
Lima tahun berlalu. Hidup Ily benar-benar diliputi kebahagiaan. Laki-laki itu memberinya banyak cinta dan kasih sayang. Ily merasa beruntung bisa memiliki suami seperti Bayu.
"Aqilla dimana, Sayang?" tanya Bayu saat baru saja keluar dari kamar mandi. Tentunya setelah melakukan ritual membersihkan diri. Ily yang sedang bersiap, menoleh sebentar.
"Sudah menunggu di bawah dia, Mas. Biasa, Aqilla selalu excited kalau soal jalan-jalan," jawab Ily disertai kekehan pelan.
Bayu mengangguk. "Bolehlah kita main sebentar ya?" rayu Bayu menatap tubuh sang istri yang masih mengenakan handuk kimono dan duduk di meja rias.
Ily menoleh dengan tatapannya yang menghunus. "Aqilla sudah menunggu kita, Mas. Jangan kecewakan dia," peringat Ily.
Bayu tergelak. "Kaya kamu tidak sih? Kalau lagi marah tuh, aku seperti melihat Ily dalam diri Aqilla."
"Namanya juga ibu dan anak. Tapi kamu enak, wajahnya mirip kamu kan? Puas kamu Sekarang?" ucap Ily lagi pura-pura marah.
Tawa renyah pun tak terelakkan. Setelah mengenakan pakaian lengkap, Bayu berjalan mendekati sang Istri yang semakin hari semakin cantik saja.
Cup.
Bayu mengecup pelipis Ily penuh kasih sayang dan memeluk bahu sang Istri lembut. Saat matanya menatap cermin, Ily sedang memakai lipstik dengan warna terang. sontak saja hal itu membuat Bayu tidak suka dan memprotesnya. "Jangan pakai warna itu, Sayang. Kan kamu jadi semakin cantik. Sini, biar aku yang pilihkan."
Ily mendengkus kencang. Bayu dan segala keposesifannya sudah tidak bisa dipisahkan. "Ya sudah. Aku harus pakai yang mana?" tanya Ily sedikit kesal.
"Ini. Coba kamu pakai ini." Bayu menyodorkan satu buah lipstik berwarna nude. Setelah menghapus lipstik yang terlanjur dipakai, kini Ily coba memakai lipstik pilihan sang Suami.
"Kenapa jadi semakin cantik?" tanya Bayu kesal.
Ily menghembuskan napasnya lelah. "Sudahlah, Mas. Aku capek kalau harus ganti warna lipstik terus. Mau aku cantik atau tidak, cintaku tetap padamu, Mas Bayu Sayang," ucap Ily meyakinkan.
Barulah setelahnya Bayu mengangguk pasrah. Harusnya Bayu tidak perlu sekhawatir itu. Setelah Ily memakai bajunya, keluarga kecil itu berangkat menuju suatu taman bermain. Siapa lagi jika bukan untuk Aqilla?
Ya. keduanya telah mempunyai buah dari cinta mereka. Aqilla Masaya. Gadis cantik yang sekarang sudah berumur tiga setengah tahun.
"Mama? Nanti di sana banyak permainan kan?" tanya Aqilla yang duduk di kursi penumpang. Gadis kecil itu tampak antusias dan bersemangat.
"Tentu, Sayang. Di sana banyak permainan dan kita akan bermain bersama." Ily menjawabnya dengan riang.
Bayu tersenyum. Merasa sangat bahagia karena Tuhan telah mengizinkan dirinya menjadi suami dari Lyrics Syabina Mu Saqeena. Seorang dokter cantik primadona rumah sakit. Memang, jodoh tidak akan kemana.
"Terima kasih ya, Sayang. Kamu sudah banyak memberiku kebahagiaan," ucap Bayu manis.
__ADS_1
Ily tersenyum simpul lalu bergelanyut manja di lengan kekar Bayu. "Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu lebih banyak memberiku kebahagiaan," jawab Ily sama berterima kasihnya.
"Ya sudah. Mama dan Papa berterima kasih saja padaku. Bukankah saat ada aku kalian menjadi sangat bahagia?" celetuk Aqilla tiba-tiba.
Bayu dan Ily jelas terkejut dan menoleh cepat ke arah dimana Aqilla duduk. "Ya. Aqilla memang anak pembawa kebahagiaan," jawab Ily tidak menyangkalnya.
"Benar. Kalian berdua adalah sumber kebahagiaan Papa."
Setengah jam perjalanan, mereka telah tiba. Setelah ikut mengantri demi bisa mendapatkan tiket masuk, Bayu menggandeng lengan anak dan istrinya masuk ke area taman.
Suasana taman tersebut sudah cukup ramai. Bayu memilih membawa anak dan istrinya untuk duduk di atas rumput yang terdapat satu pohon dengan daun lebat.
Pak sopir yang membantu membawa barang, telah sampai dan menaruh barang-barang yang dibutuhkan satu keluarga tersebut. Seperti tikar, beberapa camilan, makanan berat, dan minuman.
"Papa! Aqilla ingin main di sana," tunjuk Aqilla pada satu wahana permainan.
Bayu menoleh untuk meminta persetujuan Ily. "Pergilah, Mas. Aku akan menyiapkan makanan untuk kalian terlebih dahulu," ucap Ily sambil tersenyum manis.
Aqilla dan sang Ayah pun berlalu menuju salah satu mainan. Tinggal Ily sendiri di tempat itu. Setelah tikar digelar, Ily duduk di atasnya. Dia mulai menata makanan di atas tikar. Tanpa diduga, tiba-tiba ada bola yang hampir saja mengenai makan yang sedang Ily tata.
Ily jelas terkejut. Namun, dia tidak marah karena hal itu merupakan hal wajar. Tempat wisata yang dikunjunginya merupakan tempat umum dengan tanah lapang yang luas.
"I am sorry. Aku tidak sengaja, Aunty," ucap seorang gadis kecil yang mungkin seusia dengan Aqilla. Bahkan, gadis kecil itu berbicara menggunakan sedikit bahasa Inggris.
Tanpa diduga, tiba-tiba muncul suara yang memanggil-manggil nama Ily.
"Ily!"
"Ily!"
Deg!
Ily membeku di tempat. Suara itu begitu Ily kenali. Suara yang sudah lama sekali tidak Ily dengar.
"Aku di sini, Dad!" ucap gadis kecil di hadapan Ily yang tidak lain adalah sang pemilik bola.
Ily pikir itu hanya pikirannya saja. Namun saat matanya melihat kenyataan, Ily tidak sedang bermimpi. Pemilik suara itu juga mematung dari jarak beberapa meter tempat Ily duduk.
Cukup lama keduanya saling lempar pandang. Pertemuan ini merupakan pertemuan yang tidak terduga setelah lima tahun tidak bertemu.
__ADS_1
Dia adalah Pandu. Seorang laki-laki yang meninggalkan Ily begitu saja tanpa ada kejelasan. Hingga ada seorang wanita cantik yang menghampiri Pandu dan berhasil menyadarkan keduanya.
Ily berdehem lalu kembali tersenyum pada gadis kecil di hadapannya. "Siapa namamu, Sayang?" tanyanya lembut.
"Ily, Aunty. Kepanjangannya Lyrics Syabina," jawab gadis kecil itu yang membuat Ily seperti kehilangan pasokan oksigen. Itu merupakan namanya.
"Daddy yang memberikan nama itu," imbuh gadis kecil itu lagi.
Mata Ily menatap Pandu tidak percaya. Kebetulan macam apa ini?
Ily menghembuskan napasnya kasar. Bersamaan dengan itu, Bayu dan Aqilla kembali. Pandangan Bayu dan Pandu saling bertemu. Hingga Bayu memilih memutusnya lebih dulu untuk menghampiri sang istri.
"Mama? Mama kenapa melamun? Dia siapa, Ma?" tanya Aqilla menunjuk pada Ily kecil di hadapannya.
"Hai. Aku Ily," ucap Ily kecil yang membuat Ily seketika tegang. Ily takut Bayu akan salah paham.
Apalagi, suaminya itu kini menatap kesal ke arahnya. "Kita harus pulang," ucap Bayu begitu saja.
Ily memegang lengan suaminya lalu mengecup sekilas bibir yang mengerucut itu. "Jangan seperti itulah, Mas. Ini tidak seperti yang kamu lihat."
"Ily? Sini, Sayang. Maaf ya, Nona. Anak kami mengganggu waktu libur kalian." Seorang wanita cantik pun mendekati anaknya.
"Bye, Aunty. Sampai jumpa di lain waktu!" pekik Ily kecil dan Ily pun tersenyum sambil melambaikan tangan.
Sepeninggalan Pandu dan keluarganya, kini Ily harus menenangkan suaminya. "Aqilla? Kamu main sendiri dulu tidak apa-apa kan? Mama dan Papa ingin talk love dulu," pinta Ily lembut. dan tanpa menunggu lama, Aqilla setuju dan memilih bermain bersama anak-anak yang lain, tentunya Ily masih bisa menjangkau anaknya dari kejauhan.
"Mas? Mau aku cium nih kalau cemberut terus?" goda Ily dan Bayu tetap diam.
"Kamu pasti sedang marah padaku. Tetapi kenapa?"
"Kamu bertemu Pandu," jawab Bayu singkat.
Ily terkekeh lalu mengecup bibir suaminya lagi.
"Aku tidak ada niat apapun saat bertemu dia lagi. Bagiku, duniaku saat ini hanya seputar kamu, kamu, dan kamu. Kamu adalah laki-laki terhebat bagiku. Suami terhebat sekaligus ayah terhebat. Ku mohon jangan marah lagi padaku," bujuk Ily merengek manja.
Bayu yang merasa tidak tahan, akhirnya memeluk sang istri erat. Takut jika Ily akan pergi darinya.
"Aku takut kamu pergi," ucap Bayu sendu.
__ADS_1
" Aku tidak akan pergi hingga maut yang memisahkan. Kamu tidak akan tergantikan," jawab Ily hingga mampu membuat hati dongkol Bayu mereda.
Tamat.