
"Rey, maaf telat!" seru Yumna yang baru tiba di sebelah pintu mobil Rey.
"Lhoh, ini yang nangis siapa?"
Rey menunjukkan teleponnya yang masih tersambung ke nomor Yumna.
"Coba sini, boleh aku pinjam?"
Yumna mendengarkan suara dari telepon milik Rey, dan segera tahu siapa pelaku yang dicarinya. Dia sempat mengomel sebelum menutup sambungan. Rey segera menjalankan mobilnya sambil menunggu cerita Yumna.
"Kamu kemana saja? Bikin aku khawatir!"
"Oh, ya? Kamu bisa khawatir juga sama aku?"
"Jangan GR, aku khawatir cuma karena bingung cari asisten lain buat bantu ngurusin restoran."
Rey membuang mukanya yang sempat merah seperti udang yang baru dimasak.
"Ehmmm.... Maaf ya. Tadi aku bingung cari handphone, makanya jadi telat ke sini. Eh, ternyata dibuat mainan sama Susi, penunggu pohon nangka di samping rumahku. Untung cuma nomor kamu yang aku simpan di situ!" jelas Yumna panjang lebar tanpa ditanya lagi.
"Memang kamu gak simpan nomor teman kamu yang lain?" tanya Rey sedikit penasaran.
"Engggaklah, memang boleh ya?" Yumna bertanya dengan wajah lugunya.
"Terserah kamu saja, kalau kamu perlu ya simpan aja. Tapi kalau bisa teman cewek aja," sahut Rey semakin lirih di kalimat terakhirnya.
"Memang kenapa kalau cowok?"
Yumna mencoba menutupi rasa deg-degannya setelah mendengar ucapan Rey. Dia berusaha menutupi perasaannya, meski terus berharap Rey bisa lebih dulu mengutarakan perasaan yang sama.
"Sudah, gak penting buat dibahas. Terserah kamu mau simpan nomor siapa saja!"
"Kok jadi sewot?"
"Eh, tadi ada hantu baru. Nanti aku tunjukkan saat sudah di restoran."
Rey mencoba mengalihkan pembicaraan yang sebenarnya masih membuat Yumna penasaran. Tapi Yumna tahu diri, karena dia hanyalah seorang bawahan, yang tak boleh terlalu banyak berharap dari majikan.
"Ketemu dimana? Trus laporan dari Handi bagaimana?" tanya Yumna.
"Handi belum sempat laporan, tapi Meyta sudah cerita kalau sesuai rencana. Handi mendapatkan rekaman pengakuan Bimo untuk bisa segera diurus oleh pengacaraku nanti."
"Waahh, kerja bagus si Handi. Bisa berhasil juga, padahal berat banget bisa bikin orang cerita rahasia besarnya."
"Biasa aja lah. Lagian berarti si Handi memang pintar bohong kalau gitu, hati-hati aja kamu!"
"Lama banget, pake ngomongin adekku lagi!" sahut Meyta yang ternyata sudah berdiri menunggu kedatangan mobil Rey.
__ADS_1
"Ini hantu yang kamu maksud?" tanya Yumna setelah pintu mobil mewah Rey terbuka.
"Iya, namanya Kinan. Kita masuk dulu saja!"
Setelah berada di dalam restoran, Meyta dengan bersemangat menceritakan nasib yang dialami oleh Kinan. Sedangkan Kinan, hanya menunduk sedih dan terus berharap suaminya bisa ditemukan.
"Oke, berarti kasus mbak Meyta sudah selesai ya. Kamu besok tinggal kasih buktinya ke pengacara. Trus Handi dan keluarganya gimana? Setelah itu selesai kita baru bisa memulai mencari informasi tentang keluarga mbak Kinan," kata Yumna.
"Besok rumah Meyta sudah bisa ditempati. Rumah yang di desa juga sudah ada penawaran tadi, tinggal setuju atau tidaknya."
"Kalau bisa, Handi harus tetap sekolah biar dia bisa jadi orang yang bisa diandalkan kalau aku harus pergi meninggalkan dunia kalian," sahut Meyta.
"Oke, besok aku urus juga masalah itu. Cuma mungkin dia jadi harus mengulang karena katanya sudah satu tahun ini tidak pernah sekolah," jawab Rey.
"Tak masalah, yang penting bisa tetap sekolah."
"Trus, seminggu ini berarti kita harus urus suratnya Handi ya!" sahut Yumna.
"Iya, eh itu sudah mendekati jam dua belas. Ayo kita buka restorannya. Boni, siap?" seru Shema.
"Siap!!"
****
Beberapa hari berlalu untuk mengurusi kepindahan keluarga Handi. Pagi saat Rey menjemput Yumna seperti biasa, ada hal yang membuat Yumna nampak heran melihatnya.
"Memang kenapa?"
"Yaaa.... Gak apa-apa sih, cuma kan aneh aja."
"Aneh apanya?"
"Apa kamu pindah sekolah ke tempatku?"
Rey tak menjawab, hanya tersenyum saja kemudian menjalankan mobilnya.
Sesampainya di sekolah, seperti biasa banyak kaum hawa yang memandang suka melihat kedatangan Rey. Terutama dia yang memakai baju seragam sekolah seperti yang mereka pakai.
Itu berarti, mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk mendekatinya. Terlebih mereka tahu kalau Yumna tak memiliki hubungan apapun dengan Rey, termasuk Martha.
Tak berapa lama, Handi datang menggunakan sepeda motor bekas yang biasa dipakai tukang kebun Rey.
"Handi?" tanya Yumna yang mendekat ke arahnya.
Rey yang mencoba menahan Yumna, terhalang oleh kerumunan para murid wanita.
"Kira-kira, kelasku dimana ya nanti?" tanya Handi sambil berjalan ke arah ruang kepala sekolah sesuai arahan Yumna.
__ADS_1
Sambil berjalan menyusuri kelas, Yumna menunjukkan satu per satu ruangan yang mereka lewati.
"Sudah dianterin, malah ninggal!" sahut Rey yang sudah berjalan melewati mereka berdua.
"Rey, tunggu! Maafin aku," kata Yumna segera menyusul dan diikuti Handi dari belakangnya.
"Sudahlah, nanti istirahat kita bicara lagi soal Kinan. Aku mau laporan dulu ke kantor!" kata Rey ketus seperti biasa, dan Handi pun tetap mengikutinya, sedangkan Yumna memilih untuk kembali ke kelas saja.
Saat berada di kelas, Yumna melihat Brodi yang sudah terlihat lebih baik dari terakhir pertemuan dengannya. Brodi segera menghampiri Yumna, dan mengucap banyak terimakasih dengan menundukkan kelapa sambil menjabat tangannya.
"Yumna, maaf ternyata pandanganku ke kamu selama ini salah. Apa yang bisa ku lakukan untuk membalas kebaikanmu dan temanmu itu?"
"Sssttt, tak usah kau ceritakan tentang hal itu pada siapapun. Itu sudah cukup membalas semuanya. Kamu manfaatkan kehidupanmu untuk menjadi lebih baik lagi. Dan bisa menghargai setiap kebaikan temanmu yang lainnya," kata Yumna melepaskan tangannya sambil melirik tersenyum ke arah Mifta.
Yumna segera menempati tempat duduknya seperti biasa.
"Kosongkan?" tanya Rey duduk di banku sebelah Yumna tanpa menunggu jawaban.
"Eh, ka...kamu duduk di sini?" tanya Yumna gugup karena perasaannya yang mulai campur aduk, antara terlalu senang dan was-was.
Rey tak menghiraukan pertanyaan Yumna, lalu membuka buku untuk diletakkan di depannya dan mulai tidur sejenak.
"Bangunin aku kalau bel sudah berbunyi!" seru Rey.
****
Sampai saat istirahat tiba, Rey mengajak Yumna menuju kantin sekolah. Sedangkan Handi masih diam sendiri di dalam kelas.
"Rey, aku ajak Handi dulu ya?"
"Tak usah, ayo!" Rey menarik tangan Yumna agar mau mengikutinya.
Yumna menurut saja meski ada rasa tak enak dalam dirinya, karena telah meninggalkan Handi yang sepertinya bernasib sama seperti dirinya dahulu. Tak pernah ada uang hanya untuk jajan. Dia terus memikirkan apa yang akan dibelinya untuk Handi nanti di sepanjang jalan menuju kantin.
"Kamu mikir Handi? Kalau kamu jadi tak fokus sekolah karena dia, aku pindahkan saja sekolahnya," kata Rey yang membuat Yumna semakin tak enak.
"Eh, enggak. Rey, itu siapa ya? Kayak pernah lihat?"
Yumna berhenti mendadak, saat melihat sosok berlumuran darah yang terus mengikuti ibu kantin sekolah, tak seperti biasanya.
****
ILUSTRASI HANDI
__ADS_1