Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 19. Kegalauan


__ADS_3

Akhir pekan ini Ily gunakan untuk mengunjungi rumah Pandu barangkali kekasihnya itu berada di rumah. Ponsel Pandu sama sekali tidak bisa di hubungi hingga membuat Ily semakin khawatir apakah terjadi sesuatu yang buruk? Atau Pandu sengaja menonaktifkan ponsel karena masih marah pada Ily?


Pada akhirnya, Ily memutuskan untuk memperbaiki hubungannya yang sempat merenggang. Jika dibiarkan terus-menerus, Ily takut hubungannya akan semakin jauh dan sulit diperbaiki.


Setelah berpamitan dengan sang Papa, Ily melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang sedikit macet karena banyaknya mobil yang melaju untuk berlibur.


Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai Ily sampai di pekarangan rumah milik Pandu. Setelah keluar, Ily bergegas masuk ke rumah besar tersebut. Beruntung, Bayu memberinya libur di hari Minggu dan mengatakan tidak ingin mengganggu waktu istirahat Ily. Seperti, dengan menelepon mendadak dan mengirim pesan mendadak.


"Eh! Selamat pagi, Ily," sapa bu Soraya ramah lalu memeluk Ily penuh kasih sayang.


Ily tentu membalas pelukan bu Soraya yang sudah Ily anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Setelah kepergian ibu dan adik perempuannya, keluarga Pandu seperti keluarga kedua bagi Ily.


Bu Soraya dan Larina memperlakukan Ily dengan sangat baik hingga Ily merasa nyaman dan tenteram berada di sekitar keluarga tersebut.


"Pandu di rumah kan, Tan?" tanya Ily setelah pelukan terlepas.


Bu Soraya tampak mengernyit heran. "Loh. Tante pikir Pandu keluar rumah pagi-pagi karena tidak sabar untuk menemui kamu. Lalu, kemana perginya bocah itu?" jawab bu Soraya yang justru balik bertanya. Beliau juga tidak tahu-menahu kemana perginya sang Putra. Pandu hanya mengatakan bahwa dia ingin pergi jalan-jalan.


"Apa mungkin ke kantor ya, Tan?" pikir Ily menebak-nebak.


Namun, hal itu segera dibantah oleh pak Hartono yang muncul dari teras belakang. "Tidak mungkin. Hari ini kantor tutup, Ly. Untuk apa Pandu ke kantor? Setahu Om, tidak ada pekerjaan mendesak yang meminta Pandu untuk berangkat di hari Minggu," sahut kak Hartono yang kini sudah berada di hadapan Ily.


Ily tersenyum lalu menyalami tangan pak Hartono dan mencium punggung tangannya.


"Lalu, kemana perginya Pandu? Mengapa akhir-akhir ini dia jarang sekali mengatakan mau kemana? Biasanya, Pandu akan izin pada Tante jika ingin menemui kamu," tanya bu Soraya benar-benar heran.

__ADS_1


Merasa suasana menjadi kurang mengenakkan, Ily memilih kembali bersuara. "Tidak apa-apa, Tan. Aku bisa tunggu Pandu pulang kok," ucap Ily berusaha mengulas senyum.


Pak Hartono dan bu Soraya mengangguk bersamaan. "Om ke atas dulu ya? Sekalian Om akan panggilkan Larina," pamit pak Hartono.


"Iya, Om. Tidak apa-apa," jawab Ily kemudian pak Hartono segera berlalu.


Kini, tinggallah Ily dan bu Soraya yang berada di ruang tengah. "Ily? Duduk disini, Sayang," pinta bu Soraya lembut sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya.


Ily menurut dan mengambil posisi duduk di sofa tepatnya di samping bu Soraya. Wanita paruh baya itu menatap lekat wajah Ily. Tangannya terulur untuk menyentuh jemari lentik Ily.


"Apa terjadi sesuatu antara hubungan kalian? Mengapa akhir-akhir ini Tante merasa hubungan kalian sedang tidak baik-baik saja?" tanya bu Soraya seakan paham akan tingkah anak muda zaman sekarang.


Ily menunduk menatap jemarinya yang sedang dimainkan oleh bu Soraya. Jujur, Ily merasa nyaman berbicara dengan dipegang tangan seperti ini. Ily merasa seperti sedang berbicara dengan sang Mama.


"Iya, Tan. Pandu waktu itu marah padaku karena aku selalu sibuk dengan pekerjaan bahkan siang dan malam," jawab Ily berterus terang.


Setelah berbincang panjang lebar dengan sang Papa, Ily merenungi semua ucapan papanya. Memang benar, dirinya sudah terlalu berlebihan dalam mengejar sesuatu.


"Kamu memang sangat dewasa. Tidak seperti Pandu yang bertingkah layaknya anak-anak. Awas saja kalau sampai dia pulang, akan Tante jewer dan pukul dia! Berani-beraninya dia menyakiti anak orang," ucap bu Soraya sambil memijit pelipisnya.


"Ini semua salah Tante dan Om yang sudah terlalu memanjakan anak itu. Maafkan sikap Pandu selama ini ya, Ly. Dia sering sekali bersikap seperti anak kecil yang sedang marah karena tidak di belikan mainan."


"Kamu tenang saja. Kalau sampai Pandu macam-macam, Tante yang akan turun tangan," ujar bu Soraya menggebu-gebu.


Ily terkekeh pelan. "Terima kasih, Tante," jawab Ily kemudian berhambur ke pelukan bu Soraya.

__ADS_1


Ily bisa merasakan punggungnya dielus lembut oleh bu Soraya. Sangat nyaman hingga suara Larina menyentak keduanya. "Kenapa ini? Kok main peluk-pelukan?" tanya Larina yang tiba-tiba duduk di antara Ily dan bu Soraya.


Tangannya terlipat di depan dada dengan bibir yang menggerucut. "Tidak. Mama hanya sedang menenangkan Kak Ily. Ternyata benar dugaan kita, Rin. Abangmu dan Kak Ily sedang bertengkar," beritahu bu Soraya yang membuat bibir Larina yang semula menggerucut, kini menganga lebar.


"Kan! Benar dugaanku, Ma! Bang Pandu tuh sikapnya aneh sekali," seru Larina yang suaranya menggema di seisi ruangan.


"Hust!!" peringat Ily dan bu Soraya bersamaan.


"Tapi, Kak. Aku tuh agak-agak curiga karena—"


"Lupakan. Lebih baik kita jalan-jalan berdua, Kak," sambung Larina yang ucapannya sempat menggantung.


"Benar. Silahkan kalian pergi jalan-jalan. Mama mau pacaran dulu," pamit bu Soraya yang sudah beranjak dari sofa yang berjalan menuju arah tangga. Larina dan Ily hanya menatap heran pada kepergian bu Soraya.


"Jangan diambil pusing, Kak. Yuk! Kita ke mall saja. Kita butuh belanja," ucap Larina yang kini sudah menarik tangan Ily untuk mengikutinya.


Ily hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Larina yang seperti adik perempuannya yang sudah menghadap Yang Maha Kuasa.


"Terima kasih ya, Rin. Kamu dan Tante Soraya sangat baik padaku. Aku seperti melihat mama dan adikku yang sudah tiada," ucap Ily sendu.


Larina sontak menghentikan langkah dan berbalik untuk menatap Ily. "Kakak kenapa mengucap terima kasih? Itu tidak perlu, Kak. Aku juga sangat menyayangi Kakak dan sudah menganggapnya seperti kakak sendiri," jawab Larina dengan mata yang berkaca-kaca.


Keduanya pun berpelukan saling menyalurkan rasa hangat dan tenang. Setelah cukup puas, Larina melepas pelukan terlebih dahulu.


"Lupakan kesedihan Kakak hari ini. Mari pergi berbelanja denganku agar pikiran yang sedih atau sedang merana, cepat terobati," ajak Larina yang membuat Ily tersenyum lalu mengangguk.

__ADS_1


Ily pun menjalankan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota dengan ditemani Larina. Berharap setelah ini kegalauan di hati akan sedikit mereda.


__ADS_2