
Hari berganti dan itu membuat Pandu dan Ily kembali jarang bertemu. Entah Pandu yang sudah bosan karena harus datang pada Ily, atau Pandu yang mulai berubah arah.
Apalagi pada kenyataannya, Renita-lah yang selalu ada untuknya. Dia selalu rajin mengunjungi kantor walau dia juga memiliki segudang kesibukan.
Rasa nyaman itu mulai timbul dan membuat Pandu selalu ingin berada di dekat Renita. Berhubung hari ini weekend, Pandu memilih mengajak Renita mengunjungi pantai.
"Ren, aku sudah sampai di depan toko," ucap Pandu sesaat setelah panggilan diterima.
Tidak berapa lama, sosok Renita muncul dengan senyum manisnya. "Hai, Ndu. Mau ajak kemana nih?" tanya Renita penasaran sesaaat Setelah mendudukkan diri di jok penumpang samping kemudi.
"Ke pantai?" tanya Pandu meminta persetujuan.
"Kenapa tidak?" jawab Renita menyetujui.
Akhirnya, mobil melaju membelah jalanan ibu kota. Sepanjang jalan, keduanya saling mengobrol akrab tanpa ada yang ditutup-tutupi. Renita yang selalu perhatian akan hal-hal kecil membuat Pandu merasa senang. Seperti,
"Ndu? Kamu pakai kausnya kelipat itu bagian kerahnya. Sini, akan aku benarkan dulu," ucap Renita lalu tangannya terulur membenarkan kaus Pandu.
Pandu terpaku saat jemari lentik itu menyentuh lehernya. Beruntung, saat ini mobil sedang berhenti di lampu merah. Renita yang menyadari perubahan mimik wajah Pandu, akhirnya bertanya.
"Kenapa, Ndu? Mulai jatuh cinta padaku ya?" tanya Renita percaya diri. Begitulah dia. Renita dan kepercayaan dirinya tidak bisa dipisahkan lagi.
"Jangan kegeeran. Aku hanya terkejut saja," jawab Pandu lalu mengalihkan pandangan.
Beruntung, lampu merah kini telah berganti hijau. Sehingga, Pandu bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
Tidak berapa lama, akhirnya mobil yang dikendarai sudah sampai. Setelah memarkirkan dengan benar, keduanya turun tanpa menggunakan alas kaki.
__ADS_1
"Untung aku pakai kaos dan celana yang anti panas," ucap Renita saat berjalan di samping Pandu.
"Kalau kamu pakai gaun, nanti tinggal beli saja di sekitar sini. Banyak kok yang menjual kaos yang bahannya adem," sahut Pandu meledek keribetan Renita.
Pukulan pun berhasil mendarat di lengan kokoh Pandu. "Ish! Memangnya mau kemana pakai gaun? Paling cuma jalan-jalan sama kamu, aku tidak perlu serepot itu," jawab Renita yang kini pandangannya beralih pada pasir putih di tepian laut.
Pandu terkekeh geli. "Yakin tidak perlu serepot itu? Mau aku ingatkan tentang waktu itu?" goda Pandu yang membuat Renita semakin kesal dan ingin memukul Pandu. Namun, Pandu menghindar dengan cara berlari.
Terjadilah aksi kejar-kejaran di atas hamparan pasir putih itu. Keduanya seperti pasangan kekasih yang sedang di mabuk asmara. Hingga Renita merasa lelah dan menghentikan langkah. Napasnya terengah-engah karena langkah kecilnya tak mampu mengejar Pandu yang memiliki langkah lebar.
Pandu sontak berhenti dan menyusul Renita yang kelelahan. "Kenapa? Payah sekali baru lari beberapa meter saja sudah kelelahan," cibir Pandu lalu ikut mendudukkan diri di samping Renita.
Sang Gadis tidak menjawab karena kini wajahnya sudah pucat. Pandu yang sadar itu, segera bertanya. "Kamu kenapa, Ren? Kok muka kamu pucat? Kamu kelelahan?" tanya Pandu panik.
Renita memejamkan mata. "Aku butuh minum, Ndu. Capek ngejar kamu yang tidak mencintaiku," sindir Renita yang membuat Pandu mendengkus sebal.
"Ndu! Turunkan aku! Kamu apa-apaan sih," kesal Renita memberontak.
Mengabaikan protes Renita, Pandu membawa membawanya ke sebuah gazebo. Setelah berhasil menurunkan Renita, Pandu menghela napas lelah. "Kamu kecil-kecil berat juga ya? Kebanyakan dosa," cibir Pandu sambil berkacak pinggang.
Renita hanya mencebikkan bibirnya kemudian melihat Pandu punggung Pandu yang berlalu menuju stan penjual minuman dan beberapa camalin.
Tidak berapa lama, Pandu kembali dengan membawa minuman dan beberapa camilan di tangan. "Nih, minum dulu. Aku beli yang minuman isotonik agar kamu tidak pucat seperti itu," ucap Pandu sambil menyodorkan minuman.
Renita menerimanya dan langsung meneguk minuman tersebut hingga hampir habis. Pandu melongo karena minuman itu begitu cepat berpindah.
"Kamu seperti sedang berjalan di gurun pasir lalu menemukan mata air," cibir Pandu lagi lalu meneguk minumannya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ndu. Akhirnya aku bisa bertenaga lagi," ucap Renita yang kini matanya terlihat berbinar.
Pandu mengangkat kepala untuk menatap Renita yang duduk bersila di hadapannya. "Itu ada sesuatu di wajah kamu," tunjuk Pandu ketika matanya menemukan pasir di area wajah Renita.
"Dimana?" tanya Renita bingung.
"Itu," tunjuk Pandu lagi karena Renita tak kunjung menemukan kotoran tersebut.
Pandu berdecak lalu tangannya terulur mengusap pipi Renita lembut. Hal itu berhasil membuat Renita terpaku di tempat.
Apalagi, kini wajah Pandu jaraknya begitu dekat.
Menyadari keterdiaman Renita, Pandu akhirnya menunduk dan matanya langsung bertemu tatap dengan pemilik netra coklat. Sangat dekat hingga Pandu bisa merasakan hembusan napas Renita yang menerpa wajahnya.
Dari jarak sedekat ini, Pandu baru menyadari jika Renita sangatlah cantik. Lebih cantik daripada dilihat dari jarak dekat.
Bulu mata yang lentik, alis yang tebal, hidung mancung, dan Pandu bisa melihat bibir tebal Renita yang diperkirakan sangat kenyal. Pandu terpesona untuk pertama kalinya.
Hingga Renita berdehem dan hal itu berhasil mengalihkan perhatian Pandu. Keduanya saling menjauh dengan salah tingkahnya.
Pandu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal begitu juga dengan Renita.
"Sudah," ucap Pandu memecah kecanggungan.
"Ha! Apanya?" tanya Renita cengo.
Damn it! Pandu mengumpat karena melihat wajah Renita yang begitu menggemaskan. Pandu menghembuskan napasnya kasar.
__ADS_1
"Itu, pipi kamu sudah bersih," jawab Pandu lalu pura-pura membuat gerakan meneguk minuman.