Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 39. Lalu ....


__ADS_3

Renita menatap nanar kepergian Pandu. Punggung lebar itu kini semakin menjauh membawa separuh hatinya. Renita seperti merasakan degup jantungnya melemah.


Pandu telah pergi dan memutuskan hubungan secara sepihak.


Tentu Renita tidak akan menyerah begitu saja. Keadaannya yang sekarang tidak lain adalah karena ulah Ily. Dokter itu sudah mengambil semua kebahagiaanya.


Dengan tangan yang terkepal kuat, Renita bertekad bahwa Pandu harus menjadi miliknya. Jika itu tidak terjadi, maka Pandu tidak boleh di miliki siapapun.


Renita menghapus air matanya menggunakan punggung tangan lalu tersenyum dengan begitu mengerikan. Seperti ada rencana yang akan dia jalankan. Walau harus menghalalkan segala cara.


"Kamu lihat saja, Ndu. Siapa yang akan berakhir bahagia. Aku atau kamu? Aku tidak akan membiarkan kamu dan Ily hidup bebas begitu saja setelah apa yang kamu lakukan padaku." Renita tampak serius saat mengucapkannya.


"Jangan kamu pikir aku akan berjuang untuk menjadi temanmu lagi. Aku sudah tidak mau hanya menjadi pemeran figuran dalam kisah ini. Akulah yang harus menjadi pemeran utamanya," gumam Renita dengan sorot mata yang tak terbaca.


Sedangkan di tempat lain, Pandu kembali melajukan mobil menuju kantor. Dia harus bekerja. Setelah pulang dari bekerja, baru Pandu akan kembali menemui Ily.


Pandu yakin, Ily pasti akan luluh jika dirinya terus berusaha dan menunjukkan kesungguhan. Mengingat itu, Pandu menggeleng lalau tersenyum sendiri. "Tunggu aku, Ly. Setelah kamu mau memberiku kesempatan, aku akan berlama-lama lagi berpacaran. Aku ingin kita segera menikah," gumam Pandu penuh rencana indah di kepala.


............


Sore harinya, Ily sudah bersiap untuk pulang. Setelah memasukkan semua barang-barangnya, Ily menaruh tali tas di bahu lalu menoleh pada suster Gaby yang saat ini juga sedang membereskan barang.


"Sus? Aku duluan ya?" ucap Ily yang langsung mendapat anggukan dari sister Gaby.


"Hati-hati di jalan, Dok."


Ily hanya mengangguk lalu keluar dari ruangan. Bersamaan dengan itu, pintu di depan ruangannya juga terbuka. Lalu Bayu keluar dari sana. Mata Ily sempat bersitatap dengan mata Bayu. Namun, Ily segera memalingkan muka, bertindak layaknya tak melihat.


Ily masih kesal pada Bayu yang sudah mengatainya sebagai murahan. Jika memang Bayu tidak suka padanya, pria itu harusnya tak perlu dekat-dekat.


Ily berjalan santai lalu melewati Bayu begitu saja. Namun siapa sangka, Bayu justru mengikuti langkah Ily dan berjalan sejajar di sampingnya.


Kesal tentu saja. Namun, Ily memilih diam dan masih mengabaikan keberadaan pria bermulut lemes itu.


"Ily?" panggil Bayu masih mengikuti langkah Ily.


"Ly?" Karena tak kunjung mendapat jawaban, Bayu mengulang panggilannya. Namun, Ily masih saja bergeming.

__ADS_1


Setelah itu, Ily bisa merasakan tangannya dicekal. Terpaksa, Ily menghentikan langkah lalu menatap kesal pada sosok di sampingnya.


"Kenapa sih? Belum puas kamu menghujatku? Sekarang kamu mau melakukannya lagi?" tuntut Ily dengan pandangan melotot.


Bayu meringis. "Bukan seperti itu. Tolong jangan salah paham. Aku hanya ingin meminta maaf karena kemarin aku sudah melukai perasaanmu. Aku kesal karena kamu kembali memilih dia dan bukan aku," ungkap Bayu tulus.


Ily menghela napas kasar. Harusnya Ily sudah bisa memaafkan. Namun kali ini, rasanya begitu susah hanya sekedar untuk mengeluarkan suara. Ily masih sangat sakit hati dengan ucapan Bayu tempo hari.


Tanpa mengucap sepatah katapun, Ily kembali melanjutkan langkah. Kali ini Bayu tidak mengikutinya dan membiarkan Ily berjalan sendirian.


Ily cukup lega ketika menyadari Bayu tak lagi mengejarnya. Ily berharap, Bayu bisa mencari wanita lain yang benar-benar tulus dan membalas cintanya. Karena hal itu tidak mungkin Ily lakukan. Sudah ada nama lain di hatinya yang sudah terpatri.


Baru saja Ily memikirkan pria itu, suaranya tiba-tiba terdengar memanggil. Ily mengira dirinya hanya halusinasi. Namun, suara itu semakin jelas dan seperti ada di belakangnya.


"Ily? Sudah pulang? Mau aku ajak jalan-jalan tidak?" ucap suara yang tidak lain adalah milik Pandu.


'Mau!' Kata itu tentu hanya Ily ucapakan di dalam hati. Saat ini Ily ingin jual mahal terlebih dahulu untuk mengetes seberapa bersungguh-sungguhnya Pandu untuk bisa membuat dirinya kembali.


"Aku tidak ingin pergi kemanapun hari ini," jawab Ily ketus.


Ily mendelik kesal lalu mencoba menggapai kunci tersebut. "Kembalikan kuncinya! Aku bisa terlambat pulang!" kesalnya masih berusaha menggapai kunci yang saat ini Pandu angkat.


Pandu hanya tersenyum lebar. "Ambillah jika bisa. Ini tidak akan sulit," jawab Pandu jahil dan itu begitu menyebalkan bagi Ily.


"Pandu!" sentak Ily kesal karena tak kunjung mendapatkan kunci mobilnya.


"Iya, Sayang." Dengan percaya dirinya Pandu memanggil Ily dengan sebutan sayang.


Kekesalan Ily semakin bertambah tatkala Pandu melempar kunci mobilnya ke depan dan ternyata ... ada seseorang yang menangkapnya dari sana.


"Pandu!" Ily berteriak lalu memukul dada Pandu berulangkali.


"Iya, Sayang. Tenanglah sebentar," jawab Pandu menenangkan. Ily memutar bola matanya jengah. Sayang-sayang, kepalamu peyang. Gerutu Ily dalam hati.


"Bawa mobilnya sesuai alamat yang aku kirimkan tadi. Aku akan pergi jalan-jalan dengan kekasihku," ucap Pandu sedikit berteriak memberitahukan seorang pria di seberang mobil Ily.


"Baik, Bos!" Seseorang tersebut menjawab dengan tegas.

__ADS_1


Pandu tersenyum lebar lalu tanpa aba-aba langsung menggendong Ily apa bridal style.


Ily memekik kaget dan pukulan berjalan mendarat di dada Pandu. Bugh!


"Kamu gila! Turunkan aku!" kesalnya dengan wajah bersungut. Mengabaikan protes Ily, Pandu membawa Ily ke mobil melewati pintu samping kemudi.


Sengaja agar Ily tak bisa melarikan diri lagi. Pandu juga ikut masuk karena harus membuat Ily duduk di kursinya dengan tenang.


Setelah itu, Pandu mengunci mobil dan tersenyum senang. Sangat berbeda dengan ekspresi yang ditunjukkan Ily, yaitu begitu masam.


"Dasar laki-laki pemaksa! Tidak tahu sopan santun!" gerutu Ily kesal.


"Kamu tuh jangan seenaknya saja. Kamu kira aku mau diajak jalan olehmu? Kita ini sudah berakhi—"


Ucapan Ily nyatanya tidak benar-benar selesai ketika Pandu tiba-tiba mendekatkan wajah dan menatap Ily lekat.


"Jangan katakan itu lagi." Pandu berucap dengan tangan yang sibuk bergerak untuk mengaitkan sabuk pengaman.


Ily harus menahan napas saat aroma mint dan maskulin menguar ke indera penciumannya. Belum lagi, deru napa Pandu yang seakan menampar wajahnya.


Ily menelan saliva. Jantungnya kembali berulah dan berdegup tak sewajarnya.


"Aku tidak suka mendengarnya. Tidak akan pernah aku biarkan hubungan ini berakhir. Jika nasib buruk menghampiri, maka aku akan merubahnya menjadi nasib indah," bisik Pandu di telinga Ily.


Bulu-bulu di kulit Ily seakan meremang. Pandu kembali membangkitkan sesuatu dalam diri yang sudah beberapa bulan ini enggan menampakkan diri.


Dan betapa bodohnya Ily ketika memilih memejamkan mata saat tangan Pandu menelusup dari balik kemejanya.


"Nduh ... Berhentih ...."


"Iya, Sayang. Katakan kau masih mencintaiku dan aku akan berhenti," ucap Pandu dengan sengaja memainkan jemarinya di pusara Ily.


Ily membuka mata. Sejenak Ily seperti kehilangan pasokan oksigen di paru-parunya. Apalagi, jarak wajah Pandu saat ini begitu dekat.


Mata keduanya saling beradu. Lalu ....


bersambung....😅

__ADS_1


__ADS_2