
Ily tersentak dari lamunan saat mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar. Tidak berapa lama, kepala dokter Bayu tampak menyembul dari balik pintu lengkap dengan cengirns khas-nya.
Ily melotot tajam. Jantungnya seakan memompa lebih cepat dari biasanya akibat ketukan pintu tadi. "Ada apa, Dok? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Ily sedikit jengah.
Bayu terkekeh pelan kemudian menampakan diri sepenuhnya namun tetap dalam posisi di ambang pintu. "Makan siang di luar yuk? Jomblo kan?" tanya Bayu yang terdengar seperti ledekan untuk Ily.
Ily menghela napasnya kasar kemudian duduk dengan memangku dagu. "Aku sedang malas keluar. Nanti biar suster Gaby saja yang belikan seperti biasa," jawab Ily menolak dengan halus.
Bayu kini melenggang masuk setelah mendengar kalimat penolakan dari Ily. "Jangan mau kalau nanti Ily menyuruh suster untuk membeli makanan," ucap Bayu sambil mendekat pada suster Gaby yang masih duduk rapi di kursinya.
"Aku masih mendengarnya ya, Bay. Kalau mau membicarakan orang lain seharusnya jangan di depannya langsung," peringat Ily yang memang mendengar ucapan Bayu kepada suster Gaby.
Walau suaranya lirih, tetap saja Ily mampu mendengarnya. Telinganya memiliki kepekaan luar biasa untuk menangkap sinyal-sinyal seperti itu.
Suster Gaby dan Bayu sontak tergelak. "Makanya. Ayo pergi makan denganku. Kali ini aku akan traktir. Siapa tahu dengan pergi makan denganku, rasa sakit dan patah hatimu bisa sedikit terobati," bujuk Dokter Bayu lagi tks kenal lelah.
Ily menimbang-nimbang terlebih dahulu. Tawaran Bayu memang sayang untuk dilewatkan. Mungkin saja, dengan pergi makan bersama Bayu akan membuat perasaanya membaik. Karena Ily sangat tahu bagaimana sikap Bayu yang suka sekali menjahilinya.
"Baiklah. Aku akan pergi. Janji ya? Dokter Bayu yang traktir?" tanya Ily membuat kesepakatan yang segera diangguki oleh Bayu.
__ADS_1
Keduanya pun berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit. Keduanya tampak akrab dengan saling mengobrol dan Bayu yang tidak bisa dipisahkan dari sikap jahilnya.
"Kamu pasti sudah tahu kan kalau Pandu dirawat disini?" tanya Bayu enthw bertujuan untuk apa.
Ily menoleh tajam karena lagi-lagi Bayu mengingatkannya tentang Pandu. "Kenapa sih? Kamu kepo sekali," kesal Ily kemudian saat melihat pintu lift terbuka, dia masuk lebih dulu diikuti Bayu.
"Ya Tuhan. Aku kepo darimana? Aku hanya mengabari jika Pandu ada di rumah sakit ini. Bilang saja sudah putus. Berarti, aku ada kesempatan untuk masuk ke hatimu kan?" ucap Bayu panjang lebar yang diakhiri dengan pertanyaan.
Ily ingin menjawab namun pintu lift sudah lebih dulu terbuka. Dia keluar lebih dulu lalu berbalik untuk menatap Bayu.
"Bisa tidak jangan membahas dia lagi? Atau aku batalkan saja makan siang kita?" ancam Ily tidak main-main.
Ily segera menepis tangannya yang di pegang tiba-tiba oleh Bayu. "Tidak perlu pegang-pegang bisa tidak sih? Heran," kesal Ily jengah.
Lagi-lagi Bayu menggumamkan maaf dan membiarkan Ily berjalan lebih dulu. Saat sudah sampai di kantin, Bayu segera bertindak untuk memesan makanan.
"Mau makan apa, Ly?" tanya Bayu yang sudah siap dengan pena dan buku catatan di tangannya.
"Aku ikut seperti biasa, Bay. Aku pemakan segala," jawab Ily memasrahkan menu makan siangnya pada Bayu.
__ADS_1
Bayu hanya menghela napas lalu segera berlalu dari hadapan Ily. Tidak berapa lama, Bayu kembali datang dengan membawa dua piring nasi.
Ily magut-magut saat melihat isi dari dua piring yang Bayu bawa. "Wah. Ini sih makanan kesukaan sekali, Bay," ucap Ily sumringah.
Bayu tersenyum lebar. "Makanlah, Ly. Ini sambalnya tetapi jangan banyak-banyak dalam mengonsumsinya," ucap Bayu sambil menyodorkan plastik mini berisi sambal warna merah.
"Aku masih sayang diri sendiri. Jadi, aku akan makan sesuai kemampuanku,"jawab Ily yang kini sudah menumpahkan setengah dari sambal di plastik.
Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang sedang menatap ke mereka dengan pandangan penuh luka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga kesini yuk👇...
...
...
__ADS_1