
Tubuh Ily terasa lelah karena belum istirahat sejak tadi hingga menjelang siang tepatnya pukul sebelas. Sesekali Ily hanya meminum air untuk mengisi tenaganya.
Sekarang, Ily merasa tenaganya telah diperas habis-habisan. Tetapi, itu sebanding dengan hasil yang Ily dapatkan. Dia telah berhasil menyelematkan nyawa-nyawa yang hampir berjatuhan jika tidak ditangani dengan segera.
Setelah masuk ke ruangan miliknya, Ily duduk di kursi kerja dan menyandarkan bahu pada bahu kursi. Rasanya nikmat sekali beristirahat seperti ini. Suster Gaby saat ini sedang keluar untuk membeli makanan. Mereka membutuhkan tenaga lagi untuk kemudian bergelut dengan pekerjaan.
"Ini sangat nyaman. Sepertinya aku harus memejamkan mata beberapa saat atau tidur sejenak agar tenagaku bisa kembali," monolog Ily kemudian segera melakukannya.
Entah sudah berapa lama Ily terlelap. Namun, saat ada suara pintu ruangan terbuka, Ily membuka matanya. Dokter Bayu muncul dari sana.
Ily yang kesadarannya belum sepenuhnya kembali, masih menyandarkan tubuh di kursi. Pikirannya masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Dokter Ily? Apa kamu baik-baik saja?" tanya dokter Bayu sambil membuat gerakan naik-turun di depan wajah Ily.
Ily menggerjap kemudian segera menegakkan tubuh. Suara dokter Bayu berhasil menyadarkan Ily dari alam bawah sadar. "Huh! Sepertinya aku baru saja tertidur," ucap ily sambil meraup wajahnya kasar.
"Aku ganggu ya? Maaf sekali," jawab dokter Bayu dengan raut bersalahnya.
Ily menggeleng. "Justru aku harus bangun karena sebentar lagi suster Gaby pasti kembali," jawab Ily sambil mengulas senyumnya.
"Duduk dulu, Dok. Aku mau ke toilet dulu untuk cuci muka," pamit Ily kemudian segera masuk ke ruangan yang ada di sudut yang tidak lain adalah toilet.
Sesampainya di dalam, Ily segera membasuh wajahnya dengan air dingin beberapa kali. Hingga merasa cukup, Ily mengelap wajah dengan handuk kecil yang tergantung dan disediakan untuk mengelap wajah. Sedangkan untuk mengelap tangan, ada handuk sendiri.
Ily keluar dari toilet dan Bayu kini telah duduk di sofa ruangan. Ily mengambil posisi duduk di sebelah Bayu dan memberi jarak beberapa jengkal.
"Ada apa, Dok?" tanya Ily sambil menatap profil samping Bayu.
Dokter Bayu nampak menghela napasnya kasar. "Sebenarnya aku berat mengatakannya. Melihat kamu yang kelelahan, sepertinya kamu butuh untuk istirahat," ucap Bayu merasa tidak enak hati.
__ADS_1
Ily mengernyit bingung. Mencoba mencerna maksud dari ucapan dokter Bayu. Setelah sadar, Ily akhirnya bersuara. "Mau memintaku untuk lembur ya, Dok?" tebak Ily dengan senyum tanpa bebannya.
Bayu menyengir. Ily memang tahu dengan gerak-geriknya yang tampak berbeda. "Maaf ya. Lagi-lagi kamu harus berkerja ekstra karena aku," ucap Bayu merasa tidak enak hati.
Ily menggeleng dengan senyum terulas sempurna. "Jangan meminta maaf, Dok. Ini memang sudah menjadi tugasku sebagai dokter. Seharusnya, Dokter tidak perlu datang kesini. Biar aku saja yang datang ke ruangan Dokter," jawab Ily yang kini menjadi pihak yang tidak enak hati.
"Kenapa memangnya?" tanya Bayu dengan alis yang mengernyit heran.
"Ya aku tidak enak saja. Masa ada kepala dokter datang ke rumahan bawahannya? Harusnya, bawahan yang datang ke ruangan atasan kan? Setidaknya dokter bisa memanggilku untuk datang ke ruangan," jelas Ily panjang lebar.
Bayu terkekeh. "Mungkin hanya kamu yang membuatku tertarik untuk datang ke ruangannya. Dokter lain aku tidak terlalu minat," jawab Bayu yang kini sudah duduk menyamping agar perhatiannya tertuju pada Ily sepenuhnya.
"Nah justru karena itu. Mereka pasti akan menganggap Dokter pilih kasih. Terus, belum lagi aku yang akan dituduh yang tidak-tidak dan aku tidak suka menjadi buah bibir dari mereka," jelas Ily lagi yang berhasil membuat senyum Bayu memudar.
Bayu menunduk menatap jemarinya. Setelah terdiam cukup lama, Bayu kembali mendongak. "Baiklah. Lain kali aku akan panggil kamu ke ruanganku saja," ucap Bayu lesu.
Bayu kini sudah beranjak dari berlalu begitu saja meninggalkan ruangan Ily. Ily yang tidak ingin mengambil pusing, hanya mengangkat bahunya acuh.
...............
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Tubuh Ily rasanya semakin lelah karena diperas habis-habisan. Ily btuh istirahat dan tidur nyenyak agar tenaganya bisa kembali.
Namun, ada satu hal yang mengganjal hatinya saat Ily akan pulang ke rumah. Pandu belum menghubunginya seharian ini. Lelah yang sudah menumpuk seakan bertambah lelah hanya karena Pandu tidak menghubungi atau mengirim pesan padanya.
Huuft...
Ily menghembuskan napasnya kasar saat sudah duduk di bangku kemudi. Dia ingin ke rumah Pandu. Namun, badan yang lelah dan kondisi hubungannya dengan Pandu yang sedang tidak baik, membuat Ily mengurungkan niatnya.
"Aku tidak mungkin membujuk Pandu dalam keadaan lelah ssperti ini. Bisa-bisa, emosiku akan terpancing dan itu akan memperburuk hubunganku dengan Pandu. Mungkin, nanti menunggu aku libur hari Minggu. Aku akan datang ke rumah Pandu," monolog Ily lelah.
__ADS_1
Mobil Ily melaju membelah jalanan kota yang sedikit lengang. Mungkin, orang-orang sudah pulang pukul lima tadi. Tidak berapa lama, mobil yang Ily kendarai berhenti di depan pekarangan rumahnya.
Ily langsung membawa mobilnya masuk garasi karena setelah ini Ily tidak akan kemana-mana.
"Selamat malam, Pa," sapa Ily pada pak Guntur yang kini sedang duduk di ruang tengah dengan televisi yang menyala menayangkan berita di Indonesia.
"Selamat malam. Kamu lembur lagi, Ly?" jawab pak Guntur kemudian mengulurkan tangan untuk dicium punggung tangannya oleh sang Putri.
Ily mengangguk membenarkan. Dia mengambil posisi duduk di sebelah sang Papa dan memeluk sosok cinta pertamanya. Ily memejamkan mata dan menelusupkan wajahnya di dada milik sang Papa.
Tiba-tiba ada tangan besar yang mengelus puncak kepalanya. Ily tahu jika itu adalah ayahnya. "Ily?" panggil pak Guntur lembut.
"Hm?" jawab Ily hanya berula gumaman. Berada di pelukan sang Papa membuat Ily nyaman dan mengantuk.
"Cobalah kamu cari waktu untuk diri kamu sendiri. Apa sih sebenarnya yang kamu cari? Mengapa kamu harus bekerja siang malam? Sesekali kamu butuh merenung untuk menentukan apa tujuan hidup kamu. Papa saja yang hanya melihat kamu berangkat pagi pulang malam sudah sangat lelah. Apalagi kamu yang menjalankan," nasehat pak Guntur.
Dia juga tidak tega melihat putrinya disibukkan dengan pekerjaan. Dia ingin putrinya mengurus usaha yang dibangun oleh dirinya saja. Namun, Pak Guntur tidak mau memaksa saat Ily begitu bercerita dengan menggebu-gebu dan mengatakan ingin menjadi seorang dokter.
Entah mengapa, pak Guntur merasa Ily seperti terjebak dalam cita-cita yang saat ini telah dicapainya.
"Aku senang bisa bekerja sebagai dokter, Pa," jawab Ily masih setia memejamkan mata.
"Oh ya? Lalu apa tujuan kamu hingga sampai di titik ini? Apa kamu memiliki tujuan khusus?" tanya pak Guntur yang membuat Ily membuka mata dan melepas pelukannya.
"Ya karena aku ingin menyembuhkan orang-orang yang membutuhkan," jawab Ily logis.
"Sampai harus lupa memperhatikan diri sendiri? Padahal, kesehatan sendiri adalah hal yang paling utama. Papa lihat, kamu seperti tidak punya tujuan dan ... Kehilangan arah mungkin," tebak pak Guntur menduga-duga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...jangan lupa kasih dukungannya dengan cara like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian ya😘...