
Semesta sedang mendukung perbuatan buruknya. Renita merasa ini adalah kesempatan terbaik untuk memanfaatkan situasi karena bu Soraya belum tiba di ruangan Pandu.
Renita jelas tahu dari balik pintu yang terdapat kaca untuk melihat ke dalam. Walau sedikit buram, dia tetap bisa melihatnya.
Dengan wajah yang dibuat sedih, Renita memasuki ruangan Pandu. Dia berharap bahwa Pandu akan merasa iba dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, dugaannya salah karena Pandu sama sekali tidak beralih dari ponsel digenggamannya. Renita menghela napas pelan kemudian mwndekat untuk melihat apa yang sebenarnya Pandu lihat.
"Eh. Kamu sudah datang, Ren," ucap Pandu gelagapan.
Renita berusaha mengulas senyum walau telapak tangannya yang terletak di punggungnya sudah mengepal sempurna. Renita tentu tahu siapa yang sedang Pandu pandang di dalam ponselnya.
"Iya. Kamu terlalu asik dengan ponsel sampai-sampai tidak menyadari kedatanganku," jawab Renita kemudian duduk di sisi brankar.
Pandu hanya tersenyum kemudian menyimpan ponsel di belakang tubuh. Gestur tubuhnya tidak bisa berbohong jika saat ini Pandu seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Renita tidak masalah. Hal yang paling utama yang harus Renita lakukan sekarang adalah mengadukan tingkah Ily dan mamanya. Ini akan seru dan Renita berharap, Pandu akan beralih membela dan mencintainya.
"Ndu?" panggil Renita dengan suara paraunya. Matanya mulai mengeluarkan cairan bening yang membasahi pipinya.
"Eh. Kamu kenapa? Mengapa tiba-tiba menangis?" tanya Pandu heran sambil menatap Renita yang kini sudah tersedu-sedu.
"Aku tahu jika aku bukanlah dari kalangan orang berada. Namun, apakah itu emnajdi tolok-ukur untuk menjalin sebuah hubungan?" racau Renita yang membuat dahi Pandu mengernyit heran.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi sih? Coba bicara langsung ke intinya," kesal Pandu karena Renita terlalu berbelit-belit.
"Mamamu menamparku tadi," beritahu Renita yang membuat Pandu semakin tidak percaya.
"Kamu jangan asal bicara deh, Ren. Aku tahu mama kurang suka padamu. Tetapi, bukan berarti kamu menuduh mama yang tidak-tidak," kesal Pandu mulai geram dengan sikap Renita.
Renita semakin menjual air matanya di depan Pandu. "Aku tahu, Ndu. Kamu mungkin tidak akan percaya padaku. Tetapi, itulah kenyataannya. Disana ada Ily juga. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan mama kamu. Mungkin saja Ily mengatakan sesuatu yang membuat mamamu tidak suka padaku," ucap Renita sambil menangis tersedu-sedu.
Pandu terperangah. Itu tidak mungkin Ily lakukan. Pandu jelas tahu bagaimana sifat Ily yang cenderung tidak ingin menghabiskan waktunya untuk hal-hal seperti itu.
"Tidak mungkin, Ren. Ily tidak mungkin melakukan itu," sangkal Pandu yang membuat Renita semakin kesal.
"Jadi, kamu lebih percaya Ily daripada aku? Kamu lupa? Ily itu lebih berpotensi untuk merebut kamu kembali, Ndu. Dan aku tidak mau itu terjadi," kesal Renita sedikit meninggikan suaranya.
Berbeda saat Ily yang merengek padanya. Rasanya begitu menyenangkan ketika mendeng suara Ily yang mengayun. Pandu suka semuanya tentang Ily.
Huh! Mengapa Pandu justru terpikir pada Ily?
"Ndu!" sentak Renita lagi karena Pandu justru melamun.
Lagi-lagi Pandu dibuat kesal pada tingkah Renita. Mengapa dia layaknya anak kecil yang membutuhkan perhatian? Ily dulu tidak pernah seperti itu. Pada akhirnya, Pandu kembali membandingkan Renita dan Ily.
"Aku tahu kamu tidak menganggapku ada selama ini. Jadi, apapun yang aku katakan tidak akan membuatmu bertindak membelaku. Aku memang tidak beruntung karena telah dilahirkan ke dunia ini," ucap Renita kembali tersedu.
__ADS_1
Pandu menghela napas kasar. "Baiklah. Aku akan tanya mama terlebih dahulu," jawab Pandu pada akhirnya.
Renita menoleh tidak terima. "Mengapa harus bertanya lebih dulu, Ndu? Kamu bisa kan, memarahi Ily yang sudah memberikan pengaruh buruk pada mama kamu?" kesal Renita karena Pandu seakan sedang mengatakan bahwa dirinya tidak jujur dan cenderung merekayasa.
"Aku tidak bisa mengambil kesimpulan hanya karena mendengar dari satu pihak. Aku harus mendengar semua perkataan yang terlibat," jawab Pandu masih berusaha sabar.
"Ooh, berarti kamu juga akan bertanya pada Ily begitu? Lalu kamu akan bertemu dengan dia lagi?" tebak Renita yang semakin membuat Pandu geram.
"Aku sudah tidak tahu lagi mengapa sikapmu saat ini begitu menyebalkan," kesal Pandu membuang muka. Niat hati berada di rumah sakit ingin sembuh, justru Pandu dibuat semakin parah karena keberadaan Renita.
Renita terdiam dengan mata menatap tajam Pandu. "Kamu tega, Ndu! Secara tidak langsung, kamu membela iky dan mamamu yang sudah berlaku kasar padaku!" pekik Renita yang membuat Pandu berjenggit kaget.
Beruntung, kamarnya ada dalam kategori VIP. Jadi, teriakan Renita tidak akan membuat gaduh semua orang.
Pandu membiarkan saja Renita pergi dari ruangannya. Toh, paginya terasa suram ketika Renita sudah datang. Gadis itu sudah menjelma menjadi sosok yang menyebalkan dan suka mengada-ada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya😍...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1