Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 43. Selatankan


__ADS_3

Setelah kejadian penusukan yang dilakukan Renita, Pandu seperti menghilang di telan bumi. Entah kemana perginya laki-laki yang mengatakan akan giliran berjuang demi hubungan. Pada kenyataannya, semua hanyalah bualan.


Lagi-lagi Pandu ingkar pada janjinya sendiri. "Kamu sebenarnya kemana, Ndu?" gumam Ily teringat pada sosok Pandu. Setiap kali mengingat laki-laki itu, hatinya selalu merasakan sakit dan nyeri.


Ily yang masih dalam posisi duduk di ranjang, kini beralih merebah. Tatapannya lurus menatap langit-langit kamar. Pikirannya langsung melanglang buana. Kepergian Pandu yang tidak siapapun yang tahu, membuat Ily memiliki segudang pertanyaan di kepala.


Namun, sampai saat ini tak kunjung menemui temu. Ily lelah menunggu Pandu yang tak kunjung datang. Terhitung sudah hampir satu bulan Pandu menghilang. "Mungkin aku harus mulai melupakan Pandu," gumam Ily lagi.


Lalu, pikirannya teringat pada sosok Bayu yang statusnya masih Ily gantungkan. Namun, laki-laki itu tetap setia ada di sisinya. Mungkin, Ily harus mulai membuka hati untuk pria itu.


Pagi harinya, Ily sudah berada di meja makan lebih dulu. Biasanya sang Papa yang sudah berada di meja makan sepagi ini. Berulangkali Ily melihat ke arah tangga barangkali sang Papa akan turun.


Hingga seluruh makanan telah dihidangkan, Pak Guntur belum juga sampai di meja makan. "Papa kenapa belum turun ya?" gumam Ily heran.


"Aku susul saja kalau begitu," ucap Ily lagi lalu kembali menaiki tangga. Saat mengetuk pintu kamar ayahnya, tidak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka.


"Papa kemana sih?" tanya Ily keheranan.


Dengan terpaksa, Ily membuka pintu tersebut yang untungnya tidak terkunci. Dahinya mengernyit kala melihat kondisi kamar papanya sudah rapi. "Apa Papa sudah bangun dan pergi?" Hanya itu yang bisa Ily lakukan. Yaitu, bertanya pada diri sendiri.


Dengan langkah gontai, Ily kembali ke meja makan. Saat baru saja duduk di kursinya, ada suara pintu terbuka yang tidak lain adalah pintu masuk rumahnya. Setelah itu terdengar langkah kaki dan papanya muncul dengan senyum lebarnya.


Ily bisa melihat papanya mengenakan baju Jersey dengan badan yang berkeringat. Dia bisa menebak jika papanya baru saja lari pagi.

__ADS_1


"Sudah bagun, Ly? Papa kira kamu akan bangun siang lagi karena hari ini hari Minggu," sapa pak Guntur untuk pertama kali.


Ily mengangguk dengan bibirnya yang mengulas senyum. "Papa mandi dulu. Habis itu kita sarapan bersama." Ucapan Ily tersebut mampu membuat pak Guntur mengernyit dahinya heran.


"Tumben. Sudah tidak galau lagi nih?" goda pak Guntur.


Bibir Ily seketika melengkung ke bawah. "Maaf ya, Pa. Sudah lama sekali Ily tidak ada waktu untuk Papa," ucapnya merasa bersalah.


Ya. Setelah tragedi penusukan yang dialami Ily satu bulan yang lalu, sikap Ily berubah. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit. Bahkan, saat pagi hari pun Ily tak lagi ikut sarapan bersama sang Papa.


Pla Guntur tersenyum maklum. "Tidak apa-apa. Papa paham bahwa semua itu tidak akan mudah. Papa pernah ada di posisi tersebut. Bedanya, mama kamu sudah tidak mungkin kembali lagi ke dunia," ucapnya sendu.


Mata Ily mulai berkaca-kaca. Dia terlalu larut pada rasa kehilangan sampai lupa bahwa ada orang-orang di sekitarnya yang ingin Ily kembali seperti dulu. Bukan Ily yang suka melamun dan menyendiri.


Sepeninggalan papanya, pikiran Ily kembali melanglang buana. Dia teringat pada niatnya semalam yang ingin melupakan Pandu dan membuka lembaran baru. Ily harus bangkit agar di sisa hidupnya tidak berakhir sia-sia.


Sepuluh menit kemudian, pak Guntur tampak menuruni tangga dengan senyum yang terkembang sempurna. Beliau tentu sangat bahagia dengan perubahan sikap Ily yang kembali seperti dulu.


"Ayo. Kita langsung sarapan saja," ucap pak Guntur menginterupsi yang segera diangguki patuh oleh Ily.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Ily menatap sang Ayah yang sedang meminum air di gelasnya. Ily sengaja menunggu sang Papa menyelesaikan minum agar saat Ily mengatakan niatnya, beliau tidak tersedak.


"Kenapa, Ly? Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" Pak Guntur seakan tahu arti dari raut wajah Ily yang berubah serius.

__ADS_1


Ily mengangguk. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Ini mengenai aku dan—"


"Pandu?" sela pak Guntur yang segera mendapat gelengan dari Ily.


"Lalu?"


"Ini tentang ... Bayu, Pa," ucap Ily pada akhirnya.


Pak Guntur tampak menegakkan tubuh demi bisa mendengar hal apa yang akan putrinya bicarakan. "Kenapa dengan Bayu? Apa dia lelah mencintaimu?" cecar pak Guntur.


Ily mendengkus kesal. Bagaimana bisa sang Papa langsung menyimpulkan hal tersebut? Jelas-jelas kemarin Bayu masih datang ke ruangannya. Karena laki-laki itu pernah mengatakan. 'Jika aku tidak lagi datang ke ruang kerjamu, itu berarti aku berhenti mencintaimu.'


Mengingat itu, Ily merasa cemas dan takut Bayu benar-benar lelah dengan sikapnya.


"Bukan, Pa. Papa tolong dengarkan aku dulu," pinta Ily gemas sendiri dengan sikap papanya.


Pak Guntur terkekeh. Senang sekali bisa melihat sang Putri kembali ceria. "Baiklah. Katakan apa yang ingin kamu selatankan."


Ily mendelik kesal. Mana ada selatankan? Bukankah seharusnya utarakan?


"Pa?"


"Hm."

__ADS_1


"Aku bersedia menikah dengan Bayu," ucap Ily yang membuat pak Guntur duduk di kursi bagai patung.


__ADS_2