Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Pengumuman novel baru Pawang Badboy by ika oktafiana


__ADS_3

"Ngapain disini?" tanya Raya heran.


Hazel yang semula bersandar, menegakkan tubuh ketika Raya telah berada di hadapannya. "Mau traktir. Itung-itung terimakasih seminggu lalu," jawab Hazel singkat seperti biasa.


Raya jadi paham jika Hazel memang memiliki kepribadian yang dingin dan datar. Buktinya, ketika mengucapkan sebuah kalimat tidak pernah sekalipun Hazel tersenyum. Seperti, senyumnya sangat mahal.


Raya tersenyum tipis. Iming-iming traktir begitu menggiurkan untuk kantongnya. Tidak ada lagi rasa takut pada Hazel karena laki-laki itu memiliki tato di lengan yang membentuk ular, serta telinga dan bibir yang ditindik. Nyatanya, fisik itu tidak mencerminkan diri Hazel yang sebenarnya rapuh.


"Boleh. Mau dimana?" Senyum Raya semakin mengembang sempurna.


"Eh! Tapi gue bakal dianggap pamrih nggak sih?" tanya Raya yang senyumnya mendadak hilang.


Hazel menggeleng masih dengan wajah datarnya. "Ikut ke mobil gue," titahnya datar.


Raya hanya bisa memberengut kesal. Kenapa ada laki-laki sedingin itu sih? "Gue bawa motor. Kita Sendiri-sendiri aja. Sekalian untuk jaga-jaga barangkali lo mau melakukan tindak kriminal," ucap Raya yang seketika menyesali perkataannya sendiri.


Dia menunggu respon Hazel yang kini justru terdiam. Ditatap seperti itu, membuat nyali Raya menciut seketika. Padahal, Hazel hanya diam. Tetapi, aura sangar justru semakin terlihat jelas.


"Sorry. Gue cuma nggak bisa langsung percaya dengan orang baru." Pada akhirnya, Raya meminta maaf atas ucapannya.


"Lupakan. Lagian, wajar kalau lo bilang gitu. Secara, cover gue seperti ini," ucap Hazel terlihat nelangsa.

__ADS_1


Raya seketika menggaruk tengkuknya sendiri. Rasa bersalah kini seperti sedang menyerangnya. "Jadi nggak nih?" tanya Raya untuk mengalihkan pembicaraan tentang fisik Hazel.


Hazel sekali lagi mengangguk dan Raya menghembuskan napasnya lega. "Gue ikutin mobil lo dari belakang."


...----------------...


Raya tidak percaya jika Hazel justru membawanya pada sebuah restoran Sunda yang letaknya berada di pinggir sawah. Benar kata pepatah yang mengatakan, don't judge someone from the cover.


Restoran Sunda di pinggir sawah sangat berseberangan dengan sosok Hazel yang dari tampangnya itu metal. Raya tertawa sendiri memikirkan hal tersebut.


Udara siang itu yang cukup panas, mampu teredam dengan suasana sejuk di pinggir sawah. Angin yang berhembus menerpa rambut Raya hingga membuat tubuhnya terasa lebih tenang.


Setelah memesan makanan, tidak ada pembicaraan pada proses menghabiskan santapan. Keduanya sama-sama terdiam hingga makanan itu tandas dan seorang pramusaji datang karena diminta Hazel untuk membereskan meja yang kotor.


Raya tersenyum sambil membuang tatapan pada hamparan sawah yang tampak menghijau. "Enggak tau. Spontan aja setelah lihat darah yang netes di pergelangan tangan lo. Btw, sekarang udah baikan 'kan?" tanya Raya bersungguh-sungguh.


Hazel mengangguk disertai senyuman tipis, yang untuk pertama kalinya Raya lihat. "Lo tampan kalau senyum," puji Raya dengan senyum kagum yang mengembang.


Hazel kini benar-benar berpaling untuk tak menatap mata Raya. Hal itu membuat Raya geli sendiri pada kelakuan Hazel yang mungkin salah tingkah.


Hazel berdehem pelan lalu berucap. "Gue baik. Thanks karena udah membuat gue yakin jika di dunia ini masih ada yang peduli sama gue."

__ADS_1


Raya mengerjapkan matanya pelan untuk mencerna ucapan Hazel barusan. "Maksudnya? Gue beneran nggak maksud deh," ucap Raya lupa jika di rumah sakit saja, dia melihat bagaimana kondisi keluarga Hazel yang lengkap tetapi terlihat kurang akur.


Hazel hanya diam dengan tatapan menatap hamparan sawah yang menenangkan. Melihat keterdiaman Hazel, Raya memilih ikut diam dan melemparkan pandangan mengikuti arah pandang Hazel.


"Ngomong-ngomong, lo tau darimana kalau gue yang bawa lo ke rumah sakit?" tanya Raya heran. Pasalnya, dia sudah pergi sebelum Hazel sadar dari masa kritisnya.


Hazel pun berdecak pelan. "Cantik tapi bodoh," gerutunya yang membuat bibir Raya manyun lima senti.


"Lo kan yang daftar administrasi dan ngaku sebagai pacar gue. Otomatis, nama lo ada di catatan rumah sakit." Hazel kembali melanjutkan kalimatnya.


Raya benar-benar tidak memiliki muka lagi setelah apa yang dikatakan Hazel barusan. Dia juga heran mengapa dari sekian banyak hubungan, pacar lah yang Raya pilih sebagai wali agar Hazel bisa langsung ditangani.


Padahal, dia bisa mengaku sebagai asik atau teman bukan?


"Sorry. Gue spontan aja waktu itu karena saking paniknya," jawab Raya realistis.


"Oke. Alasan bisa diterima."


Raya sempat bingung. Tetapi ketika sadar, dia tergelak renyah. Mungkin, pengakuannya sebagai pacar Hazel menimbulkan salah paham besar untuk laki-laki tersebut.


Hazel tampak terpana dengan tawa Raya yang sangat lepas bagai tanpa beban. Senyum mengembang di bibir Hazel dan Raya berhasil menangkap senyum itu.

__ADS_1


.... Baca selengkapnya ke novelnya langsung yuk....



__ADS_2