
"Beraninya kamu masuk ke ruangan Ily dan bersembunyi! Dasar anak tidak tahu diri!" ucap bu Soraya sesaat setelah menemukan putranya berada di dalam toilet ruangan Ily.
Bu Soraya merasa geram karena takut putranya melakukan hal yang gila. Beliau hanya menebak saja karena pintu ruangan Ily tampaknya terkunci.
"Aw! Sakit, Ma! Bagaimana jika telingaku putus!" pekik Pandu kesakitan karena sang Mama seperti enggan melepaskan jewerannya.
"Ily? Maafkan anak Tante yang sudah kurangajar. Dia adalah pasien tapi berani-beraninya masuk ke ruangan dokter dan mengunci ruangan," ucap bu Nilam Soraya yang kini sudah membawa Pandu sampai di ambang pintu.
Ily meringis melihat telinga Pandu yang tampak memerah. "Tidak masalah, Tan," jawab Ily berusaha mengulas senyum.
Ya, sosok yang mengetuk pintu ruangan Ily adalah bu Soraya. Beliau merasa, putranya itu sudah terlalu lama sejak keluar dari ruang rawat inapnya. Takut terjadi hal-hal yang tidak-tidak.
Dan benar saja. Saat Bu Soraya mengetuk pintu dan berusaha membuka handel, pintu tampak terkunci. Ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama.
Akhirnya, bu Soraya kembali mengetuk pintu dan tidak berapa lama pintupun terbuka. Ily muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Tante Soraya?" ucap Ily terkejut namun berusaha menyembunyikannya.
Bu Soraya tersenyum lalu kepalanya melongok ke dalam untuk mencari sosok Pandu. "Pandu kesini kan, Ly? Bukannya apa sih, Tante khawatir Pandu melakukan hal yang tidak-tidak," ucap bu Soraya meringis membayangkan seandainya itu terjadi.
"Ada kok, Tan. Pandu bersembunyi di toilet," ucap Ily lirih.
Bu Soraya menganggukkan kepala paham. "Baiklah. Dia harus segera diberi pelajaran," ucap bu Soraya lalu menggulung lengan bajunya.
Ily mengulum senyum. Pasti akan terjadi tragedi yang luar biasa setelah ini. Dan benar saja, bu Soraya menjewer telinga Pandu setelah pintu terbuka dan menemukan sosok Putranya yang sedang berdiri di belakang pintu.
Tidak berapa lama setelah kepergian bu Soraya dan Pandu dari ruangannya, dokter Bayu muncul dari ruangan di depannya. Tatapannya memicing memandang ke arah Ily.
Ily ingin segera masuk namun urung ketika melihat Bayu berjalan ke arahnya dengan tatapan mencemooh. "Jadi ... Kamu sudah baikan?" tanya Bayu terdengar seperti cemoohan.
Ily menatap tak suka pada Bayu. "Bukan urusan kamu ya, Bay," jawab Ily kesal.
__ADS_1
Bayu berdecih pelan. "Cih. Kamu langsung mau begitu saja?" tanya Bayu lagi seperti mengejek.
Ily kesal bukan main. "Memangnya kenapa?" ketus Ily tidak terima.
"Cih, murahan," cibir Bayu yang membuat Ily seperti di hantam ribuan beton. Wajah Ily mendadak datar dan menutup pintu begitu saja tanpa memedulikan Bayu lagi.
Ily berjalan gontai menuju meja kerjanya. Setelah duduk, Ily memerosotkan tubuhnya di kursi dengan posisi bersandar. Ucapan Bayu begitu menohok dirinya.
Apa iya, Ily terlalu murahan? Namun, bukankah Ily sudah menyadarinya saat bersama Pandu?
Namun, saat mendengar Bayu mengatakannya, rasanya begitu menikam hatinya. Seperti ada sebilah pisau yang menyayat hati.
Ily ingin mengatakan tidak terima. Namun, apa daya memang itu benar adanya.
Ily menghembuskan napasnya kasar. "Apa aku memang semurahan itu? Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa langsung luluh begitu saja? Efek Pandu memang sangat luar biasa," gumam Ily tidak habis pikir.
__ADS_1