
"Ooh, jadi kamu adalah jodoh pilihan Papa? Tahu begini aku sudah menyetujuinya sejak lama," ucap suara berat yang membuat Ily sedikit berjenggit karena sedang menikmati hidangan yang disuguhkan.
Pudding yang akan masuk ke mulut, berakhir mengambang di udara. Ily tentu tahu siapa pemiliknya. Tanpa repot menoleh, Ily kembali memakan pudingnya hingga tandas.
Ily bisa merasakan sosok kokoh yang berdiri di sampingnya. Apalagi saat Ily menunduk, matanya bisa melihat sepatu pantofel mahal yang bersisian dengan heels yang dikenakannya.
"Ly?" panggil suara itu lagi dan Ily enggan menoleh. Hatinya masih sakit kala mengingat perkataan pria di sebelahnya.
Hingga Ily merasakan tangannya dicekal lembut baru Ily menoleh dengan raut datarnya. "Aku tidak mau dijodohkan. Aku ingin memilih jodohku sendiri." Ily berucap tegas. Mengisyaratkan bahwa Ily benar-benar menolak perjodohan ini.
Laki-laki bernama Bayu itu tersenyum masam. Ily dan penolakannya sudah tidak bisa di pisahkan lagi. "Lakukan apa yang kamu inginkan dan aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan," ucap Bayu masih saja mengulas senyum.
Ily menatap Bayu lekat. Barangkali ada rencana yang akan Bayu lakukan. Namun, Ily tidak berhasil menangkap sesuatu raut wajah Bayu. Hanya ada tatapan penuh cinta yang mengarah padanya.
"Kenapa?" Pertanyaan itu berhasil membuat Ily mengalihkan perhatian. Setelah membuang muka, Ily kembali mengambil hidangan untuk di makan. Dia ingin mengalihkan diri dari menatap Bayu atau berinteraksi terlalu banyak dengan pria itu.
Namun, rencana tidak berjalan sesuai keinginan. Walau Ily mencoba berpaling, Bayu justru semakin mempersempit ruang geraknya. Belum lagi, Ily merasakan tubuhnya terdorong. Saat mendongak, Ily bisa melihat rahang tegas yang di tumbuhi bulu-bulu halus di atas kepalanya.
Tinggi badan Bayu memang lebih tinggi dari Ily. Mungkin, Ily memiliki tinggi sedadanya Bayu. Mata keduanya saling bertemu hingga membuat Ily tidak bisa berkutik. Ily seperti terkunci dengan tatapan teduh Bayu.
"Maafkan aku yang pernah membuatmu sakit hati karena ucapan ku. Aku menyesal telah menuruti rasa cemburuku dan berujung menyakiti perasaanmu. Tolong, maafkan aku, Ly," sesal Bayu benar-benar tulus.
Ily melekatkan pandangan untuk mencari kesungguhan atas ucapan Bayu barusan. Ily menghela napas kasar lalu membuang muka.
"Makanya, punya mulut itu dijaga dengan baik. Karena mulutmu adalah harimaumu. Sekarang, kamu menyesal bukan?" tanya Ily kesal.
Bayu terkekeh pelan lalu mengacak rambut Ily gemas. "Iya. Maafkan aku Ibu Dokter yang cantik. Bolehkah aku menjadi pasien mu?" Bayu kembali berucap dan mengajukan pertanyaan.
Ily tentu bingung. Dahinya sudah mengernyit dalam tanda tidak paham. "Maksudnya? Kamu sakit? tanya Ily entah mengapa mendadak cemas.
Bayu menggeleng sebagai jawaban dan itu diam-diam membuat Ily menghembuskan napas lega. "Bibirku yang sakit karena dengan santainya mengatakan kalimat kasar. Mungkin, dengan diobati sebuah kecupan akan membuat bibir ini bungkam," bisik Bayu tepat di samping telinga Ily.
__ADS_1
Hal itu sontak membuat Ily kesal dan berujung memukul dada Bayu bertubi-tubi. "Dasar tidak tahu diri!" gerutu Ily saat melihat Bayu justru tertawa terbahak-bahak.
Akhirnya, Bayu terpaksa mencekal kedua lengan Ily agar gadis itu juga berhenti memukuli dirinya. "Maafkan aku. Aku hanya bercanda. Tetapi jika kamu ingin memberiku kecupan, itu tidak masalah," ucap Bayu masih saja bersikap tengil.
Ily melotot tajam dan kembali membuat Bayu terbahak. Ily lucu sekali saat marah dan setiap ekspresi yang ditunjukkan Ily, Bayu sangat menikmatinya.
Grep.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bayu membawa tubuh Ily ke dalam dekapan. Entah mengapa, Ily pasrah saja saat Bayu memeluk tubuhnya. Namun, Ily memilih untuk tidak membalasnya.
"Maafkan aku ya, Ly?" Bayu kembali berucap untuk kesekian kali meminta maaf.
Pada akhirnya, Ily mengangguk dan tersenyum menanggapi.
Setelah pesta selesai, Ily dan sang Papa pulang. Tubuhnya begitu lelah kala baru saja sampai dan merebah di ranjang kamarnya. Tubuh yang lelah dan suasana kamar yang remang-remang, membuat Ily mulai mengantuk.
Namun, saat sedikit lagi lelap akan membawanya, ponsel Ily berdering hingga membuat matanya kembali terbuka lebar. Diraihnya ponsel yang tergeletak di samping tubuhnya.
"Halo, Sus? Ada apa?"
"Dokter maaf karena malam-malam menelepon. Tetapi ini sangat darurat. Ada pasien kecelakaan dan harus segera mendapatkan penanganan," ucap suster Gaby di seberang sana.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Ily segera menjawab iya dan akan segera ke sana. Walau lelah, Ily tetap tidak bisa mengabaikan seseorang yang membutuhkan pertolongan.
Setelah sampai di rumah sakit, Ily menuju ruangannya dan yang membuat Ily heran adalah, suster Gaby tampak duduk di sofa dengan pandangan yang sulit sekali diartikan.
"Sus? Di ruang mana pasiennya?" tanya Ily sambil mengenakan jas dokternya.
Suster Gaby tidak menjawab. Namun, pintu toilet di ruangannya terbuka hingga membuat Ily berjengit kaget. Sosok Renita keluar dari sana dengan tatapan yang begitu menyeramkan.
"Sus? Kenapa dia ada disini?" tanya Ily menatap suster Gaby yang kini wajahnya sudah berubah menjadi ketakutan.
__ADS_1
"Aku yang meminta suster bodoh ini menelepon mu." Renita lebih dulu menjawab pertanyaan Ily dengan senyuman yang begitu menyeramkan.
"Kamu boleh pergi dan jangan kembali lagi," ucap Renita kini menatap suster Gaby dengan tatap menghunus.
Kini, tinggallah Ily dan Renita di ruangan tersebut. Ily menatap kesal pda Renita yang sudah meminta asisten susternya berbohong.
"Apa tujuan kamu melakukan ini?" tanya Ily menuntut penjelasan.
Renita justru tertawa begitu menyeramkan lalu mendecih pelan. "Ada yang harus aku selesaikan disini." Setelah mengucapkan itu, Renita mencari sesuatu di dalam tasnya. Sebilah pisau bedah Renita angkat dengan mata menatap Ily.
Senyum miring Renita membuat Ily bergidik ngeri. "Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ily dengan tubuh yang gemetar.
"Mari kita bermain dengan alat yang sudah biasa kamu gunakan. Bayangkan saja, bagaimana jika pisau ini mengenai wajah cantikmu?" tanya Renita mulai berjalan mendekat.
Sangat berbeda dengan Ily yang mundur perlahan ketika melihat Renita semakin mendekati dirinya. Hingga tubuhnya terpojok di dinding lalu Ily tak dapat bergerak lagi karena Renita telah mengunci pergerakannya.
"Apakah kamu ketakutan?" Renita sengaja memainkan pisau di wajah Ily lalu tertawa puas melihat wajah Ily yang sudah pias.
"Jangan macam-macam kamu!" berontak Ily sambil melotot tajam.
"Aku tidak akan membiarkan wanita yang dicintai Pandu hidup bahagia. Aku takkan pernah membiarkan itu terjadi," ucap Renita dengan sorot mata kelam.
"Maksud kamu?" Ily tidak tahu apa maksud perkataan Renita barusan.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Renita menatap tajam Ily. "Aku akan membunuhmu!" pekik Renita lalu tangannya bergerak mengayunkan pisau menuju perut Ily dan,
Blas..
Ily merasakan benda tajam masuk ke perutnya dan rasanya tentu sulit sekali dijabarkan. Tangannya bergerak memegang perut dan darah mengalir deras dari sana.
Pandangan Ily mulai menggelap dan tubuhnya limbung. Setelah itu, Ily sudah tak merasakan apapun lagi.
__ADS_1