
Pagi harinya Ily terbangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar. Setelah mandi, Ily bergegas menuju ruang makan untuk sarapan. Sang Papa pasti sudah menunggunya.
Namun saat kakinya menjejak anak tangga paling bawah, Ily tidak melihat keberadaan sang Ayah. Sayup-sayup Ily mendengar suara ayahnya yang sedang berbicara dengan suara yang sudah tidak asing lagi.
Pandu. Satu nama yang terlintas di benak Ily. Saat langkahnya semakin dekat dengan teras depan rumah, Ily bisa melihat dengan jelas sosok Pandu yang kini sedang berbicara dengan ayahnya.
Tidak. Lebih tepatnya sang ayah yang saat ini sedang berbicara panjang lebar tentang masalah semalam.
"Kamu kenapa datang lagi? Belum kapok kamu?" tanya pak Guntur melirik sekilas lalu kembali fokus pada koran di depannya.
Ily mengernyit heran. 'Bukannya Papa tidak akan membaca koran sebelum sarapan ya? Aneh sekali,' batin Ily bertanya.
Ily bisa melihat Pandu yang tersenyum menatap sang Ayah. "Maafkan atas ketidaksopananku semalam, Om. Aku tahu sudah salah meninggalkan Ily begitu saja. Aku datang untuk memperbaiki semua," jawab Pandu sopan.
Pak Guntur mendengkus sebal. "Memperbaiki apa?" tanyanya ketus.
"Jika diizinkan, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Ily," jawab Pandu dengan yakin.
"Cih. Ily sudah lelah berjuang untuk lelaki seperti kamu. Aku rasa, putriku tidak akan lagi menerimamu. Ily sudah berhenti mengharapkanmu dan itu akan baik," ucap pak Guntur sarkas.
Bukannya marah, Pandu justru tersenyum. "Tidak masalah jika Ily lelah dan memilih berhenti. Berarti, kini giliranku untuk memperjuangkan Ily," jawab Pandu penuh keyakinan.
__ADS_1
Ily jelas mendengar semua itu. Dia hanya menatap datar lalu menampakkan dirinya.
"Pa? Papa belum sarapan. Kita sarapan dulu ya," ajak Ily lembut tanpa memedulikan kehadiran Pandu.
Pak Guntur dan Pandu sontak menoleh. Ayah dari Ily itu melirik Pandu sekilas dan meninggalkan laki-laki itu begitu saja. Berlalu bersama Ily masuk ke rumah.
"Sepertinya, dia akan berusaha untuk merebut hati kamu lagi," celetuk pak Guntur yang hanya mendapat gelengan dari Ily.
"Aku sedang tidak ingin memikirkan dia, Pa. Aku sudah terlalu lelah," jawab Ily lalu segera mengambilkan sarapan untuk pak Guntur.
Setelah itu, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring. keduanya sama sekali tidak peduli pada Pandu yang saat ini masih menunggu di teras.
Namun, laki-laki itu masih saja menunggunya.
"Ily!" Panggil Pandu lembut saat Ily melewati dirinya begitu saja. Dia bagaikan sesuatu yang tak kasar mata sampai-sampai Ily tidak memperhatikan keberadaanya.
"Apa?" jawab Ily datar.
"Aku ingin meminta maaf," ucap Pandu sambil menunduk dalam. Mengisyaratkan bahwa dia sangat menyesal.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Ily masih mempertahankan raut datarnya.
__ADS_1
Pandu menatap Ily lekat. Dia tidak suka Ily bersikap cuek padanya. Pandu ingin Ily yang dulu kembali padanya.
"Untuk semuanya. Untuk luka yang sudah kutorehkan, untuk kepercayaan yang sudah ku khianati, untuk beberapa tahun yang sudah kamu habiskan untuk mengerti aku," jawab Pandu penuh penyesalan.
Ily memalingkan muka. Merasa kesal karena hatinya tiba-tiba berdebar saat berdekatan dengan Pandu. dirinya sungguh sangat lemah. Disakiti berkali-kali nyatanya tidak mampu mengurangi rasa cinta Ily pada Pandu.
"Aku sudah berhenti menghabiskan waktuku pada orang yang salah. Mulai hari ini, aku sudah tidak ingin lagi berurusan denganmu dan akan berusaha berhenti mencintaimu," ucap Ily dengan berat hati.
Pandu tersenyum kecut. Dia sadar apa yang dilakukannya sushs keterlaluan. "Mulai hari ini kamu boleh berhenti. Biarkan kali ini aku yang akan berjuang," jawab Pandu lalu tangannya bergerak untuk mengacak rambut Ily gemas.
Deg! Ily membeku di tempat. Sentuhan kecil Pandu nyatanya mampu membuat reaksi di tubuhnya.
"Biar aku antar jemput kamu ya?" tawar Pandu sambil tersenyum manis.
Melihat Ily yang hanya diam, Pandu mendorong pelan tubuh Ily untuk masuk ke mobilnya. Beruntung, tidak ada drama penolakan.
Pandu tersenyum senang. Besar dugaannya jika Ily masih mencintai dirinya.
"Ly? Pakai sabuk pengamannya atau aku saja yang pakaiankan?" tawar Pandu dengan senyum jahil karena Ily kini hanya terdiam bagai batu.
Mendengar itu, Ily langsung melotot tajam dan segera menguasai dirinya kembali.
__ADS_1