
Ily menatap jengah pada Pandu yang kini duduk di sofa ruang kerjanya. Ily sampai bertanya apakah laki-laki itu tidak memiliki pekerjaan?
"Kamu tidak ada pekerjaan?" tanya Ily daripada menebak-nebak sejak tadi.
Pandu terseyum jahil. "Kenapa memangnya? Kamu mau mengusirku?" Alisnya terangkat satu.
Sambil mendengkus, Ily pun berkata. "Kamu benar-benar mengganggu waktuku. Kamu bisa pergi dan bekerja dengan baik. Atau ..." Ily sengaja menggantungkan kalimatnya sambil menatap Pandu.
"Atau apa?" tanya Pandu cepat.
Ily tersenyum miring. "Atau kamu bisa pergi jalan dengan selingkuhanmu. Eh salah. Saat ini dia sudah tidak lagi berstatus sebagai selingkuhan."
Pandu menatap Ily lekat. Sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Ily barusan. Biarkan Ily menyindirnya setiap saat asalkan Pandu masih bisa melihat Ily.
"Baiklah jika itu maumu. Aku akan pergi jalan dengannya dan ...." Kini giliran Pandu yang menggantungkan kalimatnya untuk membuat Ily penasaran.
Namun, reaksi Ily tidak sesuai dengan ekspektasi Pandu. Wajah gadis cantik itu masih saja datar. "Kamu tidak ingin bertanya lebih lanjut?" dengkus Pandu tidak habis pikir.
"Aku sudah tidak peduli," jawab Ily kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari ruangan begitu saja. Pandu hanya ternganga menatap punggung Ily yang menjauhinya.
"Eh. Apa dia cemburu? Semoga saja," ucap Pandu merasa bahagia.
Setelah berpikir cukup lama, memang benar dirinya harus mengakhiri hubungan dengan Renita. Pandu sadar, bahwa Renita hanya dijadikan pelarian. Sedangkan seseorang yang Pandu cinta hanyalah Ily.
Pandu menghela napas dan mengusap wajahnya kasar. "Mengapa semua menjadi serumit ini? Semoga saja Renita bisa diajak kerjasama." Gumaman Pandu menyiratkan akan sebuah harapan.
__ADS_1
Setelah keluar dari ruangan Ily, Pandu bergegas melajukan mobilnya menuju toko bunga milik Renita. Dia akan memohon dengan sangat atas kesalahan yang sudah dilakukan. Pandu tahu, hal ini pasti akan melukai perasaan Renita.
Tetapi, akan lebih meyakitkan lagi jika Pandu masih saja menahan Renita dan hanya dijadikan pelarian.
Tidak berapa lama, mobil akhirnya sampai di depan toko bunga milik Renita. Baru saja Pandu turun, tubuhnya langsung terhuyung dan ada tubuh kecil yang memeluk tubuhnya erat.
"Pandu. Aku yakin kamu akan datang untuk memperbaiki hubungan di antara kita. Aku sengaja membiarkan kamu berpikir terlebih dahulu djs menentukan siapa yang terbaik. Aku atau Ily. Dan sekarang, aku yakin pilihanmu pasti aku," ucap Renita masih dalam pelukan Pandu.
Hal itu tentu membuat Pandu tergugu. Bukan itu tujuannya mendatangi Renita.
Pandu tersenyum kaku setelah membuat jarak di antara mereka. "Bisa kita bicara?" tanya Pandu meminta izin.
Tentu saja Renita mengangguk. Dia sangat merindukan masa-masa dimana dia bisa berbincang dengan Pandu panjang lebar. Namun, Renita tidak tahu saja bahwa perbincangan kali ini akan berbeda dan serius.
"Tentu saja. Ayo kita ke taman belakang rumah. Aku akan tunjukan banyak bunga yang sudah kurawat." Renita brhrju antusias menanggapi permintaan izin Pandu.
Renita mengajak Pandu untuk duduk di kursi yang tersedia di tengah tamanyang sudah dilengkapi dengan meja. "Duduk, Ndu. Aku akan ambilkan kopi agar kita bisa berbincang santai," pinta Renita lembut.
Pandu hanya menurut dan membiarkan Renita berlalu. Sekitar lima menit, Renita kembali dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi beserta camilannya.
"Silahkan, Ndu. Ini untukmu," ucap Renita sambil mengulurkan secangkir kopi di hadapan Pandu.
"Terima kasih, Ren," jawab Pandu yang dibalas dengan senyum manis Renita.
Pandu menghela napas pelan. Rasanya berat sekali untuk mengatakan maksudnya datang. "Ren?" Mungkin dengan memanggil namanya, Renita bisa mengalahkan perhatian.
__ADS_1
"Kenapa, Ndu? Serius sekali?" tanya Renita santai sambil menyesap kopinya.
Pandu membuka mulutnya lagi setelah Renita menaruh cangkirnya kembali. Pandu hanya takut cangkir itu akan jatuh ke lantai tiba-tiba dan isinya akan tumpah. Itu tentu tidak akan baik.
"Mari hentikan hubungan ini. Aku tidak bisa memaksakan hati untuk bisa bersamamu. Akan lebih nyaman jika hubungan kita seperti dulu, yaitu sebagai teman." Sumpah demi apapun. Pandu bergetar saat mengucapkannya.
Belum lagi, mata bulat Renita menatap nanar ke arahnya. Rasa bersalah di hati kian menghimpit ketika Pandu menemukan setitik air di bawah mata Renita.
Perempuan itu menangis.
"Kenapa? Karena kamu lebih memilih dia?" Nada suara Renita terdengar parau.
Pandu tidak menjawab. Pertanyaan Renita sudah tepat sasaran. Namun, Pandu tidak ingin mengangguk maupun menggeleng karena jawaban itu akan tetap melukai perasaan Renita.
"Aku sadar. Aku sudah menyakitimu terlalu dalam. Aku sudah memberikan harapan yang tidak akan pernah terwujud. Jadi, mari berpisah dengan cara baik-baik," ucap Pandu penuh permohonan.
Renita justru bertepuk tangan dengan senyum masam yang ditunjukkan. "Kamu pikir akan semudah itu? Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Ndu. Harusnya kamu bisa memilih mana yang terbaik."
Pandu menunduk dalam. "Maafkan aku."
Terdengar tawa yang mengerikan hingga membuat Pandu bergidik ngeri. Semakin lama, tawa Renita semakin menyeramkan saja.
"Ren!" panggil Pandu dengan suara meninggi. Berharap Renita akan menghentikan tawanya. Itu bukan Renita yang Pandu kenal. Ada sesuatu yang berbeda dari Renita kali ini.
"Kenapa? Kamu takut?" tanya Renita seakan bisa membaca raut wajah Pandu.
__ADS_1
Melihat keterdiaman Pandu, Renita menatap dengan pandangan yang sulit sekali diartikan.
"Setelah ini, kamu akan melihat bagaimana peejuangaku yang sesungguhnya," ucap Renita dengan raut wajah yang sulit terbaca.