Restoran Hantu

Restoran Hantu
Rencana Perlawanan 1


__ADS_3

Pagi saat matahari mulai menerbitkan sinarnya, Yumna sudah siap menyambut dengan seragam rapi. Duduk di teras sambil memainkan smartphone miliknya, sebelum Rey datang menghampiri.


"Nunggu Rey?" tanya nek Kip mengambil duduk di sebelah Yumna.


"Iya, Nek. Oh iya, nanti Yumna minta ijin buat bantu Rey cari neneknya ya. Jadi mungkin pulang sekolahnya agak telat, seperti biasa," cengir Yumna merajuk kepada nenek Kip.


"Iya, tapi kamu harus hati-hati. Kamu sudah besar dan bisa memilih mana yang baik dan tidak. Tapi ingat pesan nenek juga, agar selalu memikirkan resikonya dulu sebelum bertindak."


"Iya, Nek. Eh, itu mobil Rey sudah datang."


Beberapa meter di depan mereka berdua, berhenti mobil mewah Rey di pinggir jalan yang masih terlihat dari depan rumah Yumna. Tak menunggu lama, si pemilik mobil turun dengan kerennya. Sampai membuat mata para hawa yang melintas, sempat terpesona.


"Pagi, Nenek Kip. Rey kangen, maaf kemarin gak sempet mampir," ucap Rey mendekat ke arah Yumna dan nenek Kip yang sedang berdiri di teras rumah mereka.


"Iya, tapi sekarang kayaknya sudah gak murung kayak kemarin?" goda nek Kip.


Nenek Kip memegang kedua lengan Rey, lalu menatap tajam ke arah matanya.


"Rey, nenek percaya kamu bisa menjaga Yumna. Jangan pernah tinggalkan dia, apapun keadaannya ya! Itu kalau kau memang benar-benar serius suka padanya. Tapi kalau cuma buat kesenangan sesaat, sebaiknya tolong jauhi Yumna sekarang juga." seru nenek Kip terlihat serius di depan Rey.


"Iya, Nek. Rey sayang banget sama Yumna, jadi Rey akan usahakan untuk selalu menjaga di sampingnya, mendukungnya, dan memberi semangat terus padanya," kata Rey sambil mencolek dagu Yumna yang tersipu malu mendengarnya.


"Ya sudah, nenek percaya sama kalian berdua. Bersatulah untuk mencapai tujuan, kalian pasti bisa. Nenek hanya bisa berdoa dari sini saja," nenek mengelus pundak Rey dan Yumna dengan kedua tangannya.


"Nenek sudah tahu semuanya?" tanya Rey menatap Yumna.


"Iya, aku sudah menceritakan semua yang kita sembunyikan selama ini. Dan ternyata nenek bisa menerima semuanya tanpa ada kekecewaan. Ya kan, Nek?"


Nenek Kip hanya tersenyum menatap kedua cucu di depannya.


"Trimakasih, Nek. Doa dari neneklah yang paling mempengaruhi semua usaha kami berdua."


"Iya, nenek selalu berdoa untuk keselamatan kalian berdua."


"Kalau begitu, Rey pamit sekolah dulu," kata Rey mencium punggung tangan nenek Kip, kemudian diikuti Yumna setelahnya.


"Iya, hati-hati di jalan!"


"Bawalah korek api juga untuk membakarnya, sambil berdoa memohon perlindungan Yang Kuasa, supaya tak memakan korban selanjutnya," lanjut nenek Kip setelah Rey dan Yumna berjalan beberapa langkah menuju mobilnya.


"Nenek tahu dari mana?" tanya Yumna dan Rey menghentikan langkah sambil menoleh kebelakang.


"Dulu waktu nenek kecil ada yang mirip seperti itu. Lalu segala upaya di usahakan untuk memusnahkannya. Ternyata apilah yang bisa mengembalikan dia menuju neraka, alamnya yang sebenarnya."


"Lalu, bagaimana cara mengambil arwah tumbalnya?"

__ADS_1


"Nenek tak tahu kalau soal itu. Sudah, berangkat sekolah sana biar tak terlambat."


"Trimakasih, Nek."


Rey membungkukkan badan sedikit, sebagai tanda penghormatan. Kemudian melanjutkan langkahnya lagi ke depan.


Sepanjang jalan, Rey dan Yumna masih terus memikirkan cara untuk menantang makhluk itu. Tapi dia harus punya banyak dukungan dari makhluk tak kasat mata lainnya, untuk menghadapi bersama.


"Rey, kenapa kita tak ke rumah sakit Robert saja?"


"Memang kenapa? Kita langsung cari monsternya di sana?"


"Monster? Kebanyakan nonton film kayaknya. Itu lebih mengerikan daripada monster, soalnya bisa meminta tumbal seenaknya. Ya nggak langsung cari dia dulu, sebelum kita mengumpulkan pasukan."


"Pasukan? Maksudnya apa sih? Trus, kita ke sana mau ngapain kalau gak datang ke sarangnya?"


"Kita kumpulin para makhluk dari rumah sakit itu. Bukannya mereka jadi tak nyaman juga kalau ada makhluk itu di sana?"


"Benar juga ya? Nanti kalau mereka takut?"


"Ya kita rayu, toh itu juga menguntungkan buat mereka kalau berhasil. Jadi kenapa mereka harus lari dan sembunyi terus menerus, kalau bisa mengusirnya."


"Benar juga. Tapi, bagaimana cara kita mengajak makhluk di tempat itu berkumpul untuk membicarakan rencana kita?"


"Ide bagus. Eh, tuh di depan ada Novi. Kita tanya, Yuk. Bagaimana kelanjutan kisah rumahnya?" ucap Rey setelah masuk ke halaman sekolah.


"Iya, tapi bukannya rumah kak Novi jauh dari sini? Katanya mau pindah sekolah juga?"


"Turun aja, tanya langsung ke dia!"


"Iya, parkirin dulu mobilnya!"


"Iya, Nona."


Rey mencari tempat yang pas untuk parkir mobilnya, kemudian segera turun langsung membukakan pintu untuk Yumna.


"Silahkan, Putri Yumna Aurora."


"Rey, malu dilihatin banyak anak itu. Ayo!"


Yumna langsung turun, dan menarik lengan Rey dengan tatapan banyak siswa di sekolahnya.


"Kak Novi!" panggil Yumna segera menghampiri.


"Eh, Yumna.. Rey...? Baru datang?"

__ADS_1


"Iya nih. Kakak kok gak pakai seragam?"


"Hari ini ayahku mau mengurus kepindahan sekolahku. Kamu sehat kan? Kemarin kata Mifta, kamu tidak masuk sekolah setelah dari rumahku?"


"Ohh, iya cuma kecapekan aja."


"Maaf ya, sudah bikin kamu capek."


"Bukan kakak yang bikin aku capek, memang karena kegiatanku yang lumayan padat akhir-akhir ini. Jadi kurang istirahat. Soalnya kan sepulang sekolah harus nyambi kerja juga buat bayar sekolahnya."


"Wah, memang pekerja keras. Tak salah kalau Rey jatuh cinta sama Yumna, karena kamu berbeda dari gadis lainnya."


"Bisa saja! Oh iya, bagaimana rumah kakak? Sudah tak ada gangguan kan?"


"Sudah kok. Setelah ditemukan mayat ibu dan dua anak perempuannya, rumahku jadi tak menakutkan lagi. Trus setelah itu, tak lama suaminya juga sudah diamankan."


"Oh, ya? Memang apa alasannya menghabisi nyawa keluarganya sendiri?"


"Heehhhh..... Aku juga heran. Cuma gara-gara wanita lain, dia tega menghabisi istrinya."


"Astaga! Rey?" tanya Yumna menatap lekat kedua mata Rey, diikuti oleh Novi juga.


"Woiy... Woiyy.... Kok jadi lihat aku kayak gitu? Aku gak mudah jatuh cinta juga, eh sekali menyatakan tak ada kejelasan."


"Maksudnya?" tanya Yumna mengernyitkan dahi.


"Tak apa-apa. Lanjutkan ceritanya saja, tak usah membahas kita," sahut Rey mengalihkan pembicaraan yang membuatnya tak nyaman.


"Iya, deh. Trus, bagimana bisa anaknya jadi ikut dihabisi juga?" tanya Yumna lagi.


"Kejadian itu bermula saat suami istri itu bertengkar hebat, karena si istri menuduhnya berselingkuh. Lalu saking kesalnya, dia terus memukul suaminya dengan menangis keras. Suaminya malu dan tak bisa menahan emosinya. Trus langsung mengambil samurai yang biasa jadi hiasan dindingnya, untuk menebas kepala istrinya yang tak berhenti mengomel dan berteriak."


" Waaoooww.... Ngeri juga ternyata. Trus anaknya? "


" Nah, anaknya yang kebetulah melihat mereka dari awal pertengkaran langsung berteriak melihat kepala ibunya sudah menggelinding di lantai. Kemudian, si suami ikut menghabisi nyawa anaknya supaya tak ketahuan. Juga supaya tak menjadi bebannya saat menikah lagi nanti."


" Manusia berhati iblis. Trus, selingkuhannya gimana?"


" Mereka sudah merencanakan pernikahan bulan depan, karena ternyata si selingkuhan sudah hamil tiga bulan. "


" Heehh...., tragis sekali nasib keluarganya. "


" Iya, malah sekarang selingkuhannya langsung depresi karena calon suaminya masuk penjara. Semoga kita dijauhkan dari yang seperti itu."


" Aamiin, " jawab Yumna dan Rey bersama, lalu saling menatap dan menggenggamkan erat jari mereka.

__ADS_1


__ADS_2