Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 29. Kasar


__ADS_3

Pandu setia duduk terdiam di atas brankar. Pikirannya melanglang buana memikirkan Ily. Dalam hati, Pandu bertanya-tanya mengapa hatinya merasa kosong setelah kepergian gadis itu?


Renita yang saat ini menemani, rasanya tidak membuat Pandu terganggu sama sekali. Bu Soraya dan Larina baru saja pulang untuk mengambil baju ganti untuk Pandu. Sedangkan Larina, dia harus pergi kuliah.


"Ndu? Kenapa melamun terus?" tanya Renita sedikit kesal.


Pandu masih diam dan enggan menjawab. Pikirannya teringat pada ucapan Larina yang mengatakan jika Tuhan sudah mengatur jodohnya sebagai seorang dokter karena Pandu memiliki banyak alergi pada makanan.


Apa iya, Ily adalah takdir cintanya? Lalu bagaimana dengan Renita?


"Ndu! Kamu masih marah padaku? Aku benar-benar tidak tahu jika kamu memiliki alergi terhadap stroberi. Tolong maafkan aku dan bicaralah padaku," rengek Renita sedikit meninggikan suaranya.


Pandu tersentak dan menoleh untuk bertemu tatap dengan Renita. "Kenapa? Kamu barusan mengatakan apa?" tanya Pandu gelagapan.


Renita tersenyum kecut. Dia tahu jika saat ini Pandu sedang memikirkan Ily. Apalagi, saat Pandu sudah mengetahui jika yang menolong nyawanya adalah Ily.


Renita merasa, dirinya hanya manusia tidak berguna dan terlalu banyak menyusahkan. Tidak seperti ini yang bisa menyembuhkan Pandu dalam waktu beberapa menit. Sedangkan dirinya, hanya bisa menangis dan tidak bisa berpikir dengan baik.


"Kamu masih marah padaku?" tanya Renita sambil menunduk dalam.


Pandu menggeleng. "Tidak. Aku tidak marah. Ini bukan sepenuhnya kesalahan kamu. Aku saja yang tidak teliti dengan apa yang akan aku makan," jawab Pandu yang nyatanya tidak mampu mengurangi rasa bersalah di hati Renita.


Diam mengisi suasana yang tercipta di antara keduanya. Pandu melirik sekilas jam di layar ponselnya dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit.


"Ren? Pulanglah. Ini sudah malam dan kamu harus beristirahat," ucap Pandu yang justru terdengar seperti mengusir.

__ADS_1


Renita yang merasa tersinggung, hanya bisa mengangguk pasrah. Menganggap bahwa Pandu masih marah padanya.


"Baiklah. Aku akan pulang dan datang lagi besok pagi," jawab Renita pada akhirnya.


Pandu mengangguk dan mempersilahkan Renita untuk pergi. "Hati-hati, Ren," ucap Pandu sebelum Renita benar-benar menghilang dari balik pintu.


.............


Pagi harinya, saat Ily baru saja keluar dari mobil, tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang dari arah belakang. Ketika menoleh, Ily bisa melihat Renita yang menatap ke arahnya dengan raut wajah marah.


"Lepas! Tidak sopan sekali kamu!" kesal Ily lalu menyentak tangan Renita kasar. Tatapan Ily begitu kesal dan seperti ingin mencabik-cabik wajah Renita yang berada di hadapannya.


"Bagaimana bisa Pandu masih tetap mencintaimu setelah apa yang sudah kamu lakukan padanya? Hal itu tidak sepadan dengan apa yang aku lakukan untuknya," kesal Renita mulai meluap.


Ily yang mendengar itu, mengembuskan napasnya kasar. "Karena sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas tanpa mengharap apapun, hasilnya pasti akan baik. Begitu juga sebaliknya," jawab Ily santai.


Ily terperengah. Mulutnya sudah menganga tidak percaya dengan ucapan gadis di depannya. "Kapan aku menemui Pandu? Tidak ada tuh," kesal Ily tidak habis pikir.


"Sudah ya. Kamu benar-benar membuang waktuku yang berharga," ucap Ily jengah kemudian akan segera berlalu dari sana. Namun belum sempat Ily melangkah, Renita kembali bertindak dengan mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke lantai paving parkiran.


"Aw!" pekik Ily kesakitan ketika tubuh bagian belakang menghantam paving.


Tanpa ada niat untuk membantu, Renita justru melipat lengan di depan dada lengkap dengan senyum miringnya.


Ily berusaha bangkit walau tubuhnya terasa sakit. Dia harus membalas perlakuan buruk wanita di depannya. Renita sudah keterlaluan dan meluaki fisiknya.

__ADS_1


"Begitu saja sudah kesakitan. Mulai hari ini, jangan lagi menampakkan diri di depan Pandu atau kamu—"


Plak!


Ucapan Renita terhenti ketika tiba-tiba merasakan tamparan keras di pipinya. Bukan Ily pelakunya, melainkan Bu Soraya.


Ily begitu terkejut walau dalam hati merasa senang. Ya. Tidak memungkiri bahwa Ily senang karena Renita mendapatkan balasan atas tindakan kasarnya.


"Oh. Jadi kamu yang sudah merusak hubungan anakku dengan Ily? Kamu ternyata dalang di balik semua ini. Cih, dasar tidak punya malu," cibir Bu Soraya kesal.


Ily mencoba menenangkan bu Soraya dengan memegangi bahunya dan berkata. "Sudah, Tan. Tidak perlu mengotori tangan Tante dengan bertindak seperti itu. Aku tidak apa-apa kok, Tan."


Renita tampak berkaca-kaca karena tamparan barusan. Bukan hanya fisiknya saja yang lebam, hatinya juga merasakan lebam dimana-mana. Bagaimana tidak? Ibu dari Pandu seperti terang-terangan tidak menerima dirinya sebagai kekasih Pandu.


Renita jelas tahu dari sikap yang ditunjukkan bu Soraya. Dan mengingat hal itu, hati Renita semakin nyeri rasanya. Dia cukup sadar diri bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga kaya raya.


"Kenapa Tante hanya membela dia? Apakah Tante tidak tahu jika selama ini Pandu kesepian? Dia memiliki kekasih namun kekasihnya justru sibuk dengan pekerjaan," ucap Renita mencoba membela diri dengan menjelekkan nama Ily.


Namun sayang, hal itu tidak mampu membuat bu Soraya beralih membelanya. "Oh ya? Berarti bukan Ily yang salah disini. Tetapi, Pandu yang bersikap kekanak-kanakan," jawab bu Soraya lalu memegang bahu Ily.


"Ayo, Ly. Kita tidak perlu menghabiskan waktu kita disini. Ayo masuk," ajak Bu Soraya sambil menuntun Ily.


Renita yang merasa diabaikan, mengepalkan kedua tangannya. Tatapannya tertuju pada punggung dua wanita yang sudah melukai harga dirinya.


"Awas saja. Aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangiku dalam memiliki Pandu. Tidak ibunya jika adik perempuannya," gumam Renita menggebu-gebu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungannya ya😍...


__ADS_2