
Di hari Sabtu, Ily sengaja mengambil pekerjaan. Berharap pertemuannya dengan Pandu kemarin bisa sedikit terlupakan. Namun, saat tidak ada pasien yang harus di operasi, Ily justru kembali mengingat laki-laki itu.
Lamunan Ily tersentak ketika mendengar pintu ruangan dibuka secara kasar dan terburu-buru. Ily mendongak untuk melihat siapa pelaku dari pendobrakan pintu ruangannya.
"Kenapa, Sus? Mengapa terburu-buru sekali?" tanya Ily dengan alis mengkerut.
Suster Gaby masih tampak ngos-ngosan. Setelah napasnya cukup tenang, suster Gaby menjawab. "Itu, dokter Bayu meminta Dokter Ily untuk membantu pasien darurat. Kita kehabisan dokter umum karena di hari Sabtu banyak yang mengambil cuti," ucap suster Gaby tampak terburu-buru.
Tanpa menunggu lama, Ily segera mengenakan jas putih dan menyiapkan alat-alat yang diperlukan. "Tolong bawakan ini semua ya, Sus," pinta Ily sambil mendorong troli berisi alat kesehatan.
Suster Gaby segera mengambil alih troli dan mempersilahkan Ily berjalan lebih dulu. "Ke ruang UGD, Dok. Pasien mengalami sesak napas," beritahu suster Gaby yang membuat langkah Ily semakin cepat. Jika terlambat sedetik saja, hasilnya akan fatal.
Suster Gaby membukakan pintu untuk Ily dengan sigap saat Ily sudah siap untuk masuk. Saat Ily masuk, sudah ada dua perawat yang mencoba memasang oksigen dan infus.
Namun, bukan itu yang membuat Ily terkejut. Pasien yang dimaksud suster Gaby adalah seseorang yang baru saja ada dalam pikiran Ily, yaitu Pandu.
Kejadian ini seperti Dejavu bagi Ily. Pandu pernah ada di posisi ini setelah memakan sesuatu yang mengandung buah stroberi. Ily tergesa-gesa mendekat dan menatap penuh tanya pada sosok wanita yang terlihat menyedihkan karena menangisi Pandu.
"Apa Pandu habis makan sesuatu?" tanya Ily sedikit meninggikan suaranya. Ily tidak tega melihat Pandu yang kesusahan bernapas dengan kondisi mata yang tertutup.
"Iya, Dok. Makan pudding coklat stroberi," ungkap Renita dengan masih sesenggukan.
__ADS_1
Ily ingin marah. Namun, sudah tidak ada waktu lagi. Dia bergegas menangani Pandu yang sudah mirip seperti orang yang sedang menjemput ajal. "Suruh keluarga pasien untuk keluar ruangan, Sus," titah Ily pada suster Gaby.
Sambil menangani Pandu, Ily meneteskan air mata. Mengapa Pandu sampai ceroboh. Ily khawatir dengan kondisi Pandu saat ini.
"Suntikkan obat penawarnya, Sus!" titah Ily pada salah satu suster yang membantu Ily menangani Pandu.
Hingga lima belas menit kemudian, setelah obat disuntikkan, napas dan detak jantung Pandu mulai membaik. Ily menghela napas lega dan menyeka keringat yang menetes di dahinya. Pandu sudah tertidur karena obat bius yang Ily suntikkan dengan sedikit dosis di tubuh Pandu.
"Syukurlah. Dokter Ily berhasil menanganinya," ucap salah satu suster yang membantu Ily.
Ily mengangguk. Pandangannya tertuju pada Pandu yang sudah terlelap. 'Kenapa kamu bisa seceroboh ini sih, Ndu? Harusnya kamu bisa menjaga diri dengan baik,' gumam Ily dalam hati.
Andai hubungannya dengan Pandu masih baik-baik saja, mungkin Ily akan meluangkan waktu menemani Pandu. Namun, Ily sadar diri bahwa saat ini dirinya bukan siapa-siapa lagi. Ily dan Pandu sudah kembali menjadi orang asing.
Setelah keluar ruangan, Ily menyempatkan diri untuk berbicara dengan Renita yang tampak menunggu di depan ruangan. Setelah melihat dirinya keluar, Renita berjalan mendekat.
"Bagaimana, Dok. Apakah Pandu baik-baik saja? Apakah kekasih saya baik-baik saja?" tanya Renita tidak sabaran.
Ily menatap datar pada wanita di depannya. "Dia sudah ditangani dan biarkan dia beristirahat. Tolong hubungi keluarganya untuk mengurusi semua administrasi," jawab Ily berusaha mengulas senyum di akhir kalimat.
"Ayo, Dok," ajak suster Gaby seakan tahu bahwa suasana mendadak tidak enak.
__ADS_1
Ily mengangguk dan berjalan lebih dulu meninggalkan Renita yang masih terbengong. Hingga langkah Ily hampir jauh, suara Renita kembali terdengar memanggil namanya. "Dokter! Dokter Ily tunggu!" panggilnya.
Ily menoleh dengan alis terangkat. 'Kenapa?'
"Saya tidak mempunyai nomor keluarga Pandu. Bisa tolong hubungi mereka?" pinta Renita tak tahu malu.
Ily tersenyum miring. "Katanya kekasih. Masa tidak memiliki nomor salah satu keluarganya?" ucap Ily seakan balas dendam akan perkataan Renita tadi yang menyinggung tentang sebutan kekasih.
Renita menunduk sambil memilin jarinya. "Saya mohon, Dok," pinta Renita lagi sarat akan permohonan.
Ily geleng-geleng kepala kemudian berbalik. Dia tidak lagi menjawab permohonan Renita. Namun, saat sudah sampai di depan ruangan, Ily segera mencari ponselnya untuk menghubungi Larina.
"Halo, Bu Dokter," sapa Larina ramah di seberang sana.
Ily terkekeh getir. Mengingat bahwa hubungannya dengan Pandu telah kandas. "Halo, Rin. Tolong datang ke rumah sakit ya? Abangmu kena alergi lagi," jawab Ily yang membuat Larina terkejut di sebrang sana.
"Bagaimana bisa, Kak? Kenapa kak Pandu ceroboh sekali?" tanya Larina tidak habis pikir.
Kemudian, Ily menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Termasuk kehadiran Renita yang membawa Pandu ke rumah sakit mungkin. Ily menceritakan semua yang dia ketahui tanpa ada yang dilebihkan.
"Kamu tenang saja. Abangmu sudah tertangani dengan baik. Cepatlah datang ke ruang sakit untuk mengurus segala administrasinya," ucap Ily untuk uang terakhir kali sebelum panggilan telepon terputus.
__ADS_1