makanan yang tak pernah benar-benar dimasaknya, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari depan.


"Permisi, apa benar ini rumah bu Reni?" tanya seorang anggota polisi berseragam dinas.


"Ii... Iiyaa, Pak. Ada apa ya?"


"Apa bapak suaminya?"


"Iya benar, saya suaminya," kata suami bu Reni yang masih belum menyadari akibat penyiksaannya terhadap Leila.


"Kalau begitu, silahkan ikut kami!"

__ADS_1


"Lhoh, ini sebenarnya yang salah siapa? Kenapa saya yang jadi disuruh ikut?"


"Nanti akan kami jelaskan di kantor. Periksa semua ruangan di rumah ini!" perintah pak polisi pada anak buahnya.


Tak lama bu Reni keluar, dan mulai melihat jijik pada suaminya.


"Ren, ini polisinya salah tangkap. Tadi cari kamu, kok sekarang malah tangkap aku?" tanya suami bu Reni dengan tangan diborgol ke belakang badan.


"Bawa saja dia, Pak. Jenazah anak saya ada di ruang bawah tanah!" tangis bu Reni mulai pecah.


"Jee...jenazah? Maksudnya apa? Aaa.... Apaa, dii...diaaa?"


Suami bu Reni mulai ingat kalau dia meninggalkan Leila di ruang penyekapannya. Dan selama ditinggalkan, tak ada makanan sedikitpun yang dikirimkan.


"Kamu bukan manusia, tapi iblis bertopeng!" sahut Reina keluar dari persembunyian, dan mulai mengutuk dengan kata kasar kepada ayah tirinya.


"Maaf, aku tak sengaja. Aku tak bermaksud membuat dia seperti itu. Maaf!" ucap ayah tiri Reina bersimpuh tak kuat, menahan berat badannya yang bergetar ketakutan.


"Lapor, Komandan. Memang benar ditemukan mayat, di dalam ruangan yang sepertinya sengaja dirahasiakan."


"Baiklah, laporan diterima. Aku dan dua orang lainnya akan kembali ke kantor bersama dia, dan kalian bertiga tolong urus dan kubur dengan layak."


"Siap, Ndan!" hormat para bawahan polisi pada atasannya.


Semua tetangga mulai berdatangan, dan halaman rumah mulai ramai orang. Yumna dan Rey beserta keluarga Leila juga diminta ikut ke kantor polisi sebagai saksi.


Setelah mereka jelaskan, akhirnya diperbolehkan pulang pada waktu hampir petang. Dan kalau ada permintaan keterangan tambahan, mereka akan dipanggil lagi lain kali atau disaat sidang nanti. Jadi Rey meninggalkan nomor teleponnya pada polisi.


"Capek juga ternyata ngurusi urusan orang ya," kata Yumna.


"Makanya aku butuh kamu buat membantu, dan sekarang sepertinya pekerjaanku lebih ringan saat kamu sudah mulai bisa mengajak mereka berkomunikasi melalui batin," senyum Rey mengembang puas.


Sungguh itu membuat Yumna hampir klepek-klepek dibuatnya. Yumna pun ikut tersenyum menatap keelokan rupa sosok di sebelahnya yang mulai sering menunjukkan senyum padanya.


Sampai tak terasa, mereka sudah sampai di depan rumah Yumna.


"Ayo, ikut turun!" ajak Yumna.


"Pastilah, kalau aku anterin sampai depan rumah tuh tandanya aku pengen mampir. Ketemu sama nenek!" jawab Rey mendahului Yumna.


"Lah, nih orang. Yang punya rumah malah ditinggal? Rey, woey seenaknya saja mau masuk rumah orang tanpa permisi sama yang punya!"


"Berisik, kamu lama soalnya. Eh, nenek maaf. Saya mampir makan lagi boleh kan?" kata Rey mulai cari muka pada nenek Yumna yang langsung keluar mendengar suara ribut cucunya.


"Boleh, silahkan. Nenek malah suka kalau kamu datang. Jadi cucu nenek nambah satu lagi kan!"

__ADS_1


"Trimakasih, Nek."


Rey memeluk tubuh renta di depannya, sambil mengingat kenangannya bersama neneknya sendiri beberapa tahun yang lalu.


__ADS_2