Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 10. Pandu!


__ADS_3

Ily kembali mendatangi rumah Pandu karena weekend seperti ini Pandu tidak mendatanginya. Ada rasa sesak yang entah karena apa. Pandu akhir-akhir ini sudah tidak lagi datang padanya.


"Sus? Tolong jangan cari aku ya? Kali ini aku mau menikmati weekend dulu. Aku sudah sangat merindukan Pandu," ucap Ily berpesan pada suster Gaby.


Suster Gaby menghela napas kasar. "Baiklah, Dok. Aku juga mau pulang setelah ini. Butuh quality time juga," jawab suster Gaby santai.


"Nanti kamu juga bilang sama dokter Bayu kalau kita butuh waktu quality time. Kita belum libur sama sekali loh bulan ini," ucap Ily sambil mencebikkan bibirnya.


Ily kemudian menaruh selempang tasnya di bahu dan bersiap untuk keluar ruangan. "Tolong bilang ya, Sus. Kalau perlu kita dikasih libur tiga hari. Kan lumayan," ucap Ily lagi sebelum benar-benar keluar dari ruangan. Suster Gaby mengiyakan usul Ily. Dia juga butuh liburan.


Ily berjalan menuju lift untuk sampai di basemant. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Ily sampai dan masuk ke mobil. Sebelum melajukan mobil, Ily menyempatkan untuk menghubungi Pandu.


Tut. Tut. Tut.


Tepat di dering ketiga, telepon Ily dijawab.


"Hallo?" sapa suara yang sangat Ily rindukan.


"Halo, Ndu. Kamu di rumah kan? Aku mau ke rumah sekarang," beritahu Ily dengan senyum merekahnya.


Cukup lama Ily tak mendengar jawaban dari seberang sana. Hingga Ily sampai harus mengecek ponselnya untuk memastikan jika telepon masih terhubung.


"Ndu? Kok diam? Kamu masih disitu kan?" tanya Ily lagi karena Pandu tak kunjung menjawab.


"Iya halo? Maaf, Ly. Aku sedang tidak berada di rumah. Paling nanti sore aku sampai," jawab Pandu terdengar gugup di seberang sana.


"Memangnya kamu kemana, Ndu? Aku akan datang ke rumah nanti sore saja," putus Ily pada akhirnya.


Tanpa ada jawaban, Pandu memutus panggilan. Ily menatap layar ponsel dengan nanar. Ada yang tercubit tetapi Ily tidak tahu itu apa dan karena apa.


Ily mengusap wajahnya kasar dan menghembuskan napasnya kasar. Sekarang baru pukul satu siang. Ily tidak tahu harus menghabiskan waktunya untuk apa.


Akhirnya, Ily memilih melakukan mobilnya menuju rumah. Dia ingin tidur terlebih dahulu agar tenaganya terkumpul kembali.


.

__ADS_1


Saat matahari mulai tenggelam, Ily melajukan motor matiknya menuju rumah Pandu. Ily hanya berharap semoga Pandu sudah pulang. Sengaja Ily membawa motor agar cepat sampai dan tidak perlu terjebak macet.


Sekitar dua puluh menit, akhirnya Ily sampai dan melihat mobil Pandu sudah terparkir di pelataran rumah. Ily mengernyit heran saat melihat ban mobil Pandu terdapat bekas pasir dan Ily yakin jika itu adalah pasir pantai.


Untuk menjawab kebingungannya, Ily bergegas masuk dan langsung disambut oleh Larina. "Eh, ada Bu Dokter. Mau mencari Bang Pandu ya, Kak?" tanya Larina terkekeh.


Ily tersenyum. "Iya. Ada kan Bang Pandu-nya?" tanya Ily ramah.


"Ada di kamar. Sepertinya sedang mandi. Aku mau keluar sebentar, kalau aku tinggal tidak apa-apa kan, Kak?" ucap Larina tidak enak hati.


Ily menggeleng kuat. "Tidak apa-apa. Eh, kok rumah sepi? Memangnya Tante Soraya dan Om Hartono kemana?" tanya Ily sambil matanya mengedar.


"Papa sama Mama lagi pergi ke kondangan. Main dulu lah Kak, disini. Bang Pandu sudah menunggu tuh," ucap Larina sambil menunjuk pintu kamar di lantai dua yang terbuka sedikit.


Akhirnya, Ily memilih untuk mendatangi kamar Pandu seluruh Larina berpamitan padanya. Saat Ily mengintip ke dalam, matanya tidak melihat keberadaan Pandu.


Ily membuka pintu dengan lebar-lebar dan memanggil nama Pandu.


"Ndu? Pandu? Kamu dimana sih?" panggil Ily sedikit meninggikan suaranya.


Ily menoleh saat pintu kamar mandi terbuka. Dia langsung menutup mata dengan kedua tangannya karena saat ini Pandu hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Pandu sempat terkejut saat tiba-tiba menemukan Ily berada di kamarnya. "Kamu sudah lama disini? Duduk dulu, Ly," ucap Pandu santai.


"Pandu!" kesal Ily karena Pandu seperti tidak terganggu.


Pandu terkekeh geli. "Kenapa sih? Kamu tidak ingin menyentuh perutku ini?" goda Pandu dengan percaya diri.


"Pandu!" pekik Ily kesal dan itu semakin membuat Pandu tertawa terbahak-bahak.


"Pakai baju dulu, Ndu!" titah Ily lagi terdengar kesal.


Pandu tergelak kemudian segera memakai kaosnya. Setelah selesai, Pandu berjalan mendekat pada Ily dan menurunkan tangan Ily yang menutup matanya.


"Buka mata kamu. Aku sudah mengenakan baju," ucap Pandu lembut.

__ADS_1


Ily bisa merasakan aroma maskulin menyeruak ke indera penciumannya. Ily membuka mata dan melihat Pandu yang sudah mengenakan pakaian lengkapnya.


Ily melotot tajam karena Pandu kini sedang tersenyum ke arahnya dengan tatapan yang sangat menyebalkan.


Namun, sedetik kemudian Ily langsung berhambur ke pelukan Pandu dan menghirup aroma Musk and Woody yang membuat Ily merasa tenang.


"Kamu darimana sih, Ndu? Tumben sekali tidak mengabariku?" ucap Ily dengan nada mengayun dan bibir yang cemberut.


Pandu terkekeh pelan lalu membalas pelukan Ily tak kalah erat. "Aku dari pantai," jawab Pandu yang segera mendapat tatapan menyelidik dari Ily.


"Ke pantai dengan siapa? Kenapa tidak mengajakku, Ndu," kesal Ily yang kini sudah melepas pelukan.


Pandu terkekeh. "Lupakan. Sekarang ada yang lebih penting dari pembahasan itu," ucap Pandu lalu menutup pintu kamar dan terdengar bunyi klik dua kali pertanda pintu di kunci.


Ily melotot penuh waspada. "Jangan aneh-aneh deh, Ndu," ucap Ily takut.


Mengabaikan ucapan Ily, Pandu segera mengangkat tubuh Ily menuju ranjang. Terdengar pekikan tertahan saat ini merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang.


Pandu membaringkan tubuh Ily pelan dan menindihnya lembut. Ily menatap lekat wajah Pandu yang kini tak berjarak. Lengannya Ily kalungkan di leher Pandu.


"Aku rindu kamu, Ndu. Kamu kemana saja sih?" ucap Ily manja.


Pandu tidak menjawab. Tangannya kini bergerak menyingkirkan anak rambut milik Ily yang telah keluar dari tempatnya. Jemarinya semakin bergerak turun menyentuh bibir kenyal dan lembut milik Ily. Pandu mengelusnya lembut.


Jakun Pandu naik turun dan Ily menyadari itu. Ily pun menyentuh jakun Pandu dengan jemari lentiknya hingga membuat mata Pandu terpejam.


"Ily?" panggil Pandu lembut.


"Iya, Ndu," jawab Ily tak kalah lembut.


Pandu membuka mata dan menatap wajah gadis yang sangat dicinta. Perlahan, wajah Pandu mendekat dan Ily bisa merasakan benda kenyal nan lembut menyentuh bibirnya.


Setelah cukup lama menekan benda kenyal itu, Pandu menjauhkan wajah sedikit. "Aku lebih merindukanmu, Ly," jawab Pandu kemudian kembali memberikan serangan di bibir Ily.


Ketika Ily membalas ciuman tersebut, Pandu semakin melesakkan lidahnya menerobos bibir Ily dan mengabsen deretan gigi putih Ily.

__ADS_1


Begitu membara namun tetap terasa lembut dan hati-hati dan hal itu semakin membuat Ily merasa gila.


__ADS_2