Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 18. Ukuran bahagia


__ADS_3

Kehilangan arah.


Dua kalimat yang begitu terngiang-ngiang di kepala Ily. Mungkinkah Ily kehilangan arah? Ily rasa tidak ssperti itu. Tujuan hidup Ily jelas dan sudah tersusun dengan rapi. Ily sudah menyusun sedemikian rupa agar di masa depan Ily tidak perlu menghabiskan sepanjang waktunya untuk bekerja.


Mencoba mengabaikan kalimat itu, Ily masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ily menggunakan air dingin untuk menjernihkan kepalanya dari sesuatu yang tidak perlu Ily pikirkan.


Tidak semua hal harus berada dalam kendali bukan? Jika Ily sampai gagal, mungkin itu cara Tuhan menunjukan kuasanya. Tugas Ily adalah berusaha sebaik mungkin untuk untuk masa kini dan masa depan.


Setengah jam kemudian, Ily sudah keluar dari kamar mandi. Dia bergegas memakai baju tidurnya karena udara sudah semakin dingin di tambah AC di kamar Ily yang menunjukkan suhu -2°C.


Mata Ily menatap pada jam di dinding kamarnya yang kini sudah menunjukan pukul sembilan malam. Ily kembali mencari keberadaan ponselnya untuk menghubungi Pandu.


Ily hanya geleng-geleng kepala melihat ponselnya yang begitu sepi dan tidak ada chat yang masuk dari siapapun termasuk Pandu.


"Apa Pandu masih marah?" monolog Ily kemudian segera menekan tombol hijau untuk menelepon Pandu.


Namun, lagi-lagi panggilannya berakhir tidak terjawab. Ily memejamkan mata untuk menghilangkan amarah yang saat ini menguasai dirinya. Mungkin tidur akan membuat Ily sejenak lupa tentang masalahnya dengan Pandu.


Waktu bergulir dan pagi kembali menyambut. Ily sudah bersiap untuk menuju rumah sakit. Namun, sebelum itu Ily akan mampir ke rumah Pandu terlebih dahulu. Ada apa gerangan sampai-sampai seharian ini Pandu menghilang entah kemana.


Setelah mobilnya terparkir di pekarangan rumah keluarga Pandu, Ily bergegas masuk melalui pintu yang tampak terbuka sedikit.


"Selamat pagi!" ucap Ily masih berdiri di depan pintu karena belum ada satupun penghuni rumah yang menunjukkan batang hidungnya.


"Eh! Ada Bu Dokter. Masuk, Bu," sambut Larina ramah yang membuat perasaan Ily yang kacau sedikit membaik.


"Bapak pandu-nya ada?" tanya Ily berbicara formal untuk bercanda.


Larina mengernyit heran. "Bukannya bang Pandu ke rumah Kakak ya? Dia sudah berangkat pagi tadi," jawab Larina bingung.


"Tidak. Pandu tidak ke rumahku. Tante Soraya dan Om Hartono kemana?" tanya Ily yang masih berdiri di ambang pintu tanpa berniat untuk masuk.

__ADS_1


"Papa sama Mama sedang ke luar kota, Kak."


"Kak Ily mau masuk dulu? Ada bibi di rumah kok. Aku sedang buru-buru karena ada kuliah pagi," tawar Larina yang segera mendapat gelengan dari Ily.


Tidak perlu, Rin. Kakak juga mau ke rumah sakit, ada operasi pagi," jawab Ily berusaha mengulas senyum walau dalam hati merasa kecewa karena tidak bertemu dengan Pandu.


Akhirnya, dua perempuan muda itu keluar dari rumah besar menuju tujuan masing-masing.


...........


Akhir pekan pun tiba. Pandu dan Renita telah menyusun rencana untuk pergi berkencan. Pandu memilih mengajak Renita untuk datang ke sebuah rumah makan yang menyuguhkan pemandangan alam dan aktifitas padat di ibu kota.


Dari ketinggian tiga belas lantai, mereka bisa melihat pemandangan di bawah sana dengan ukuran yang sangat kecil.


"Ndu? Aku tremor makan di tempat setinggi ini," ucap Renita dengan tubuh yang bergetar.


Pandu tertawa renyah. "Dibuat santai saja, Ren. Coba kamu jangan fokus pada ketinggiannya. Fokuslah dengan pemandangan yang sudah disuguhkan," jawab Pandu mencoba membuat Renita tenang.


Renita memejamkan mata. "Aku tidak bisa, Ndu. Bagaimana jika kita makan di mall saja? Aku takut jatuh makan di tempat setinggi ini," rengek Renita lagi. Tangannya sudah berkeringat dingin saking takutnya.


Entahlah. Mengapa pikiran Pandu langsung tertuju pada Ily. Padahal, mungkin saja Ily sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kebanyakan orang mungkin akan mengambil hari libur mereka untuk melepas penat. Tetapi Ily berbeda. Dia tidak seperti kebanyakan orang.


Huuft.


Pandu menghembuskan napasnya kasar. "Baiklah. Kita makan di mall saja kalau begitu," ucap Pandu kemudian memilih mengalah.


Bagaimanapun, Pandu tidak ingin membuat Renita tertekan hanya karena makan di tempat yang cukup tinggi.


Setelah membatalkan pesanan dan membayar ganti rugi pihak restoran, Pandu menggandeng lengan Renita menuju mobil.


Setelah masuk, Renita merasa suasana di dalam mobil sedang tidak baik-baik saja. Akhirnya, Renita memilih kembali bersuara. "Ndu? Kamu marah padaku?" tanya Renita pelan.

__ADS_1


Pandu menggeleng dengan mengulas senyum tipisnya. "Tidak. Aku hanya sedang memikirkan mau makan apa setelah ini," jawab Pandu berbohong.


Renita tahu jika Pandu sedang kecewa dengannya. Namun, Renita tidak mau membuat Pandu merasakan hal itu. bagaimanapun caranya, Renita akan berusaha menghibur Pandu dan mengajaknya makan di tempat yang akan membuat Pandu nyaman.


"Ndu? Kamu tenang saja. Aku ada banyak referensi restoran untuk tempat kita makan. Setelah kita makan, bagaimana jika kita pergi menonton film?" tawar Renita yang segera mendapat anggukan dari Pandu.


"Boleh. Mau nonton film apa?" tanya Pandu yang raut wajahnya kini sudah tidak sesuram tadi dan Renita merasa bersyukur atas hak tersebut.


"Nanti kita lihat dulu ya, Ndu. Aku lebih suka menonton film romantis sih," jawab Renita yang ditanggapi Pandu dengan anggukan kepala beberapa kali.


Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai Pandu telah sampai di lobi mall. Setelah memberikan kunci mobil pada petugas vallet, Pandu dan Renita berjalan beriringan memasuki mall terbesar yang ada di ibu kota.


"Mau makan daging bebek tidak, Ndu? Enak loh," tawar Renita sambil mengedarkan pandangan ke bawah saat dirinya dan Pandu sedang menaiki lift.


"Enak sepertinya. Bolehlah. Kita makan bebek saja kalau begitu," jawab Pandu yang membuat Renita ternyum bahagia.


Melihat Pandu yang menyetujui usulnya, Renita merasa diutamakan oleh Pandu. Dia senang akan hal itu.


Akhir pekan itu berjalan dengan lancar walau di awal sempat ada kekacauan. Setelah selesai makan, Pandu mengajak Renita untuk menonton film di gedung bioskop.


"Mau menonton film apa? Bagaimana jika film horror?" tawar Pandu yang seketika membuat Renita menggeleng kuat.


"Jangan, Ndu. aku takut menonton film horror. Film romantis saja ya?" ucap Renita bernegosiasi.


Pandu menghela napas pasrah. "Ya sudah. Kamu saja yang beli dan pilih tiketnya. Aku akan beli camilannya," ucap Pandu kemudian.


Renita mengangguk antusias dan akan senang hati memilih film yang akan membuat Pandu bahagia.


Namun, Renita lupa jika bahagianya seseorang tidak bisa diukur hanya karena hal itu membuat kita bahagia. Renita lupa jika setiap orang memiliki definisi bahagianya masing-masing.


Intinya, apa yang membuat kita bahagia, belum tentu membuat orang lain merasakan hal yang sama.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungan dengan cara like, Komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian ya 😘...


__ADS_2