Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 8. Hidup bersama mimpi


__ADS_3

Ily mendongak saat pintu ruangannya dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Tidak mungkin suster Gaby pelakunya karena saat ini dia sedang Ily tugaskan untuk mengecek para pasiennya.


Kebingungan Ily terjawab saat Pandu muncul dari bilah pintu dengan sebuket bunga mawar merah di tangan. Ily tersenyum lebar lalu beranjak dari kursinya.


"Selamat pagi dokter cantik," sapa Pandu lengkap dengan senyum manisnya.


"Selamat pagi Pak Dirut," jawab Ily sama hangatnya lalu memeluk sang Kekasih mesra.


Pandu memberikan kecupan di pelipis Ily cukup dalam hingga membuat Ily merasa nyaman. Pandu dan sentuhannya sudah menjadi candu bagi Ily.


"Ini untukmu. Maaf karena kemarin kamu datang dan aku tidak di rumah," ucap Pandu sambil menyerahkan sebuket bunga mawar berwarna merah.


Ily menerima dengan senang hati lalu menghidu aroma bunga tersebut. "Terima kasih, Ndu," ucap Ily lalu memeluk bunga itu erat.


"Sudah sarapan belum, Ndu?" tanya Ily sambil menuntun Pandu untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangan miliknya.


"Sudah. Tetapi jika kamu ingin mengajakku sarapan, kenapa tidak?" jawab Pandu lalu mengendikkan bahunya.


Ily terkekeh geli kemudian memeluk Pandu lagi cukup erat.


"Kamu kenapa manja sekali? Tidak biasanya seperti ini?" tanya Pandu sambil mengelus surai kecoklatan milik Ily.


Ily memejamkan mata merasakan sentuhan lembut itu. "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin seperti ini," jawab Ily klasik.


"Sebenarnya aku membawa roti selai coklat. Kalau kamu mau, aku satu kamu satu," kelakar Ily renyah.

__ADS_1


Pandu tersenyum lalu mengacak rambut Ily gemas. "Tidak perlu. Itu untukmu saja. Memangnya kamu belum sarapan?" tanya Pandu menatap Ily kesal.


"Sudah. Aku sudah sarapan. Ritual itu tidak boleh aku lewatkan begitu saja karena papa pasti akan marah. Roti itu untuk camilan," jelas Ily panjang lebar yang membuat Pandu menghela napas lega.


Pandu tidak menjawab. Tangannya bergerak menangkup kedua pipi Ily lalu di arahkan untuk menatapnya. Pandu tersenyum saat Ily hanya berkedip-kedip lucu.


Apalagi, bibir ranum Ily kini terlihat menggerucut. Pandu yang gemas memilih untuk menyesapnya sekilas.


Ily memejamkan mata saat sapuan lembut itu menyentuhnya bibirnya. Ada keinginan dalam diri untuk membalas sentuhan Pandu. Berakhirlah bibir keduanya saling bertaut dan memperdalam ciuman.


Hingga ada suara asing yang berhasil menyadarkan dan menyentak keduanya dari atas awan.


"Dokter Ily! Ada pasi—" ucap suster Gaby terputus lalu membekap mulutnya sendiri.


Ily menunduk lalu memejamkan matanya malu. Setelah itu, Ily beranikan diri untuk menatap asistennya. "Kenapa, Sus?" tanya Ily lembut.


"Maaf karena sudah mengganggu. Tapi ini sangat penting. Ada pasien yang kejang-kejang dan membutuhkan penanganan, Dok," jelas suster Gaby dengan menunduk dalam.


Ily melirik Pandu dengan penuh permohonan. Pandu menghela napas lalu mengangguk membiarkan Ily melakukan pekerjaannya.


"Pergilah. Aku akan menunggu. Tidak lama kan?" ucap Pandu sambil mengusap bibir Ily lembut. Dimana bibir itu masih terdapat jejak basahnya.


"Maaf, Ndu. Aku akan segera kembali," jawab Ily terburu-buru mengambil peralatan medisnya dan berlari keluar ruangan dengan diikuti suster Gaby.


Waktu bergulir lambat. Pandu yang masih setia menunggu Ily kembali nyatanya tak kunjung melihat kekasihnya itu. Padahal, hampir satu jam Ily keluar ruangan.

__ADS_1


Hingga Pandu merasa bosan lalu tertidur di sofa. Entah sudah berapa lama Pandu terlelap. Namun, saat dirinya bangun pun tak kunjung menemukan Ily datang.


Pandu menududukan diri dengan benar lalu mengusap wajahnya kasar. Saat melihat jam di pergelangan tangan, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit.


Kecewa dan marah seakan melingkupi perasaan Pandu saat ini. Masih saja Ily tak punya waktu bersama yang cukup.


"Entah sampai kapan aku bisa bertahan dalam kondisi hubungan yang seperti ini," monolog Pandu lirih.


Dengan langkah gontai, Pandu keluar dari ruangan Ily meninggalkan sesak dan hampa yang sulit sekali dijabarkan. Pandu sudah untuk yang kesekian kali.


Dia sadar bahwa semua itu adalah resiko karena menjalin hubungan dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter.


Namun, Pandu juga ingin mengatakan keinginannya, yaitu menikahi Ily dan menjadikan Ily ibu rumah tangga seutuhnya.


Tetapi, hal itu tidak akan terjadi karena Ily selalu hidup bersama mimpi-mimpinya yang belum terwujud. Mimpi yang menurut Pandu akan semakin menjauhkan hubungan di antara keduanya.


Sesaat setelah Pandu pergi, Ily kembali ke ruangan untuk menemui Pandu. Namun, sosok Pandu sudah tidak ada lagi di dalam ruangan tersebut.


Ily menatap nanar pada sofa dimana disana Pandu pernah duduk. "Sepertinya aku membuat Pandu marah lagi," lirih Ily dengan bahu merosot dan seperti tidak memiliki tenaga lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...hai, aku kasih pengumuman nih. jadi gini, dari bab 1-4 aku habis revisi karena ada saran dari editor yang mengatakan itu terlalu cepat. jadi, aku ganti lalu pada intinya, Pandu dan Renita belum menjalin hubungan🙈...


...maaf ya🙏🙂...

__ADS_1


__ADS_2