Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 28. Menyesal


__ADS_3

Pandu sudah sadarkan diri sejak tadi lagi. Bu Soraya dan Larina setia menunggu Pandu untuk membuka mata. Saat melihat kehadiran Renita, dia wanita berbeda generasi itu jelas terkejut. Apalagi, wanita yang ditemui mereka mengaku sebagai kekasih Pandu.


"Ndu? Apa hubungan kamu dan Ily sudah Berakhir? Mengapa sejak kemarin ada wanita yang selalu menunggumu bangun?" tanya bu Soraya sambil tangannya bergerak mengupas buah pir.


"Iya. Mana ngaku jadi kekasih Abang lagi. Berarti benar dugaanku selama ini, Ma. Bang Pandu tuh sudah memiliki kekasih baru. Buktinya, kak Ily sudah tak pernah datang ke rumah lagi," celetuk Larina merasa kesal dengan ulah Abangnya.


Pandu langsung menelan saliva. Sosok Ily memang sangat dikagumi dalam keluarganya. Banyak yang menyukai bagaimana Ily bersikap belum lagi paras cantik yang di milikinya.


"Aku dan Ily sudah berakhir," jawab Pandu lirih.


"Tapi kenapa, Ndu? Apa kurangnya Ily sampai kamu berpaling?" tanya bu Soraya tidak habis pikir.


Pandu menghela napas pelan. "Ily jarang punya waktu untukku, Ma. Berbeda dengan Renita yang selalu ada untukku," jawab Pandu dengan nada suara yang sedikit mengayun kesal.


"Oh! Jadi namanya Renita?" tanya Larina dengan tatapan memicing. Tangannya sudah terlipat di depan dada.


Pandu tidak menjawab karena pertanyaan Larina begitu mengintimidasi.


"Kamu tahu tidak? Kemarin yang menyelamatkan kamu tuh Ily. Bukan wanita yang mengaku sebagai kekasihmu itu. Justru, dia yang membuat keadaanmu jadi seperti ini. Berakhir di rumah sakit," jelas bu Soraya kesal.


"Ini bukan salah Renita, Ma. Ini aku yang ceroboh," elak Pandu yang nada suaranya sudah melembut.


"Bela saja terus, Bang. Tuhan sudah memberi Abang kekasih dokter tuh pasti ada tujuannya. Abang terlalu banyak alergi dan kak Ily yang bisa menyembuhkan," ucap Larina menyahuti yang secara tidak langsung mengatakan tidak setuju dengan hubungan Pandu dan Renita.


"Kamu kenapa makan stroberi? Padahal kamu tahu kalau kamu alergi buah itu? Dia kan pasti yang sudah memberikannya?" tanya bu Soraya terus memojokkan Renita.

__ADS_1


Pandu diam. Dia tidak ingin Renita semakin di olok-olok oleh mama dan adiknya. Iya. Ini bukan salah Renita karena gadis itu tidak tahu jika dirinya alergi buah stroberi.


Buah yang menjadi isi dari pudding yang Renita bawakan untuknya. Karena dibagian luar adalah pudding rasa coklat, Pandu pikir isinya juga selai coklat. Tenyata, dugaanya salah karena isi pudding tersebut adalah rasa stroberi.


"Rin?" panggil Pandu ketika suasana mendadak diam.


"Kenapa?" tanya Larina ketus namun tetap mendekat barangkali abangnya membutuhkan bantuan.


"Abang bosen disini. Bisa bawa Abang ke taman. Atau kita bisa membeli sesuatu di kantin. Sepertinya Abang ingin makan siang," pinta Pandu lembut.


Larina menghela napasnya kasar. "Baiklah. Kita akan makan siang dulu si kantin," jawab Larina kemudian segera mengambil kursi roda di sudut ruangan.


"Eh! Mana bisa seperti itu? Sebentar lagi kan ada makanan yang datang. Kenapa kamu tidak makan di ruangan saja sih? Kamu harus banyak istirahat, Ndu,"nasehat bu Soraya.


"Pergilah. Kamu memang harus berterima kasih pada Ily yang sudah sangat memahamimu," ucap bu Soraya seakan sedang menyadarkan sang Putra bahwa Ily adalah pilihan yang terbaik.


Sesampainya di depan ruangan Ily, Larina tidak langsung mendorong kursi roda yang diduduki abangnya ke ruangan Ily. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu yang kemudian terdengar suara dari dalam.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster yang bisa Larina duga adalah asisten Ily.


"Dokter Ily-nya ada, Sus?" tanya Larina sopan.


"Apa sudah membuat janji? Karena saat ini dokter sedang makan siang," tanya suster Gaby yang memang belum melihat keberadaan Pandu.


"Sus?" panggil Pandu yang membuat suster Gaby melongokkan kepalanya panjang.

__ADS_1


"Eh. Ada Pak Pandu. Apakah ingin bertemu dengan dokter Ily? Beliau sedang makan siang di kantin sepertinya. Bapak bisa menunggu jika ingin bertemu," ucap suster Gaby salah tingkah.


Pandu tersenyum. "Terima kasih, Sus. Aku akan menyusul Ily ke kantin kalau begitu," putus Pandu yang langsung meminta Larina untuk membawanya ke kantin.


Namun, saat Pandu sudah berada di pintu masuk kantin, matanya bisa melihat dengan jelas sosok Ily yang sedang tertawa lepas bersama seorang pria. Pandu bisa menduga jika pria itu adalah salah satu dokter di rumah sakit ini.


Seperti ada tangan tak kasat mata yang meremat jantung. Hatinya seperti dicabik-cabik oleh kuku yang tak kasat mata. Sangat sakit.


"Bang?" panggil Larina seakan paham dengan situasi yang ada.


"Apakah Ily sudah menemukan pengganti?" tanya Pandu mencoba meyakinkan diri sendiri. Dadanya sudah sesak seperti ada baru besar yang menghimpit.


"Wajarlah. Kak Ily kan cantik, pintar, dan mandiri. Siapapun pasti akan berlomba-lomba untuk mwndapatkan sosok seperti kak Ily," ucap Larina yang sama sekali tidak membuat Pandu merasa senang.


"Apakah harus secepat itu?" tanya Pandu lagi.


"Kenapa harus lambat? Abang saja bisa menjalin hubungan dengan dua orang wanita secara bersamaan? Why not?" ejek Larina merasa puas karena bisa melihat binar menyesal di mata sang Kakak.


"Makanya aku akan mengatakan jika Abang tuh rugi karena sudah menyia-nyiakan wanita seberkualitas seperti kak Ily. Aku yakin, Abang pasti menyesal kan?" tanya Larina lagi tidak henti-hentinya meledek sang Kakak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...mampir juga kesini yuk👇...


__ADS_1


__ADS_2