Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 14. Bagus


__ADS_3

Disinilah Pandu berada, di tengah kerumunan orang-orang yang sedang menikmati hidangan di sebuah acara pernikahan yang diadakan di hotel mewah.


"Ndu? Mau makan dessert atau tidak?" tawar seorang wanita yang tidak lain adalah Renita. Pandu sengaja sengaja mengajak Renita untuk ikut bersamanya karena Pandu tidak ingin pergi ke sebuah acara hanya sendiri. Padahal kan, Pandu memiliki pasangan.


"Boleh. Kamu mau pergi ambil ya?" tanya Pandu yang langsung membuat mendapat anggukan dari Renita.


Tidak berapa lama, Renita kembali dengan membawa piring kecil berisi pudding coklat. Renita menyodorkan salah satunya yang segera diterima oleh Pandu.


"Terima kasih, Ren," ucap Pandu kemudian segera menyuapkan puding tersebut ke mulutnya. Namun saat gigitan pertama, Pandu merasakan rasa lain selain rasa coklat.


Pandu terus mengunyahnya dan mengambil potongan terakhir. Cukup nikmat dan nendang di lidah.


"Enak kan, Ndu?" tanya Renita tersenyum puas saat melihat wajah Pandu begitu menikmati kelembutan yang pudding itu berikan.


Pandu mengangguk. "Sangat enak," jawab Pandu dengan mulut penuh.


"Kita kesana saja yuk? Aku tidak bisa berada di keramaian terlalu lama, Ndu," ajak Renita memohon sambil menunjuk arah taman belakang.


Pandu mengangguk menyetujui saja. "Ayo," jawabnya kemudian tanpa sadar menggandeng lengan Renita.


Renita yang berjalan di belakang Pandu, mengulum senyum malu-malu. Dia begitu tersipu dengan perlakuan manis yang selalu Pandu berikan padanya.


Hingga keduanya tiba di taman belakang dan Pandu mengajak Renita untuk duduk di bangku berwarna putih di pinggir taman. Renita mengambil posisi duduk di samping Pandu dengan melipat satu kakinya bertumpu di satu kakinya.


Pandangan Pandu tertuju pada dinding langit yang tampak terang karena bintang-bintang bertabur ditemani dengan bulan sabit. Renita mengikuti arah pandang Pandu dan seketika terpana dengan pemandangan yang disuguhkan.


"Kamu suka melihat langit malam ya, Ndu?" tanya Renita yang membuat Pandu sontak menoleh.

__ADS_1


"Aku suka langit malam yang bertabur bintang. Itu juga Ily yang memperkenalkan. Ternyata menikmati malam dan angin yang berhembus, cukup membuat hati kita merasa tenang. Ily yang sudah memperkenalkannya," jawab Pandu dengan senyum yang terkembang sempurna.


Helaan napas kasar terdengar dari Renita. Saat Ily tidak ada disana, Pandu masih saja menyebut namanya. Seperti apa sih, cinta Ily? Sampai-sampai Pandu dibuat tergila-gila dan selalu menyebut namanya?


"Tetapi, nyatanya Ily tidak ada disini, Ndu. Jika Ily benar-benar mengutamakan kamu, Ily akan pergi bersamamu dan berada disini sekarang. Namun, justru aku yang ada disini. Harusnya kamu bisa memilih siapa yang benar-benar mencintai," ucap Renita mencibir sosok Ily.


Pandu membuang pandangan ke depan. "Jangan menjelekkan nama Ily," ucap Pandu tidak terima.


Renita hanya mampu menghela napas dan enggan memperpanjang perdebatan. Suasana hening seketika. Pandu dengan pemikirannya sendiri begitu juga dengan Renita yang sedang berpikir bagaimana caranya untuk merebut hati Pandu.


Dia sangat mencintai Pandu lebih dari cinta yang Ily berikan. Tetapi, Pandu seperti larut dalam cintanya pada Ily hingga sulit sekali berpaling. Hal itu membuat Renita susah untuk masuk di antara keduanya.


"Ndu?" panggil Renita lembut.


Pandu tidak menoleh. Namun, dia tetap menjawab. "Kenapa?" tanyanya sambil menikmati udara malam yang menusuk kulit.


Tanpa diduga, Renita menyetuh jemarinya yang berada di atas paha, menggenggamnya erat dengan mata menatap Pandu lekat-lekat.


"Aku tahu saat ini kamu terkejut. Tetapi, aku sudah tidak bisa menutupi perasaan di hatiku yang selalu meletup-letup jika sedang bersamamu. Aku tidak suka saat kamu selalu membanggakan Ily di depanku," lanjut Renita lagi.


Pandu segera menarik tangannya dari genggaman Renita. "Maaf, Ren. Seharusnya kamu tidak boleh mengucapkan hal itu. Aku ini sudah mempunyai kekasih dan kamu tahu itu," jawab Pandu menatap Renita dengan raut rasa bersalah.


Renita justru tersenyum. "Aku tahu jika saat ini kamu adalah kekasih Ily. Tetapi, aku rela jika menjadi yang kedua. Aku akan menjadi kekasih seperti versi yang kamu inginkan. Aku selalu ada untukmu disaat kamu membutuhkan. Yang pasti, cintaku akan lebih baik dari cinta Ily padamu," ucap Renita panjang lebar mengutarakan isi hatinya.


Pandu menggerjapkan matanya beberapa kali. Dia masih terlalu terkejut dengan pernyataan cinta yang Renita ungkapkan.


"Ndu? Jawab aku. Kamu masih bisa bersama Ily walaupun juga menjalin hubungan denganku. Aku tidak masalah jika harus menjadi yang kedua," ucap Renita lagi mencoba meyakinkan.

__ADS_1


"Tapi, Ren—"


"Aku tidak peduli, Ndu. Bukankah sudah ku katakan jika aku tela menjadi yang kedua? Ayolah, Ndu. Cobalah menjalin hubungan denganku. Setelah kamu mencobanya, kamu akan tahu siapa seseorang yang benar-benar tulus mencintaimu," sela Renita lagi yang membuat Pandu seketika mengangguk pasrah.


"Baiklah. Aku akan mencoba menjalin hubungan denganmu," jawab Pandu kemudian yang membuat Ily memekik girang.


"Yes!"


"Terima kasih, Ndu. Aku akan buktikan jika akulah yang terbaik untukmu," ucap Renita begitu bahagia dan percaya diri.


Pandu tersenyum tipis menatap betapa bahagianya Renita saat ini. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, nama Ily tentu takkan tergantikan. Entah bagaimana seiring berjalannya waktu. Apakah hatinya mampu berpaling? Untuk saat ini Pandu tidak ingin memusingkan itu. Dia ingin menjalani hubungan ini dengan nyaman tanpa perlu memikirkan banyak hal.


Sepulang dari acara, Pandu mengantarkan Renita kembali ke toko bunga dimana toko bunga itu juga menjadi rumahnya. Renita adalah anak sebatang kara yang tinggal sendiri dan menghidupi kebutuhannya sendiri.


Dari kacamata Pandu, Renita adalah sosok wanita mandiri yang tidak jauh berbeda dari Ily. Oleh karena itu, Pandu mereka nyaman dan cocok saat berbincang atau bersama Renita.


"Mau turun dulu, Ndu? Aku ada bunga spesial loh, untuk kamu," tawar Ily saat mobil telah berhenti melaju.


"Bolehlah. Bunga apa memangnya?" tanya Pandu yang kini sudah membuka pintu samping kemudi.


"Kamu akan tahu setelah turun."


Setelah turun, Renita menunjukkan bunga anggrek dengan jumlah yang terbatas. Bisa dibilang jika anggrek tersebut tidak banyak yang memiliki. Mungkin hanya sekitar dua dari lima karena memang pembudidayaanya yang sulit.


"Bagus kan, Ndu?" tanya Renita dengan mata yang berbinar.


Pandu menggerjapkan mata bingung. Bagus sih. Hanya saja, Pandu tidak tahu menahu soal budidaya bunga. Untuk membuat Renita bahagia, Pandu mengangguk mengiyakan saja.

__ADS_1


"Bagus," jawab Pandu singkat sambil kepalanya magut-magut.


Renita semakin melebarkan senyumnya dan Pandu semakin tidak tega jika dia sampai melunturkan senyum itu.


__ADS_2