Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 25. Ibarat lautan


__ADS_3

Malam sudah semakin larut namun mata Ily seperti enggan terpejam. Saat Ily melihat pada jam yang bertengger di dinding kamarnya. Jarum pendek sudah menunjuk angka sebelas sedangkan jarum panjang sudhs menunjuk angka dua belas. Harusnya Ily bisa beristirahat tanpa memikirkan Pandu kembali.


Namun yang ada, Ily kembali teringat dengan laki-laki yang sampai saat ini masih menghuni hatinya. Padahal, sudah hampir satu bulan dirinya berpisah. Entahlah. Kenangan manis bersama Pandu seakan terekam di kepala beriringan dengan perbuatan Pandu yang mengkhianatinya.


Ily memilih bangkit menuju balkon untuk mencari udara segar. Mungkin saja, setelah melakukannya Ily akan lebih tenang dan bisa terlelap. Langit tampak suram seperti hatinya saat ini. Tidak ada bulan yang menemani hitam pekatnya malam.


Ily berdiri dengan jemari yang bepegangan pada pagar pembatas. Wajahnya mendongak dengan mata terpejam, menikmati semilir angin malam yang menerpa wajah dan tubuhnya.


"Apakah hanya aku yang masih berharap Pandu kembali? Apakah Pandu tidak lagi mengharapkan aku? Padahal, sebentar lagi waktu sibukku akan selesai. Aku bisa mengambil jam kerjaku di pagi hingga sore hari. Tapi sayang, Pandu sudah tidak bersamaku lagi," monolog Ily seakan sedang bercerita dengan Tuhannya.


Mata bulat dengan manik coklat yang dinaungi bulu mata lentik itu terbuka pelan. Sepertinya menyadari bahwa dirinya hidup bukan hanya untuk Pandu. Masih ada sang Papa yang siap ada dalam keadaan apapun.


"Papa memang laki-laki terbaik," monolog Ily lagi kemudian memeluk tubuhnya yang bulu kuduknya sudah meremang akibat udara dingin.


Dia hanya mengenakan baju tidur tipis berbahan satin yang berlengan pendek. Cukup lama Ily berada di balkon. Hingga pukul dua belas malam, Ily memilih untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya.


Besok adalah akhir pekan. Namun, bukan berarti Ily harus malas-malasan dan bangun siang. Besok Ily sudah berencana untuk pergi belanja bulanan.


.


Pagi kembali menjelang. Setelah melakukan lari pagi bersama sang Papa, dia bergegas membersihkan diri lalu akan sarapan bersama papanya.


Setelah selesai mandi, Ily segera mencari pakaian yang cocok untuk dikenakan di cuaca yang cerah seperti hari ini. Kaos berwarna putih di padukan dengan celana jeans berwarna biru muda. Setelah rambutnya dikeringkan, Ily memilih mengikatnya bagai ekor kuda.

__ADS_1


Setelah selesai, Ily bergegas menyusul sang Papa ke meja makan.


"Selamat pagi, Pa," sapa Ily sambil mengulas senyum manisnya.


"Selamat pagi, Sayang," jawab pak Guntur tak kalah tersenyum manis.


"Hari ini aku mau belanja bahan makanan. Apa ada sesuatu yang ingin Papa beli?" tanya Ily perhatian.


Pak Guntur yang sedang mengunyah makanannya, tampak terdiam untuk berpikir. "Papa ingin makan buah alpukat. Tolong belikan Papa buah itu ya," pesan pak Guntur kemudian kembali menatap sarapannya.


Ily mengangguk dan mencatat baik-baik pesanan papanya. Tepat pukul sembilan pagi, Ily berangkat menggunakan mobilnya menuju supermarket.


Setelah sampai, Ily segera mencari bahan makanan yang sudah habis di rumah. Banyak sekali barang yang Ily beli kali ini. Berhubung Ily baru gajian dan papanya juga memberikan uang, Ily memilih untuk sekalian saja daripada bolak-balik belanja.


Setelah hampir semua terbeli, Ily teringat akan pesanan sang Papa yang menginginkan buah alpukat. Dengan senang hati Ily akan membelikannya. Sambil mendorong troli besar berisi barang belanjaan, Ily menyeret langkah menuju stan khusus buah.


Melihat banyaknya buah yang disediakan, Ily berniat untuk membeli beberapa jenis buah untuk stok selama satu minggu ke depan. Kulkas bisa memudahkan semuanya.


Saat tangan Ily terulur untuk memilih alpukat terbaik, bersamaan dengan itu ada tangan yang akan mengambil alpukatnya.


"Eh. silahkan untuk Anda saja," ucap Ily ramah kemudian segera memilih buah alpukat yang lainnya.


"Hai Dokter Ily," sapa suara yang akhirnya membuat Ily menoleh.

__ADS_1


Jujur Ily terkejut. Namun, sekuat tenaga Ily menyembunyikannya. Ily mengulas senyum tipis dan menjawab. "Hai," singkatnya.


"Ini, untukku saja?" tanya seorang wanita yang tidak lain adalah Renita.


Ily mengangkat satu alis dan tersenyum miring. "Ambillah. Itu sudah bekas tanganku. Bukankah kamu suka yang bekas-bekas?" tanya Ily sarkas.


Renita tampak menggertakkan giginya. Merasa tidak terima dengan sindiran pedas Ily. Renita terlihat akan membuka mulut namun urung ketika mendengar suara Pandu memanggilnya.


"Ren? Alpukatnya ada—" Pandu menghentikan ucapannya ketika tidak hanya melihat Renita disana. Ada juga seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari Renita berdiri. Seorang gadis yang sangat Pandu rindukan keberadaanya.


Ily hanya menatap datar pada pasangan di depannya. Walau rasa di hatinya seperti sedang dicabik-cabik oleh kuku tajam tak kasat mata.


Tanpa sengaja, Pandangan Ily bertemu dengan tatap milik Pandu. Sekuat tenaga Ily menahan diri untuk tidak berhambur pada pemilik tubuh kekar yang kini berdiri beberapa meter di depannya.


'Aku merindukanmu, Ndu,' batin Ily menjerit.


Cukup lama keduanya saling tatap hingga Ily memilih untuk mengalihkan pandangan lebih dulu. Tanpa memedulikan mereka, Ily berbalik untuk memilih buah alpukat pesanan sang Papa. Jangan sampai buah pesanan papanya terlupa.


Walau tangan Ily fokus memilih, ekor matanya masih saja ingin melihat apa yang dilakukan pasangan laknat di sampingnya. Setelah Ily melihat Keduanya berjalan menjauh, Ily menghembuskan napasnya kasar.


Hati tidak bisa berbohong jika Ily masih mencintai Pandu.


'Hidup ibarat lautan, luas sekali dan begitu dalam. Terima kasih sudah memandangku sebatas permukaan. semoga saja suatu saat kamu menyadari bahwa, laut ternyata bisa membuatmu tenggelam dan bisa membuatmu hanyut oleh arus yang tidak terlihat di permukaan'

__ADS_1


__ADS_2